Musim pemilihan presiden sudah lama usai. Panggung pidato telah dibongkar, baliho-baliho raksasa sudah diturunkan, dan para kandidat mungkin sudah kembali duduk melingkar sembari menyeruput kopi di kembali layar. Namun, jika kita menyelami riuh rendah media sosial, "perang" seolah belum betul-betul selesai. Menghujat mantan rival politik tetap menjadi menu harian nan disantap dengan lahap oleh sebagian netizen kita.
Sebagai mahasiswa nan sedang berkompetisi dengan tumpukan kitab pegangan kuliah nan isinya patokan main mencari kebenaran—supaya tidak mudah dibohongin kebenaran tiruan di semester dua—saya memandang kejadian ini bukan sekadar soal fanatisme buta. Ini adalah sebuah seram epistemologis: kita sedang merayakan kematian logika di atas altar kebencian.
Dosa Logika dalam Kolom Komentar
Di ruang kelas, kami diajarkan bahwa inti dari penyelidikan ilmiah adalah kejujuran dalam membedah fakta. Namun di bumi nyata, logika sering kali ditekuk-tekuk demi memuaskan rasa benci. "Dosa" paling kolosal nan sering kita temui adalah Argumentum Ad Hominem.
Sederhananya, Ad Hominem terjadi ketika kita menyerang karakter, fisik, alias kehidupan pribadi seseorang untuk meruntuhkan argumennya. Bayangkan seorang mantan paslon memberikan kritik tentang ekonomi, lampau dibalas dengan komentar, "Alah, urus dulu itu anak istrimu, baru bicara negara!"
Secara logika, ini adalah sesat pikir nan fatal. Apakah kegagalan domestik seseorang otomatis membikin info ekonominya salah? Tentu tidak. Namun, di mata publik nan sudah telanjur benci, serangan pribadi ini terasa seperti "skakmat". Kita lebih suka memandang orang "berdarah-darah" secara karakter daripada kudu capek beradu data.
Candu Kebencian dan Kacamata Kuda
Kenapa kita begitu pecandu menghujat? Di sinilah bias konfirmasi bekerja layaknya kacamata kuda. Dalam logika ilmiah, seorang peneliti semestinya melakukan falsifikasi mencari bukti nan bisa menyanggah pendapatnya sendiri agar temuannya objektif. Namun kita? Kita justru menjadi kolektor info satu arah.
Kita hanya mengikuti akun nan menghina mantan paslon tersebut, menonton potongan video nan mempermalukan mereka, dan menutup mata rapat-rapat saat mereka melakukan sesuatu nan benar. Kita tidak sedang mencari kebenaran; kita hanya sedang mencari pembenaran atas kebencian nan kita pelihara.
Lebih jauh lagi, ada jebakan berjulukan ‘Post Hoc Ergo Propter Hoc’ namalain "salah sambung". Banyak dari kita menyalahkan segala perihal jelek nan terjadi saat ini kepada mantan paslon nan tidak kita pilih, seolah-olah jika jagoan kita nan menang, bumi bakal seketika jadi surga. Ini adalah kegagalan dalam memandang kompleksitas masalah. Masalah bangsa ini multifaktor, tapi logika kita sering kali mau nan instan: cari kambing hitam, lampau hujat sampai puas.
Generalisasi nan Terburu-buru
Di jagat digital, kita juga sering terjebak dalam Hasty Generalization. Dalam penelitian, mengambil konklusi besar dari sampel mini adalah kecacatan prosedur. Namun, kita melakukannya setiap detik. Kita dengan mudah melabeli jutaan pendukung paslon tertentu sebagai "bodoh" alias "antidemokrasi" hanya lantaran memandang satu video viral dari seorang oknum berdurasi 15 detik.
Secara logika ilmiah, ini adalah lompatan konklusi nan berbahaya. Kita berakhir memandang manusia sebagai perseorangan nan kompleks dan mulai memperlakukan mereka sebagai nomor statistik nan seragam dan cacat. Kita kehilangan keahlian untuk memahami realitas sosial nan sebenarnya lantaran kemalasan berpikir.
Logika sebagai Sikap Hidup
Sebagai mahasiswa, saya merenung: jika calon intelektual masa depan juga terseret arus hatespeech nan nir-logika, lantas siapa nan bakal menjaga kewarasan publik? Apakah kita bakal membiarkan algoritma media sosial nan memang didesain untuk memicu emosi dan mendikte gimana langkah kita berpikir?
Logika penyelidikan ilmiah bukan hanya soal menghitung statistik di atas kertas. Ia adalah sebuah sikap hidup. Ia adalah keberanian untuk mengakui bahwa orang nan tidak kita sukai mungkin saja betul dalam satu hal, dan orang nan kita puja bisa saja salah dalam perihal lain.
Berhenti menghujat mantan paslon bukan berfaedah kita menjadi lemah alias "pindah haluan". Justru, itu adalah tanda kedewasaan intelektual. Kita mulai memisahkan mana sentimen pribadi dan mana kritik objektif. Kita belajar menyerang gagasan, bukan menghancurkan kemanusiaan.
Pastinya politik bakal selalu tentang perebutan kekuasaan. Namun, logika kita adalah tembok terakhir nan tidak boleh runtuh. Jika kita terus memelihara sesat pikir hanya demi kepuasan sesaat memandang musuh jatuh, sebenarnya kitalah nan sedang kalah. Kita kalah oleh ego, kalah oleh algoritma, dan nan paling menyedihkan, kita kalah oleh ketidaktahuan kita sendiri. Jika kita terus membiarkan ego mengontrol jempol, segala diktat kuliah nan kita lahap setiap hari hanya bakal berhujung menjadi tumpukan kertas tanpa makna, kandas menjadi sinar nan semestinya menerangi gelapnya prasangka di kepala kita sendiri.
Akhirnya, menjadi logis di tengah lautan emosi memang melelahkan, tapi itulah tugas sejarah seorang terpelajar. Kita tidak sedang memihak mantan paslon tertentu; kita sedang memihak logika sehat kita sendiri agar tidak meninggal diisap algoritma. Esok hari—saat kembali membuka media sosial dan jempol terasa gatal untuk melontarkan makian—berhentilah sejenak.
Ingatlah bahwa kualitas sebuah bangsa tidak diukur dari siapa nan menang dalam pemilu, tetapi dari seberapa dewasa masyarakatnya dalam mengelola perbedaan tanpa kudu kehilangan kemanusiaannya. Mari kita berpolitik dengan kepala dingin, lantaran hanya dengan begitu, kerakyatan kita dapat betul-betul bernapas.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·