Sejarah Gunung Anak Krakatau: Lahir dari Letusan Dahsyat 1883 hingga Tragedi Tsunami 2018

Sedang Trending 36 menit yang lalu

 Lahir dari Letusan Dahsyat 1883 hingga Tragedi Tsunami 2018

Gunung Anak Krakatau. (Foto: Freepik)

SEJARAH Gunung Anak Krakatau menarik diulas. Sebab, gunung ini lahir dari letusan luar biasa 1883.

Gunung Anak Krakatau pun telah erupsi beberapa kali. Salah satunya terjadi pada 2018 hingga sebabkan tsunami.

Gunung Anak Krakatau

Kini, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali jadi sorotan masyarakat Indonesia dan dunia. Publik tengah waspada dengan potensi letusan.

Ya, Gunung Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari letusan luar biasa Gunung Krakatau pada 1883. Gunung api nan berada di area Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra, tersebut lahir dari rangkaian aktivitas vulkanik nan mengubah bentang alam area itu.

Krakatau dikenal luas setelah mengalami erupsi besar pada Agustus 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, memicu tsunami besar, dan menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Namun, berakhirnya letusan Krakatau tidak berfaedah aktivitas vulkanik di area tersebut berhenti. Puluhan tahun kemudian, gunung api baru mulai tumbuh dari laut. Gunung tersebut kemudian dikenal dengan nama Anak Krakatau. Lantas, seperti apa kisah Gunung Anak Krakatau?

1. Anak Krakatau Lahir dari Kawah Krakatau

Sebelum letusan besar 1883, area Krakatau terdiri atas beberapa bagian gunung api. Ada Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

Rangkaian erupsi pada Agustus 1883 menyebabkan sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan membentuk kaldera besar. Setelah peristiwa tersebut, aktivitas vulkanik tetap berjalan di area jejak Krakatau.

Pada 1927, aktivitas erupsi bawah laut mulai terlihat di area tersebut. Material vulkanik terus menumpuk hingga akhirnya muncul daratan baru dari permukaan laut. Gunung api baru inilah nan kemudian disebut Anak Krakatau, alias secara harfiah berfaedah “anak dari Krakatau”.

Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan. Erupsi nan terjadi secara berkala mengeluarkan lava, abu, dan material vulkanik lainnya. Material tersebut kemudian menumpuk dan membentuk tubuh gunung.

Karena proses tersebut berjalan terus-menerus, corak dan ketinggian Anak Krakatau dapat berubah dari waktu ke waktu. Aktivitas tersebut juga menunjukkan bahwa area Krakatau tetap merupakan sistem vulkanik aktif. Anak Krakatau bukan sekadar sisa dari gunung nan meletus pada 1883, melainkan gunung api nan terbentuk dan berkembang melalui aktivitas vulkaniknya sendiri.

2. Aktivitas Anak Krakatau Berulang Kali Terjadi

Sejak pertama kali muncul, Anak Krakatau mengalami beragam bagian erupsi. Aktivitas vulkanik tersebut dapat berupa keluarnya abu, lontaran material pijar, lava, maupun bunyi letusan. Intensitasnya juga dapat berubah dari waktu ke waktu.

Karena berada di tengah laut, aktivitas Anak Krakatau mempunyai karakter dan potensi ancaman nan berbeda dibandingkan gunung api nan berada jauh dari wilayah pesisir. Salah satu ancaman nan paling diperhatikan adalah kemungkinan material tubuh gunung longsor ke laut.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com