Sekolah Mau Cetak Anak Baik atau Anak Berani Bertanya?

Sedang Trending 57 menit yang lalu
Ilustrasi ruang kelas SMA nan menggambarkan perdebatan antara pendidikan karakter dan berpikir kritis. Generated by AI.

Perdebatan antara pendidikan karakter dan pendidikan kritis bukan sekadar soal kurikulum ini soal jenis manusia macam apa nan mau kita hasilkan.

Di tengah gencarnya kampanye pendidikan karakter di sekolah, muncul satu pertanyaan nan jarang betul-betul dibahas secara serius: apakah sekolah mau mencetak anak nan baik alias anak nan berani bertanya? Pertanyaan ini krusial lantaran perdebatan antara pendidikan karakter dan pendidikan kritis bukan sekadar soal metode belajar alias isi kurikulum. Ini adalah perdebatan tentang jenis manusia seperti apa nan mau dihasilkan oleh sistem pendidikan.

Apakah sekolah mau melahirkan generasi nan alim terhadap patokan tanpa banyak bertanya, alias generasi nan bisa berpikir kritis, mempertanyakan ketidakadilan, dan berani menyuarakan kebenaran? Dalam konteks masyarakat nan semakin kompleks, pilihan ini bukan perkara sepele. Cara sekolah mendefinisikan "anak baik" hari ini bakal menentukan kualitas penduduk negara nan hidup di masa depan.

Di suatu pagi, seorang pembimbing di sebuah SMA negeri meminta murid-muridnya untuk berbincang tentang kepatuhan. "Anak nan baik adalah anak nan menurut," katanya. Seorang siswa di pojok kelas mengangkat tangan. "Tapi Bu, jika nan diperintahkan itu salah, apakah tetap kudu dituruti?" Guru itu terdiam. Entah lantaran tidak tahu jawabannya, alias lantaran pertanyaan itu terlalu rawan untuk dijawab di depan kelas.

Adegan sederhana tersebut sesungguhnya menggambarkan dilema besar nan tetap menghantui pendidikan Indonesia. Di satu sisi, sekolah mau membentuk karakter peserta didik. Di sisi lain, sekolah juga dituntut melahirkan perseorangan nan bisa berpikir kritis dan mandiri.

Namun dalam praktiknya, kedua tujuan ini sering diposisikan sebagai sesuatu nan saling bertentangan. Akibatnya, keahlian bertanya sering dianggap sebagai ancaman terhadap ketertiban, sementara kepatuhan dianggap sebagai ukuran utama karakter nan baik. Di sinilah persoalan mendasarnya: ketika pendidikan lebih menghargai ketaatan daripada pemikiran, sekolah berisiko menghasilkan generasi nan terbiasa menerima, tetapi tidak terbiasa memahami.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan