Sering Craving Makan Manis Saat Stres? Ini Penjelasan Medisnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Sering Craving Makan Manis Saat Stres? Ini Penjelasan Medisnya. Foto: Shutterstock

Ladies, pernah nggak sih lagi capek alias banyak pikiran, tiba-tiba pengen banget minum kopi susu alias makan dessert manis? Rasanya seperti penyelamat mini di tengah hari nan berat. Setelah itu, mood memang terasa sedikit lebih baik, walaupun hanya sebentar. Momen seperti ini rupanya dialami banyak orang, terutama saat tubuh sedang capek secara emosional.

Kebiasaan ini bukan sekadar soal selera alias kebetulan semata. Ada proses biologis nan terjadi di dalam tubuh ketika kita merasa stres. Hormon dan unsur kimia di otak ikut berkedudukan dalam menentukan apa nan kita inginkan untuk dikonsumsi. Menariknya, makanan manis sering jadi jawaban dari kebutuhan tersebut.

Saat Stres, Tubuh Kita Minta Gula

Saat Stres, Tubuh Kita Minta Gula. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock

Ketika sedang stres, tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Hormon ini tidak hanya memicu rasa tegang, tapi juga meningkatkan nafsu makan. Di saat nan sama, kita jadi lebih tertarik pada makanan tinggi gula, lemak, dan karbohidrat. Itulah argumen pilihan seperti cokelat alias kopi susu terasa lebih menggoda.

Di sisi lain, kadar dopamin dan serotonin di otak justru menurun saat stres. Padahal, kedua unsur ini berkedudukan krusial dalam mengatur rasa senang dan kenyamanan. Tubuh kemudian mencari langkah sigap untuk mengembalikan keseimbangan tersebut. Salah satunya adalah lewat konsumsi gula nan bisa meningkatkan kedua hormon itu secara instan.

Kenapa Efeknya Cepat Hilang?

Meski bisa bikin mood terasa lebih baik, pengaruh dari makanan manis rupanya tidak memperkuat lama. Rasa nyaman biasanya hanya berjalan sekitar 20 sampai 30 menit. Setelah itu, kadar dopamin kembali turun dan tubuh kembali ke kondisi semula. Di titik ini, kemauan untuk makan manis lagi bisa muncul.

Hal ini membikin pola craving jadi berulang tanpa disadari. Kita seperti masuk ke siklus nan sama setiap kali stres datang. Semakin sering dilakukan, tubuh bakal semakin terbiasa dengan pola tersebut. Akhirnya, makanan manis jadi semacam pelarian utama saat emosi sedang tidak stabil.

Dokter ahli gizi klinik, dr. Jovita Amelia, MSc, Sp.GK, menjelaskan bahwa pengaruh ini mirip dengan pola adiktif.

“Karena efeknya hanya sementara, jadi konsumsi gula menyebabkan pelepasan dopamin di otak seperti obat-obatan addictive,” jelasnya.

Boleh Nggak Sih Self-Reward dengan Makanan Manis?

Boleh Nggak Sih Self-Reward dengan Makanan Manis? Foto: Hakase_420/Shutterstock

Memberi reward pada diri sendiri dengan makanan manis sebenarnya sah-sah saja. Apalagi setelah menjalani hari nan melelahkan, perihal mini seperti ini bisa terasa menyenangkan. Selama dilakukan sesekali, kebiasaan ini tidak bakal menjadi masalah. Justru bisa jadi corak self-care nan sederhana.

Namun, nan perlu diperhatikan adalah frekuensinya. Kalau setiap stres selalu direspons dengan makanan manis, tubuh bisa mulai berjuntai pada pola tersebut. Lama-lama, jumlah gula nan dibutuhkan untuk merasa “puas” juga bisa meningkat. Ini nan berpotensi berakibat pada kesehatan dalam jangka panjang.

Selain itu, konsumsi gula berlebih juga bisa memengaruhi berat badan dan metabolisme tubuh. Risiko seperti glukosuria alias gangguan kesehatan lain juga bisa meningkat. Karena itu, krusial untuk mulai mengenali pola ini sejak awal. Bukan untuk melarang, tapi agar bisa lebih seimbang.

Cara Mengurangi Craving Manis Saat Stres

Cara Mengurangi Craving Manis Saat Stres. Foto: Shutterstock

Kalau lagi stres dan craving manis datang, ada pengganti lain nan bisa dicoba. Aktivitas seperti olahraga ringan bisa membantu meningkatkan dopamin secara alami. Bahkan jalan kaki singkat saja sudah bisa membantu memperbaiki mood.

Selain itu, pola makan juga bisa berpengaruh. Konsumsi makanan tinggi protein serta nan kaya magnesium dan folat seperti kacang-kacangan dan sayuran hijau bisa membantu menjaga kestabilan emosi. Nutrisi ini berkedudukan dalam mendukung produksi hormon nan berangkaian dengan mood. Jadi efeknya lebih stabil dan memperkuat lebih lama.

Istirahat nan cukup juga tidak kalah penting. Tubuh nan kelelahan condong lebih mudah mencari pelarian instan, termasuk makanan manis. Kamu juga bisa mencoba aktivitas relaksasi seperti yoga, meditasi, alias melakukan kegemaran nan disukai. Dengan begitu, kebutuhan emosional tetap terpenuhi tanpa kudu selalu berjuntai pada gula.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan