Selama 10 Tahun, Suami Antar Istri PP Pacitan–Jogja untuk Cuci Darah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Siti Rochmatin, pasien kandas ginjal nan menjalani cuci darah di di Klinik Hemodialisis Nitipuran, Bantul dengan support JKN. Foto: Dok. Istimewa

Hari tetap sangat pagi ketika Siti Rohmatin tiba di Klinik Hemodialisis Nitipuran, Bantul. Pukul 06.00 WIB, dua jarum dipasang pada lengan kirinya. Melalui selang bening, darah mengalir ke mesin untuk disaring sebelum kembali ke tubuhnya. Selama sekitar lima jam, perangkat itu menggantikan kegunaan ginjalnya nan tak lagi bekerja.

Beberapa jam sebelumnya, wanita asal Pacitan, Jawa Timur, itu kudu menempuh perjalanan sekitar 4,5 jam berbareng suaminya, Suharto, untuk mencapai klinik tersebut.

Rutinitas itu mereka jalani dua kali sepekan selama nyaris sepuluh tahun. Artinya, sudah lebih dari seribu kali Siti menjalani hemodialisis untuk membantunya memperkuat hidup.

Sekitar pukul 01.30 WIB, Suharto menghidupkan sepeda motor di depan rumah mereka di Pacitan. Sementara itu, Siti menyiapkan map berisi arsip pengobatan. Dari Kota Seribu Satu Goa, mereka menempuh perjalanan sekitar 4,5 jam menuju Klinik Hemodialisis Nitipuran di Bantul.

Di tengah perjalanan, mereka biasa berakhir sejenak untuk menunaikan salat Subuh di Wonosari sebelum kembali melaju ke klinik.

Rutinitas itu mereka jalani setiap Rabu dan Sabtu selama nyaris sepuluh tahun. Jalan nan sama terus mereka lintasi. Bukan lantaran ingin, melainkan agar pengobatan Siti tidak terputus.

Vonis nan Mengubah Arah Hidup

Klinik Hemodialisis Nitipuran, Bantul. Foto: Pandangan Jogja

Semua bermulai pada 2010. Saat itu, Siti tak pernah menyangka hipertensi nan diidapnya perlahan merusak kegunaan ginjal. Ia juga tak rutin memeriksakan tekanan darah. Hingga akhirnya tubuhnya memberi tanda: tenaga mudah terkuras, tubuh membengkak, dan mual tak kunjung reda.

"Gagal ginjal dari hipertensi. Tiba-tiba tinggi, nggak pernah dicek sebelumnya. Tahu-tahu sudah kandas ginjal. Dulu lemas, bengkak, mual," tutur Siti kepada Pandangan Jogja, (3/4.

Vonis kandas ginjal kronis mengubah kehidupan pasangan itu. Sejak saat itu, hemodialisis menjadi bagian dari hidup Siti untuk menggantikan kegunaan ginjal nan tak lagi bekerja.

Di kembali perubahan itu, Suharto memilih menerima realita nan tak pernah mereka bayangkan. Ia tak lagi menghitung berapa kali kudu mengantar istrinya berobat alias berapa jam nan dihabiskan di perjalanan. Baginya, nan terpenting Siti tetap dapat menjalani terapi sesuai jadwal.

"Kalau master bilang ini untuk selamanya, ya mau gimana lagi. Kita kudu berjuang. Terus berjuang," kata Suharto.

Tak Lagi Berjuang Sendiri

Pimpinan Klinik Hemodialisis Nitipuran, Sari Murnani. Foto: Pandangan Jogja

Hampir sepuluh tahun menjalani hemodialisis membikin Klinik Hemodialisis Nitipuran tak lagi terasa asing bagi Siti dan Suharto. Wajah-wajah nan mereka temui setiap Rabu dan Sabtu berubah menjadi keluarga.

"Sudah kayak family sama petugas-petugas di sini. Sama pasien-pasien juga," kata Siti.

Pimpinan Klinik Hemodialisis Nitipuran, Sari Murnani, mengatakan kebutuhan jasa hemodialisis terus meningkat. Pasien nan datang tak hanya berasal dari DIY, tetapi juga Jawa Tengah dan Jawa Timur lantaran terapi kudu dijalani secara rutin.

Hampir seluruh pasien di klinik tersebut merupakan peserta JKN.

"Peran BPJS sangat krusial lantaran terapi ini kudu dijalani rutin. Saya tidak membayangkan jika pasien kudu bayar sendiri," ujar Sari.

Ucapan itu mengingatkan Siti dan Suharto pada masa ketika biaya pengobatan selalu menjadi kekhawatiran menjelang agenda hemodialisis.

Sebelum menjadi peserta JKN, Siti dan Suharto kudu menyiapkan baiaya sekitar Rp700 ribu untuk sekali terapi. Tabungan mereka pun perlahan menipis. Di tengah keharusan menjalani hemodialisis seumur hidup, pasangan itu mulai memikirkan gimana terapi Siti dapat terus berlanjut.

"Lama-lama biaya menipis. Akhirnya master menyarankan pakai BPJS. Kalau tidak, kami juga bingung kudu bagaimana. Ini kan soal nyawa. Kalau kudu bayar sendiri terus, dari mana kami bisa dapat duit sebanyak itu. Kalau pakai BPJS, kami bisa rutin berangkat. Kalau tidak, mungkin hanya bisa seminggu sekali," tutur Suharto.

instagram embed

Cerita Siti menjadi gambaran kebutuhan jasa bagi pasien kandas ginjal di Indonesia. BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan penanganan kandas ginjal sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp13 triliun dan dimanfaatkan sekitar 640 ribu jiwa.

Sejak menjadi peserta JKN, kekhawatiran tentang biaya berganti menjadi kepastian menjalani terapi sesuai jadwal.

"Mungkin saya tidak sampai di sini jika tidak ada BPJS. Bayangkan saja, sudah 10 tahun, entah berapa biayanya. Mungkin juga tidak bisa lanjut cuci darah lantaran belum tentu mampu. Teman-teman di sini rata-rata pakai BPJS. Saya sangat berterima kasih sekali dengan adanya BPJS," tutur Siti.

Pada Rabu-Rabu dan Sabtu-Sabtu nan bakal datang, pada awal hari, Suharto bakal kembali menyalakan sepeda motor di laman rumah mereka di Pacitan. Siti bakal membawa map berisi arsip pengobatan. Tujuan mereka tetap sama: Klinik Hemodialisis Nitipuran di Bantul.

Pukul 06.00 WIB, dua jarum bakal kembali terpasang pada lengan kiri Siti. Perjalanan itu bakal mereka ulangi lagi dan lagi. Bukan lantaran mereka telah terbiasa dengan penyakit itu, melainkan lantaran selama angan tetap ada, perjalanan tersebut bakal terus dijalani bersama.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan