Jakarta, CNBC Indonesia - Regional CEO 4 PT Pupuk Indonesia (Persero), Wisnu Ramadhani menyampaikan bahwa, per 14 April 2026 pelunasan pupuk bersubsidi Pupuk Indonesia di Indonesia Timur mencapai 332.255 ton. Angka ini meningkat 125% dibandingkan tahun 2025 di periode nan sama.
"Pupuk Indonesia terus berupaya untuk memastikan penyaluran pupuk bersubsidi tetap stabil, di tengah tatangan geopolitik dunia," ungkap dia dikutip Senin (20/4/2026).
Hal ini disebabkan keahlian Pupuk Indonesia dalam memproduksi pupuk Urea, dengan pasokan bahan baku gas alam di dalam negeri serta strategi diversifikasi sumber bahan baku pupuk lainnya nan diperoleh dari negara-negara di luar wilayah konflik.
Adapun kenaikan pelunasan pupuk bersubsidi di Indonesia bagian Timur, tambahnya, tidak lepas dari penyederhanaan izin pengedaran pupuk nan dijalankan Pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 tahun 2025. Bahkan, Pemerintah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20% sejak 22 Oktober 2025.
Ditambah lagi, Pemerintah pada 2026 juga memberikan alokasi pupuk bersubsidi bagi sektor perikanan. Hal ini memberikan kemudahan akses pupuk bagi petani lebih baik lagi.
Lebih lanjut dia memastikan, stok pupuk bersubsidi di Indonesia bagian Timur dalam kondisi baik. Pupuk-pupuk ini siap ditebus petani terdaftar sesuai dengan alokasi.
Pupuk Indonesia juga memastikan bahwa Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) alias kios/pengecer bakal melayani petani terdaftar sesuai dengan HET nan ditetapkan pemerintah.
"Stok (pupuk bersubsidi) dalam kondisi nan lebih dari cukup. Menurut info kami, stok nan ada di penyimpanan dapat memenuhi kebutuhan petani selama empat hingga lima minggu ke depan," tambah Wisnu.
Pupuk Indonesia juga mengimbau untuk memerangi info tidak betul alias hoaks. Khususnya berangkaian dengan pupuk bersubsidi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Harapannya, program-program perusahaan dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat," tutupnya.
(dpu/dpu)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·