Jakarta - Bagi Aisyah Nur Aini, berguru dulu bukan perihal nan mudah dijangkau. Siswi kelas X Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta, Jawa Tengah, itu tumbuh di tengah family sederhana nan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ayahnya mencari nafkah sebagai tukang loak. Sementara ibunya, Uti Rahayu, berdagang nasi goreng, mi, dan nasi bandeng di depan rumah. Saat dagangan sepi, sang ibu tak tinggal diam. Ia berkeliling mengumpulkan kardus jejak untuk dijual kembali.
Aisyah tinggal berbareng keluarganya di sebuah rumah sederhana di area Bororejo Jagalan, Surakarta. Dinding rumah itu tetap berupa batu bata nan belum diplester. Namun dari tempat sederhana itulah, angan besar Aisyah perlahan tumbuh.
Kesempatan masuk Sekolah Rakyat menjadi titik kembali dalam hidupnya. Untuk pertama kali, Aisyah bisa belajar tanpa terlalu cemas memikirkan biaya. Kebutuhan sekolah seperti seragam, sepatu, makan tiga kali sehari, hingga laptop telah tersedia.
Bagi sebagian orang, akomodasi itu mungkin terasa biasa. Namun bagi Aisyah, semuanya menjadi kesempatan besar untuk melangkah lebih jauh.
"Karena di sini fasilitasnya baik dan bisa memenuhi kebutuhan saya, saya mau mencapai cita-cita saya," ujar Aisyah dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).
Sejak berguru di SRMA 17 Surakarta, kepercayaan diri Aisyah mulai tumbuh. Ia tak hanya aktif belajar, tetapi juga mulai berani menunjukkan keahlian di beragam aktivitas sekolah.
Aisyah sukses meraih juara 2 bulutangkis tunggal putri dalam class meeting. Prestasi itu sejalan dengan hobinya bermain badminton. Ia juga meraih juara 2 Wiru Jarik dalam peringatan Hari Kartini.
Prestasi tersebut mungkin sederhana, tetapi berarti besar bagi Aisyah. Dari sanalah dia mulai belajar percaya pada keahlian diri sendiri.
Aisyah bercita-cita menjadi dokter. Di sekolah, dia dikenal aktif dan mudah bergaul. Ia juga berasosiasi dalam Palang Merah Remaja (PMR) dan dipercaya menjadi delegasi Forum Remaja Palang Merah Indonesia (FORPIS).
Dalam aktivitas belajar, Aisyah menyukai pembelajaran praktik. Ia berani menyampaikan pendapat dan bisa bekerja sama dengan teman-temannya di kelas.
"Setelah saya sekolah di sini, saya mau menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan orang tua," ujarnya.
Perubahan itu dirasakan langsung oleh ibunya. Uti memandang Aisyah bukan hanya berkembang dalam prestasi, tetapi juga mulai memandang masa depan dengan lebih yakin.
Saat menyampaikan harapannya, bunyi Uti sempat tertahan. Ia berupaya menahan tangis saat berbincang tentang anaknya.
"Saya berambisi anak saya bisa sukses, bisa membanggakan orang tua," ucap sang ibu.
Uti kemudian mencoba menenangkan diri. Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih lantaran anaknya sekarang mendapat kesempatan untuk bersekolah.
"Terima kasih, Pak Presiden. Anak saya bisa sekolah. Saya sangat senang, bangga, bersyukur," ucapnya.
Kini, Aisyah menjalani hari-harinya dengan lebih serius. Ia belajar lebih tekun dan berlatih lebih disiplin. Ia memahami bahwa akomodasi nan diterimanya adalah pintu pembuka, sementara masa depan tetap kudu diperjuangkan dengan kerja keras.
Bagi Aisyah, kalimat itu bukan sekadar cita-cita. Itu adalah janji untuk membalas kerja keras orang tuanya. Dari rumah sederhana, dari tangan ibunya nan terus bekerja, dan dari kehidupan nan penuh keterbatasan, Aisyah sekarang mulai menata langkah menuju masa depan nan dia impikan.
(prf/ega)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·