Selat Hormuz Dibuka, tapi Jangan Senang Dulu

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Proses pemulihan arus lampau lintas maritim di Selat Hormuz diprediksi memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah tercapainya kesepakatan politik untuk membuka kembali jalur tersebut. Para pelaku industri dan master maritim memperingatkan adanya tantangan logistik nan besar untuk mengurai antrean panjang kapal komersial nan menumpuk selama bentrok berlangsung.

Mengutip CNBC, Kamis (18/6/2026), nota kesepahaman (MoU) nan ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu malam menetapkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh tanpa pungutan biaya oleh Iran selama minimal 60 hari.

Kabar tenteram ini awalnya langsung menekan nilai minyak mentah bumi hingga merosot ke bawah level US$80 per barel, seiring angan pasar bakal pulihnya pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) setelah nyaris empat bulan tersendat akibat perang.

Mengapa Pembukaan Kembali Selat Hormuz Rumit?

Meskipun kesepakatan diplomatik di atas kertas telah tercapai, pemulihan pasokan bentuk ke pasar agar nilai tetap stabil di bawah US$80 per barel dinilai bakal melangkah sangat kompleks dan bertahap. Hingga saat ini, para operator kapal, otoritas pelabuhan, dan perusahaan daya di area Teluk tetap dalam posisi menunggu lantaran masalah teknis logistik dan agunan keamanan belum terselesaikan secara konkret.

"Skenario nan paling mungkin terjadi adalah pembukaan kembali secara bertahap, dengan beberapa corak sistem manajemen lampau lintas laut nan melibatkan Iran dan Oman. Namun, pertanyaan nan belum terjawab tetap signifikan: apakah kapal memerlukan izin sebelumnya, apakah Iran bakal mengenakan biaya layanan, apakah pengawalan angkatan laut asing diterima, dan apakah ranjau alias akibat residual lainnya memerlukan proses pembersihan," ungkap Adam Sharpe, Wakil Presiden Editorial di Lloyd's List Intelligence kepada CNBC.

Sharpe menambahkan bahwa tidak ada preseden sejarah untuk memulai kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz setelah mengalami gangguan besar dengan sifat destruktif seperti perang ini. Sebelum bentrok pecah, info Lloyd's List Intelligence menunjukkan volume lampau lintas mingguan kapal kargo di Selat Hormuz berkisar antara 650 hingga 770 kapal, alias setara dengan 90 hingga 110 pelayaran per hari dari kedua arah navigasi.

Di sisi lain, lembaga intelijen ekonomi QuantCube Technology melaporkan bahwa info pelayaran mereka belum menunjukkan adanya lonjakan signifikan pada volume keberangkatan ekspor minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), ataupun Irak. Di wilayah Dammam Arab Saudi nan mencakup kompleks ekspor Ras Tanura, kapal-kapal tanker nan telah selesai memuat muatan dilaporkan terpaksa dikirim ke lepas pantai hanya untuk ikut mengantre.

"Sejak 8 Juni, kapal tanker nan berangkat dari Dammam menghabiskan waktu nan jauh lebih lama untuk mengapung jangkar sebelum keberangkatan. Hal ini menunjukkan bahwa antrean kapal kemungkinan besar telah terbentuk di lepas pantai, alih-alih di akomodasi pelabuhan," jelas Alan Lemangnen, ahli ekonomi senior di QuantCube kepada CNBC.

Sementara itu, sebagian besar arus minyak mentah UEA nan sukses menembus Selat Hormuz selama masa perang dilakukan dengan metode "berlayar gelap" (going dark), ialah mematikan sistem navigasi GPS kapal demi menghindari penemuan radar musuh. Firma riset Kpler menilai aktivitas pelayaran gelap ini kemungkinan besar tetap bakal terus bersambung sampai Washington dan Teheran mencapai pemahaman norma nan betul-betul klir mengenai kebebasan navigasi internasional.

Seberapa Besar Antrean Kapal di Hormuz?

Dampak gangguan pada rantai pasok dunia diproyeksikan bakal tetap terasa lama meskipun pasokan daya mulai pulih secara perlahan. Berdasarkan catatan berkala nan dirilis oleh Kpler, diperkirakan ada sedikitnya 118 kapal tanker bermuatan penuh nan saat ini tetap terdampar dan terjebak di dalam area Teluk Persia.

Para analis Kpler memperkirakan antrean ratusan kapal tersebut bakal memerlukan waktu sekitar 10 hingga 15 hari hanya untuk dapat keluar dari selat. Kendati demikian, mereka mengingatkan bahwa penurunan antrean awal ini murni merupakan pengaruh mekanis instan dari pembukaan jalur, bukan mencerminkan pemulihan kapabilitas keluaran mendasar nan berkelanjutan.

Mengingat ada ratusan kapal nan mengantre, skala prioritas akses masuk menjadi perihal nan sangat krusial di lapangan. Para master industri memperkirakan kapal tanker minyak dan kapal pengangkut LNG bakal mendapatkan prioritas utama lantaran urgensi kebutuhan pasar global, sehingga membikin kapal kontainer dan kargo peralatan lainnya kudu menghadapi penundaan operasional nan jauh lebih lama.

