Seskab Teddy(dok.istimewa)
DIREKTUR Eksekutif lembaga survei dan konsultan Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, mengapresiasi sikap Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya nan dinilai tidak melindungi dan memilih mengabaikan beragam serangan individual di media sosial, tapi tetap cekatan dalam mengurus negara.
Pola komunikasi impersonal nan meminimalkan drama individual dan memaksimalkan penjelasan berbasis info tersebut dinilai sebagai fondasi krusial nan dibutuhkan pemerintahan saat ini untuk menjaga stabilitas nasional dan menekan kegaduhan publik nan tidak produktif.
Menurut Iwan, di era digital seperti sekarang ini, pejabat negara memang kudu pandai mengelola dan menguasai strategi komunikasi. Langkah Seskab Teddy memilah respons ini menjadi sorotan krusial di tengah dinamika konsolidasi kabinet.
“Bagi saya, sikap Seskab Teddy nan tidak defensif, memilih mengabaikan serangan personal, patut diapresiasi,” kata Iwan, Selasa (2/6).
Lebih lanjut, Iwan memaparkan sejumlah kompetensi mendasar nan idealnya melekat pada setiap pejabat publik dalam berinteraksi dengan masyarakat. Kemampuan tersebut mencakup penguasaan materi, ketepatan menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi, kepekaan membaca ilmu jiwa publik, hingga pendekatan nan persuasif.
Dalam perihal ini, Teddy dinilai bisa memenuhi kriteria tersebut dengan tidak memanfaatkan posisi strategisnya untuk menanggapi sinisme nan mengarah pada pribadinya.
"Teddy tidak menggunakan privilege-nya sebagai Seskab dan semua orang tahu, Teddy lah nan paling dekat dengan Presiden. Bahkan saya sering menyatakan bahwa Teddy ini merupakan salah satu pejabat nan menjadi jagoan Presiden," ungkapnya.
Kontras dengan sikap tenangnya dalam menghadapi serangan personal, Teddy justru dinilai menunjukkan performa dan kedisplinan nan tinggi ketika dihadapkan pada tugas-tugas kelembagaan. Iwan memandang ritme kerja Seskab sangat bergerak dalam menyelesaikan urusan negara.
"Namun, jika menyangkut tugas dan tanggung jawabnya sebagai Seskab dalam urusan negara, dia paling gesit dan cekatan. Kalau kita perhatikan aktivitasnya di media sosial, Teddy seperti tidak mengenal capek, apalagi dari pagi ketemu pagi," jelas Iwan.
Di akhir penjelasannya, Iwan kembali menegaskan bahwa pilihan untuk bekerja dalam senyap dari drama pribadi namun tegas pada urusan substansi info negara adalah kunci krusial untuk meminimalkan polarisasi.
"Memang, komunikasi nan impersonal nan meminimalkan drama individual dan memaksimalkan penjelasan berbasis data, merupakan fondasi nan memang dibutuhkan pemerintahan saat ini untuk menjaga stabilitas nasional, menekan kegaduhan di publik nan tidak produktif, dan berpotensi memecah belah bangsa," pungkasnya. (Cah/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·