- Masa pemberian makanan pendamping ASI merupakan fase krusial dalam tumbuh kembang bayi. Asupan nutrisi nan masuk selama periode MPASI menentukan kualitas pertumbuhan bentuk serta perkembangan otak si Kecil secara optimal.
Namun, perjalanan menyajikan makanan bernutrisi sering kali menemui tantangan ketika makanan terasa tawar dan bayi mulai menolak makan. Menjaga kualitas rasa agar senantiasa menggugah selera tanpa mengabaikan kelengkapan gizi menjadi kunci utama agar setiap suapan memberikan faedah maksimal.
Apakah MSG Boleh untuk MPASI?
Pemberian MSG pada menu MPASI pada dasarnya diperbolehkan oleh para ahli, namun ada waktu nan tepat untuk memulainya. Mengingat organ ginjal bayi di bawah usia 12 bulan tetap dalam tahap perkembangan, pengenalan rasa alami dari bahan makanan kudu selalu diutamakan.
Penambahan MSG sebaiknya ditunda hingga bayi berumur di atas 12 bulan, alias hanya digunakan dalam jumlah sangat mini dan sesekali saat bayi mengalami hambatan susah makan nan banget parah. Saat memberikan penyedap rasa ini, perihal krusial nan perlu diperhatikan adalah mengawasi respons serta tingkat sensitivitas tubuh si Kecil. Selain itu, porsi nan digunakan kudu sangat terbatas agar rasa alami masakan tetap mendominasi.
Apa Itu MSG dan Mengapa Digunakan dalam MPASI?
Monosodium Glutamat merupakan garam natrium dari masam glutamat, ialah jenis masam amino non-esensial nan berkedudukan memberi rasa gurih alami alias umami. Glutamat sendiri sebenarnya sudah tidak asing bagi bayi lantaran terkandung melimpah secara alami di dalam ASI. Proses pembuatan MSG diproduksi secara higienis melalui fermentasi bahan alami seperti tetes tebu, mirip dengan proses pembuatan kecap alias yoghurt.
Foto: Shutterstock.com
Perbedaan mendasar antara MSG dan garam dapur biasa terletak pada kandungan natriumnya. MSG mengandung natrium nan jauh lebih sedikit, ialah hanya sekitar 12 persen, sedangkan garam dapur biasa mencapai sekitar 39 persen. Dengan kadar natrium nan hanya sepertiga dari garam biasa, MSG menjadi pengganti efektif untuk melezatkan masakan MPASI secara efisien.
Manfaat MSG untuk MPASI
Penggunaan MSG pada MPASI membawa sejumlah faedah praktis nan dapat mempermudah proses makan si Kecil. Terlebih, MSG adalah rasa gurih nan terbukti bisa merangsang produksi air liur serta cairan pencernaan di dalam lambung, sehingga membantu penyerapan nutrisi makanan secara lebih optimal.
Kehadiran rasa umami ini sangat efektif mengatasi masalah saat bayi malas makan akibat sajian nan hambar, sekaligus membikin ragam rasa MPASI menjadi lebih beragam dan menarik. Selain itu, MSG membantu mengurangi penggunaan garam dapur dalam masakan. Strategi ini sangat baik untuk mendukung pola makan rendah garam tanpa kudu mengorbankan cita rasa masakan nan disukai anak.
Cara Menggunakan MSG untuk MPASI
Mengolah MPASI dengan MSG memerlukan langkah dan patokan nan tepat agar manfaatnya terasa maksimal. MSG kudu digunakan dalam takaran nan sangat sedikit dan sesuai kebutuhan, hanya sebagai penambah rasa dan bukan cita rasa utama. Cara terbaik adalah menambahkan MSG setelah bahan makanan selesai dimasak alias matang.
Penggunaan bahan makanan utuh nan bergizi tinggi serta kaldu dan rempah alami kudu selalu diprioritaskan. Selalu perhatikan total asupan natrium harian dari seluruh sajian MPASI agar berada dalam pemisah kondusif bagi tumbuh kembang si Kecil.
Foto: Shutterstock.com
Nantinya, setelah lulus MPASI si mini bisa langsung menikmati real food nan biasa jadi favorit keluarga. Si mini bakal sigap terbiasa dengan rasa lezat masakan rumahan. Misalnya, ibu bisa mencoba resep cah kangkung nan bergizi nan gurih. Selain itu, ada pula resep tempe mendoan nan rendah minyak tapi rasanya tetap nagih.
Caranya? Tambahan sedikit MSG justru efektif menonjolkan cita rasa alami bahan makanan, sehingga penggunaan garam dapur bisa dikurangi tanpa membikin rasa masakan jadi hambar. Trik sederhana ini bikin santap berbareng family tetap terasa nikmat sekaligus menjaga asupan natrium harian tetap kondusif bagi kesehatan.
(brl/lak)
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·