"Penentuan prioritas mungkin tidak murni berasas pertimbangan komersial. Otoritas berkuasa kemungkinan juga bakal mempertimbangkan letak kapal, arah perjalanan, bendera negara, kepemilikan, akibat politik nan dirasakan, jenis kargo, kondisi keselamatan, dan apakah kapal tersebut telah menyerahkan info transit nan diperlukan. Ketidakpastian terbesar adalah apakah perihal ini bakal ditangani secara transparan alias melalui keputusan operasional ad-hoc," tambah Sharpe menjelaskan kerumitan di lapangan.

Masalah Asuransi dan Pemeriksaan Keamanan

Sebelum lampau lintas pelayaran kapal komersial dapat kembali normal, pasukan angkatan laut internasional kudu melakukan sertifikasi dan memastikan bahwa koridor transit tersebut telah sepenuhnya aman, di mana proses ini diperkirakan menyantap waktu beberapa hari. Setelah itu, perusahaan asuransi akibat perang kudu mengaktifkan kembali cakupan perlindungan mereka, lantaran tanpa adanya agunan asuransi, pemilik kapal dipastikan menolak untuk menggerakkan armada mereka.

Otoritas keamanan di Oman, UEA, dan Iran juga perlu melakukan koordinasi ketat mengenai pengaturan jalur pelayaran, sistem konvoi, serta jendela waktu transit nan aman. Pada saat nan sama, kru kapal nan sebelumnya diposisikan untuk rute pengalihan kudu diaktifkan kembali, melakukan pengisian bahan bakar ulang, serta dijadwalkan ulang.

"Underwriter (penanggung asuransi) bakal meminta bukti lingkungan operasi nan stabil dan dapat diprediksi: transit kondusif nan konsisten, tidak ada gangguan, kejelasan akibat ranjau, dan tidak ada eskalasi baru. Penetapan nilai premi kemungkinan bakal tetap sangat sensitif terhadap bendera kapal, kepemilikan, keterkaitan dengan Israel alias AS, riwayat perdagangan, dan jenis kargo. Penurunan premi tambahan nan berkepanjangan bakal berjuntai pada volume transit historis nan dipertahankan dan kepercayaan bahwa pembukaan kembali ini tidak dapat dibatalkan," kata Sharpe.

Selain masalah manajemen asuransi, komponen keamanan bentuk berupa pembersihan ranjau laut nan ditanam selama bentrok juga menjadi aspek penentu kecepatan pemulihan jalur. Kerja sama pembersihan ranjau antara militer Iran dan Amerika Serikat diprediksi bakal melangkah lambat.

"Sampai ada kepastian penuh bahwa tidak ada ranjau, prosesnya bakal melangkah lambat dan menyantap waktu beberapa minggu lantaran hanya ada jalur sempit nan tersedia secara aman. Setelah kejelasan mengenai ranjau diamankan, maka prosesnya bisa kurang dari satu minggu. Namun saya merasa banyak pihak nan bakal sangat berhati-hati pada awalnya," tulis Nikos Petrakakos, kepala pelaksana manajer investasi maritim Tufton via email kepada CNBC.

Sharpe menyamakan kondisi psikologis pasar saat ini dengan situasi di Laut Merah sebagai perbandingan, di mana banyak operator pelayaran tetap enggan untuk kembali melintas meskipun golongan Houthi memberikan sinyal gencatan senjata, lantaran tidak adanya bukti keamanan jangka panjang nan konsisten di lapangan.

Kapan Pengiriman Melalui Hormuz Normal?

Pihak Kpler memproyeksikan sebagian besar kapabilitas produksi Timur Tengah bakal kembali dalam hitungan minggu, bukan bulan, namun kepastian kapan komoditas tersebut dapat diekspor secara bebas ke pasar internasional tetap menjadi tanda tanya besar. Faktor penentunya berada pada seberapa sigap koordinasi antara otoritas pelabuhan, perusahaan asuransi, dan perusahaan pelayaran dapat melangkah harmonis.

Meskipun proses pengosongan awal antrean 118 tanker dalam 10 hingga 15 hari ke depan bakal menciptakan lonjakan lampau lintas nan terlihat masif di radar, kembalinya kapabilitas throughput normal bakal menyantap waktu lebih lama. Hal ini disebabkan oleh tetap tingginya tarif premi asuransi, lambatnya pemeriksaan keamanan laut, serta sikap kehati-hatian para operator kapal.

Dampak Pembukaan Terhadap Harga Minyak

Lembaga finansial Goldman Sachs langsung memangkas prediksi nilai minyak mentah bumi menyusul pengumuman Trump mengenai tercapainya nota kesepahaman tenteram tersebut. Goldman Sachs menurunkan perkiraan nilai minyak jenis Brent menjadi US$80 per barel untuk kuartal keempat tahun 2026 dari prediksi sebelumnya sebesar US$90 per barel, serta mematok nilai rata-rata US$75 per barel untuk tahun 2027.

Meski begitu, dalam jangka pendek, pergerakan nilai minyak mentah diprediksi bakal tetap berada di bawah tekanan pasar nan fluktuatif.

Dalam catatan resminya, Goldman Sachs menilai pemulihan pasokan di lapangan berpotensi melesat lebih kuat dari perkiraan awal, di mana volume aliran minyak di area Teluk diperkirakan telah meningkat ke level 11 juta barel per hari berkah kombinasi pembukaan arus Selat Hormuz serta optimasi rute pengalihan darurat.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News