Sering Lemas dan Susah Fokus? Waspadai Gejala Penurunan Hormon Testosteron pada Pria

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sering Lemas dan Susah Fokus? Waspadai Gejala Penurunan Hormon Testosteron pada Pria ilustrasi(Magnific)

TUBUH nan mudah lelah, berkurangnya konsentrasi konsentrasi, hingga penurunan antusiasme seksual sering kali dianggap sekadar pengaruh wajar dari penuaan. Padahal, rentetan keluhan tersebut bisa menjadi sinyal utama penurunan kadar hormon testosteron dalam tubuh pria.

Mengutip dari laman Alodokter, testosteron dikenal sebagai hormon utama pada laki-laki lantaran berkedudukan krusial dalam beragam kegunaan tubuh, mulai dari menjaga libido, membentuk massa otot, meningkatkan energi, hingga mendukung perkembangan organ reproduksi saat masa pubertas. 

Meski identik dengan pria, hormon ini juga diproduksi dalam jumlah mini di tubuh wanita dan mempunyai peran dalam menjaga kesehatan reproduksi serta meningkatkan antusiasme seksual.

Pada pria, testosteron diproduksi oleh testis, sedangkan pada wanita hormon ini dihasilkan oleh ovarium. Pada wanita, testosteron bekerja berbareng hormon estrogen untuk membantu pembentukan sel darah merah, memengaruhi proses pelepasan sel telur, serta menjaga kegunaan reproduksi.

Kapan Kadar Testosteron Dianggap Normal?

Kadar testosteron setiap orang berbeda berasas jenis kelamin dan usia. Pada laki-laki dewasa, kadar testosteron normal umumnya berada di kisaran 250–1.100 nanogram per desiliter (ng/dL), dengan rata-rata sekitar 680 ng/dL. Beberapa penelitian juga menyebut kadar optimal berada pada rentang 400–600 ng/dL.

Produksi testosteron mulai meningkat saat pubertas dan mencapai puncaknya sekitar usia 20 tahun. Setelah memasuki usia 30 tahun, kadar hormon ini secara alami bakal menurun sekitar 1% setiap tahun. Karena itu, laki-laki berumur di atas 65 tahun umumnya mempunyai kadar testosteron normal sekitar 350–450 ng/dL.

Sementara itu, wanita dewasa mempunyai kadar testosteron nan jauh lebih rendah, ialah sekitar 8–60 ng/dL lantaran hormon tersebut hanya diproduksi dalam jumlah kecil.

Gejala nan Perlu Diwaspadai

Penurunan kadar testosteron tidak hanya memengaruhi kehidupan seksual, tetapi juga dapat berakibat pada kondisi bentuk dan psikologis. Salah satu keluhan nan paling sering muncul adalah tubuh nan mudah capek meski tidak melakukan aktivitas berat.

Setidaknya ada 7 indikasi nan perlu diwaspadai untuk menjaga kadar testosteron tetap stabil:

  1. Tubuh mudah capek alias lemas.
  2. Gairah seksual (libido) menurun.
  3. Frekuensi ereksi berkurang dan gangguan kesuburan.
  4. Massa serta kekuatan otot menurun.
  5. Lemak tubuh dan kadar kolesterol meningkat.
  6. Tulang menjadi lebih rapuh.
  7. Gangguan mental, seperti depresi, susah tidur, menurunnya rasa percaya diri, serta gangguan konsentrasi dan daya ingat.

Apa Penyebabnya?

Ada beragam aspek nan dapat memicu penurunan kadar testosteron pada pria. Selain proses penuaan, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh jangkitan alias cedera pada testis, gangguan pada kelenjar tiroid maupun kelenjar pituitari, glukosuria jenis 2, pengaruh samping obat-obatan tertentu, kelainan genetik, stres, hingga kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

Karena gejalanya dapat menyerupai beragam masalah kesehatan lain, pemeriksaan ke master diperlukan untuk memastikan apakah keluhan nan dialami memang disebabkan oleh rendahnya kadar testosteron. 

Kadar Testosteron Berlebih Juga Patut Diwaspadai

Selain kadar nan terlalu rendah, testosteron nan berlebihan juga dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Pada pria, kadar testosteron nan tinggi memang dikaitkan dengan faedah seperti membantu menjaga tekanan darah dan menurunkan akibat obesitas maupun penyakit jantung. Namun, kelebihan hormon ini juga dapat meningkatkan kecenderungan melakukan perilaku berisiko, seperti hiperseks, penyalahgunaan alkohol, kebiasaan merokok, hingga tindakan impulsif nan berpotensi menyebabkan cedera.

Sejumlah master kesehatan menyarankan laki-laki mulai memantau kadar testosteron secara berkala setiap lima tahun sejak usia 35 tahun. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hormon terlalu rendah disertai indikasi tertentu, master dapat mempertimbangkan terapi hormon sesuai kondisi masing-masing pasien.

Selain itu, perubahan style hidup juga berkedudukan krusial dalam menjaga keseimbangan hormon. Rutin berolahraga, terutama olahraga berintensitas tinggi sesuai kemampuan, menghentikan kebiasaan merokok, mengurangi konsumsi alkohol, serta menerapkan pola hidup sehat dapat membantu menjaga kadar testosteron tetap normal.

(Alodokte/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia