Hasto menjelaskan, Marhaen bukanlah komunis seperti nan dicap oleh sebagian pihak pada masa lalu, melainkan sebuah realitas sosial nan menjadi dasar perjuangan Bung Karno.
Ia menyebut konsep Marhaenisme mewakili rakyat mini nan terpinggirkan namun mandiri, nan kudu dibangun kesadarannya agar berkekuatan secara politik dan ekonomi.
Mengenai kemungkinan PDIP mengusulkan lagu tersebut untuk diputar di aktivitas kenegaraan, Hasto menekankan bahwa perihal nan paling utama bagi partai adalah penyerapan spirit alias roh dari lagu itu sendiri dalam kebijakan nyata demi kesejahteraan rakyat.
"Bagi PDI Perjuangan lagu mars Bung Karno Bapak Marhaenisme nan krusial adalah spiritnya itu, spirit tentang kemerdekaan kita, tentang politik kita itu untuk rakyat Marhaen. Itu penuh dengan upaya-upaya nyata gimana kebijakan-kebijakan ideologis sampai teknokratis itu memberi kemanfaatan bagi rakyat," papar Hasto.
Hasto menuturkan, refleksi terhadap pemikiran para pendiri bangsa sangat krusial mengingat kondisi Indonesia saat ini nan dinilai tertinggal dalam beberapa sektor makro. Melalui prinsip lagu tersebut, PDIP mau mengembalikan konsentrasi politik pada prinsip mencerdaskan dan membebaskan bangsa.
"Kita sudah tertinggal dengan Singapura, apalagi dengan Malaysia, pendidikan kita menurun kualitasnya. Maka dengan spirit lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, kita memperkuat watak sejati politik nan membebaskan dari beragam belenggu kemiskinan, kegoblokan dan ketidakadilan," tandas Hasto.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·