Coba perhatikan jalan-jalan di kota mana pun di Indonesia. Di antara warung makan dan apotek, nyaris pasti ada gedung dengan spanduk berwarna mencolok bertuliskan nama bimbel alias pengarahan belajar. Bimbel tersebut menjanjikan sesuatu seperti "Dijamin masuk PTN" alias "Nilai pasti naik". Setiap musim ujian tiba, orang tua beramai-ramai mendaftarkan anaknya. Tidak hanya satu tempat, kadang bisa dua, alias apalagi tiga tempat sekaligus. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah perlu les?", melainkan "Di mana les nan paling bagus?"
Bukan Soal Bodoh alias Pintarnya Anak
Selama ini kita menerima begitu saja dugaan bahwa anak nan ikut bimbel adalah anak nan kurang bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Namun coba lihat lebih dekat: bimbel hari ini tidak hanya diisi oleh siswa nan kesulitan—banyak nan nilainya sudah bagus pun tapi tetap ikut. Banyak orang tua nan mendaftarkan anaknya bukan lantaran mereka tertinggal, melainkan lantaran takut tertinggal.
Di sinilah kunci dari seluruh cerita ini. Bimbel bukan menjual kepintaran, melainkan menjual ketenangan.
Fenomena ini dikenal sebagai shadow education, ialah sistem pendidikan gambaran nan hidup berdampingan dengan sekolah formal. Ia tidak menggantikan sekolah, tapi mengikutinya seperti bayangan. Di mana ada ujian, di situ ada bimbel. Di mana ada persaingan, di situ ada les privat. Bayangan ini tumbuh bukan lantaran sekolah gagal, melainkan lantaran ada ketakutan nan terus dipelihara.
Industri nan Hidup dari Rasa Cemas
Kecemasan orang tua terhadap masa depan pendidikan anak mendorong mereka untuk terus mencari solusi tambahan di luar sekolah. Semakin tinggi tekanan persaingan, semakin besar pula kekhawatiran nan dirasakan. Lingkaran ini tidak pernah selesai lantaran standarnya selalu bergerak naik. Industri bimbel memanfaatkan perihal ini sebagai kelebihan mereka.
Coba perhatikan iklan-iklan bimbel. Hampir tidak ada nan berbincang tentang kesenangan belajar alias rasa mau tahu. Semuanya berbincang tentang ketakutan, PR numpuk, nilai ambruk, tidak lolos PTN. Kecemasan diproduksi, dikemas, dan dijual kembali sebagai solusi. Inilah nan disebut komodifikasi, ialah ketika sebuah emosi alias emosi diubah menjadi peralatan dagangan.
Yang membikin situasi ini rumit adalah bahwa bimbel memang bekerja, setidaknya secara individual. Anak nan ikut bimbel memang condong lebih siap menghadapi ujian. Namun, tidak semua anak punya akses ke sistem nan 'bekerja' itu.
Mahalnya Akses Bimbel
Bimbel memerlukan duit nan tidak sedikit. Les privat di kota besar bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan. Bimbel intensif untuk persiapan SNBT bisa menelan biaya nan setara dengan UKT satu semester. Artinya, akses terhadap bimbel bukan soal seberapa keras upaya seorang anak, melainkan seberapa banyak duit orang tuanya.
Menurut Kurdi et al. (2026), komersialisasi pendidikan menciptakan perbedaan mutu jasa berasas keahlian finansial nan pada akhirnya memperlebar kesenjangan antara golongan kelas menengah-atas dan kelas bawah. Keluarga dengan ekonomi nan lebih kuat bisa membeli bimbel nan lebih baik, lebih sering, dan lebih personal. Hasilnya, mereka mendominasi PTN favorit. Dari PTN favorit, mereka mendapat akses ke pekerjaan dengan status tinggi dan penghasilan besar. Lingkaran itu tertutup, membikin kelas sosial diwariskan bukan lewat warisan harta, melainkan lewat akses terhadap pendidikan informal nan tidak pernah resmi, tidak pernah kelihatan, tapi sangat menentukan.
Maka ketika seseorang sukses masuk PTN favorit, kita menyebutnya prestasi. Padahal, sebagian besar dari "prestasi" itu ditentukan oleh keahlian orang tua bayar les privat sejak kelas tiga SD, jauh sebelum hari ujian.
Lalu Apa nan Salah?
Sebenarnya tidak ada nan secara resmi memaksa siapa pun untuk mendaftarkan anak ke bimbel, alias izin nan mewajibkannya. Namun, tekanan sosialnya terasa seperti tanggungjawab nan kudu dipenuhi. Orang tua nan tidak mendaftarkan anaknya ke bimbel sering kali dianggap tidak serius memikirkan masa depan anak.
Bimbel bukan hanya lembaga pendidikan, melainkan juga gambaran dari gimana masyarakat kita mendefinisikan tanggung jawab, keberhasilan, dan rasa takut. Ia tumbuh bukan lantaran ada kebutuhan nan murni pedagogis, melainkan lantaran ada sistem persaingan nan menciptakan kebutuhan itu untuk kemudian menjualnya.
Selama SNBT tetap menjadi perlombaan bangku terbatas, selama ranking sekolah tetap menjadi ukuran nilai diri orang tua, dan selama kekhawatiran tetap bisa dijual, bimbel bakal terus ada, terus berkembang, dan terus menguntungkan mereka nan sudah sejak awal punya lebih banyak modal untuk bersaing.
Jadi, apakah kita sedang bayar untuk belajar, alias bayar agar tidak merasa tertinggal?
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·