Ekonomi Malaysia Tumbuh 5,8%, Kian Dekat Jadi Negara Berpendapatan Tinggi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi di Malaysia. Foto: zairiazmal/Shutterstock

Malaysia sekarang hanya 7,1 persen di bawah periode pemisah pendapatan tinggi Bank Dunia berkah ekspansi ekonomi sebesar 5,8 persen pada kuartal II tahun ini.

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, mengatakan pemerintah bakal memastikan momentum ini bakal diterjemahkan menjadi produktivitas nan lebih tinggi, lapangan kerja berkualitas, dan peningkatan pendapatan bagi penduduk Malaysia.

"Ekonomi tumbuh 5,8 persen, inflasi tetap terkendali di 1,9 persen, dan pengangguran di nomor 3,0 persen. Malaysia saat ini hanya 7,1 persen di bawah periode pemisah pendapatan tinggi," katanya dalam pidatonya di peluncuran OECD Economic Surveys: Malaysia 2026, dikutip dari The Star, Rabu (29/7).

"Ini adalah angka-angka nan menggembirakan, tapi melampaui periode pemisah itu bukanlah tujuan akhir. nan krusial adalah apakah pertumbuhan menghasilkan bayaran nan lebih baik, lebih banyak lapangan kerja berkualitas, dan daya beli nan kuat bagi masyarakat Malaysia," lanjutnya.

Akmal mengatakan laporan independen dan berasas bukti ini bakal menjadi referensi krusial untuk memperkuat penerapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Malaysia ke-13 (13MP), 2026-2030, dan mempercepat reformasi ekonomi struktural Malaysia.

Pada 2025, pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita Malaysia meningkat jadi RM 57.200 alias sekitar USD 13.351 dibandingkan dengan periode pemisah pendapatan tinggi Bank Dunia sebesar USD 14.375.

Ia mengatakan pemerintah mempertahankan sasaran pertumbuhan tahunan antara 4-5 persen untuk 2026, didukung oleh permintaan dalam negeri, investasi swasta, ekspor dan sektor-sektor intensif teknologi, termasuk semikonduktor dan pusat data.

OECD Economic Surveys: Malaysia 2026 juga mengidentifikasi memastikan investasi dalam pendidikan dan training menghasilkan produktivitas dan pendapatan nan lebih tinggi sebagai tantangan struktural utama, dengan mencatat bahwa 36,6 persen pekerja berilmu tinggi merupakan pekerja nan bekerja di bawah tingkat kualifikasi alias keterampilan.

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi di Malaysia. Foto: Abdul Razak Latif/Shutterstock

Ia mengatakan, di bawah 13MP pemerintah bakal memperkuat penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan memperluas pendidikan dan training kejuruan dan teknik (TVET), Akademi di Industri (AII), dan program peningkatan keahlian di bagian semikonduktor, AI, dan ekonomi digital.

"Ketika 36,6 persen pekerja berilmu tinggi tetap berada dalam pekerjaan di bawah tingkat keahlian mereka, kita tidak dapat mengukur keberhasilan hanya dengan jumlah lulusan saja. Pendidikan dan training kudu mengarah pada pekerjaan berbobot tinggi, produktivitas nan lebih kuat, dan bayaran nan mencerminkan keahlian pekerja,” katanya.

Sementara itu, defisit fiskal federal menyempit dari 5,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2022 menjadi 3,7 persen pada tahun 2025.

Pemerintah tetap berkomitmen untuk mengurangi defisit menjadi tiga persen alias lebih rendah pada tahun 2030 melalui support nan lebih tepat sasaran dan pengurangan kebocoran sembari melindungi golongan rentan.

“Kami telah mengurangi defisit dari 5,5 persen menjadi 3,7 persen dan menargetkan 3 persen alias lebih rendah pada tahun 2030. Konsolidasi fiskal bukan tentang menarik support dari rakyat. Ini tentang memastikan bahwa setiap ringgit digunakan secara lebih efektif untuk pendidikan, perawatan kesehatan, dan infrastruktur,” ujarnya.

Untuk memperkuat produktivitas, Undang-Undang Komitmen Efisiensi Layanan Pemerintah 2025 (UU Iltizam) menetapkan sasaran pengurangan beban izin nan tidak perlu sebesar 25 persen selama tiga tahun.

Ia mengatakan melalui Satuan Tugas Khusus untuk Memfasilitasi Bisnis (Pemudah), Kementerian Ekonomi bakal mengidentifikasi persetujuan upaya berakibat tinggi untuk tinjauan menyeluruh, dengan standar jasa nan lebih jelas, keputusan nan lebih dapat diprediksi, dan akuntabilitas nan lebih kuat untuk keterlambatan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan