Menjadi pemahaman umum bahwa melakukan perawatan berkala seperti mengganti oli mesin, merupakan sebuah tanggungjawab demi menjaga performa jantung mekanis tetap prima.
Sebagian berpatokan pada jarak tempuh alias kilometer, sementara sebagian lainnya mengikuti hitungan bulan. Lalu, mana nan sebenarnya lebih tepat?
Service Advisor Suzuki Sunter Buana Indomobil Trada, Suwandi menjelaskan bahwa kedua patokan tersebut sama-sama krusial dan kudu digunakan secara bersamaan.
Dalam kondisi pemakaian normal, oli mesin idealnya diganti setiap 6 bulan alias ketika kendaraan telah menempuh jarak 10.000 kilometer, tergantung mana nan tercapai lebih dulu.
Artinya, pemilik mobil nan rutin digunakan setiap hari dan sigap menambah jarak tempuh kemungkinan bakal lebih dulu mencapai pemisah kilometer. Sebaliknya, bagi kendaraan nan jarang digunakan, patokan waktu enam bulan tetap perlu diperhatikan meski nomor odometer tetap rendah.
"Jadi bukan memilih salah satu. Kalau sudah 10 ribu kilometer walaupun belum 6 bulan ya ganti. Sebaliknya jika belum 10 ribu kilometer tapi sudah 6 bulan, tetap sebaiknya diganti," jelas Suwandi kepada kumparan, Jumat (19/6).
Jam kerja mesin jadi penentu
Meski demikian, Suwandi mengingatkan bahwa nomor odometer tidak selalu bisa dijadikan referensi tunggal. Dalam kondisi penggunaan tertentu, kualitas oli dapat menurun lebih sigap meskipun jarak tempuh kendaraan tetap tergolong rendah.
Salah satu aspek nan perlu diperhatikan adalah engine hour alias lamanya mesin beraksi dalam kondisi menyala. Faktor ini kerap luput dari perhatian pemilik kendaraan, padahal sangat memengaruhi umur pakai pelumas.
"Ada beberapa kebiasaan pemilik kendaraan nan menyebabkan kualitas oli menurun meski kilometer tetap sedikit. Misalnya angkot nan mesin tetap menyala, tetapi lebih sering tak bersuara alias 'ngetem' istilahnya," ujar Suwandi.
Fenomena serupa rupanya juga banyak terjadi pada mobil pribadi, terutama nan digunakan di kota-kota besar dengan tingkat kemacetan tinggi.
Kebiasaan terjebak macet dalam waktu lama alias menunggu di dalam mobil dengan mesin dan AC tetap menyala membikin oli tetap bekerja meskipun kendaraan tidak bergerak jauh. Dalam kondisi seperti ini, penurunan kualitas pelumas bisa berjalan lebih sigap dibanding kendaraan nan melaju normal dengan jarak tempuh nan sama.
Sebagai ilustrasi, mobil nan terbiasa idle selama sekitar 30 menit setiap hari bakal mengalami tambahan beban kerja mesin nan setara dengan kendaraan melangkah sekitar 25 kilometer per hari.
Jika diakumulasikan selama enam bulan, mesin sebenarnya telah bekerja setara ribuan kilometer tambahan meskipun mobil lebih banyak tak bersuara di tempat.
"Itu menunggu waktu saja, maka baiknya dia tukar oli setiap 7 ribu kilometer," tambah Suwandi.
Karena itu, pemilik kendaraan perlu menyesuaikan agenda penggantian oli dengan pola penggunaan mobil masing-masing. Bagi mobil nan digunakan harian dengan mobilitas tinggi dan jarang mengalami kemacetan panjang, patokan 10.000 kilometer alias 6 bulan tetap relevan untuk diikuti.
Namun bagi kendaraan nan lebih sering menghadapi kemacetan berat, sering digunakan dalam kondisi idle, alias apalagi kendaraan operasional nan mesinnya menyala dalam waktu lama, agenda penggantian oli dapat dimajukan menjadi sekitar 7.000 kilometer.
Suwandi juga menceritakan pengalamannya saat mencoba memasang perangkat pengukur waktu mesin hour meter pada unit Suzuki Karimun Wagon R miliknya. Mengambil rute harian dari BSD menuju Pulogadung via jalur kombinasi tol dan arteri, dirinya menemukan kebenaran menarik.
Ketika mobil kompak tersebut menyentuh jarak 7.000 kilometer, mesinnya tercatat sudah beraksi selama kurang lebih 200 jam engine hour.
Berdasarkan beberapa referensi literatur mekanis nan dibacanya, nomor operasional tersebut rupanya sudah setara dengan standar mesin generator set alias genset.
"Beberapa referensi nan saya baca, mesin genset biasanya tukar oli antara 150-250 jam," papar Suwandi.
Temuan tersebut menjelaskan kenapa dalam beberapa kasus mekanik menemukan endapan alias kerak pada komponen internal mesin meski pemilik kendaraan merasa sudah disiplin mengganti oli berasas nomor kilometer.
Selain itu, kondisi pendinginan mesin saat kendaraan melangkah dan saat tak bersuara juga berbeda. Ketika mobil melaju, ruang mesin mendapat aliran udara alami nan membantu menurunkan suhu kerja. Sementara saat kendaraan berakhir dengan mesin tetap menyala, proses pendinginan lebih banyak berjuntai pada kipas radiator.
Sebagai tambahan, Suwandi membagikan langkah sederhana untuk memantau kondisi oli. Menurutnya, pemilik kendaraan justru perlu berprasangka andaikan oli tetap terlihat sangat cerah setelah digunakan lebih dari 2.000 kilometer.
Sebab, oli nan bekerja dengan baik mengandung aditif detergen nan bekerja mengikat kotoran hasil pembakaran. Karena itu, perubahan warna menjadi lebih gelap merupakan perihal nan wajar seiring pemakaian.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·