Piala Dunia telah memasuki semifinal. Empat kesebelasan tersisa, empat bendera tetap berkibar, dan jutaan orang kembali bersiap menukar jam tidur dengan ketegangan. Prancis berhadapan dengan Spanyol, sementara Inggris berjumpa Argentina. Nama-nama besar berkumpul di empat besar, seolah sepak bola sedang menyiapkan meja terakhir bagi para juara untuk membuktikan siapa nan paling layak menuju final.
Di ruang tamu, orang-orang duduk dengan langkah nan nyaris sama: mata menatap layar, tangan memegang cangkir, mulut sibuk memberi petunjuk kepada pemain nan jaraknya ribuan kilometer. “Oper bolanya!” teriak seseorang, seakan gelandang di lapangan dapat mendengar bunyi dari kembali televisi. Ketika wasit meniup peluit, semua mendadak menjadi mahir peraturan. Ketika VAR bekerja, semua berubah menjadi pengadil konstitusi sepak bola.
Saya memilih menikmati pertandingan dengan secangkir kopi susu. Kopinya memberi pahit, gulanya menyelipkan manis, dan susunya menawarkan kelembutan. Tiga rasa itu bercampur di dalam satu cangkir, seperti hidup nan jarang menyediakan kebenaran dalam satu warna. Kadang nan pahit justru menyelamatkan, nan manis dapat menyesatkan dan nan putih belum tentu selalu suci.
Lalu layar berganti. Di negeri sendiri, sebuah “pertandingan” lain sedang berlangsung. Bukan di stadion, melainkan di ruang penyidikan, gedung pemeriksaan, rumah nan digeledah, konvensi pers dan linimasa nan tidak pernah tidur. Dua lembaga penegak norma terlihat sama-sama berlari cepat.
Yang satu membuka perkara, menggeledah banyak tempat, menyita tumpukan peralatan bukti dan mengumumkan hasil temuannya. nan lain juga bergerak, menetapkan tersangka dalam perkara pertambangan, meneruskan investigasi serta menyatakan pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti. Belakangan, sejumlah perkara apalagi dilimpahkan dari satu pihak kepada pihak lain dengan istilah nan terdengar menyejukkan: sinergitas.
Publik pun menonton. Ada nan bertepuk tangan kepada kubu sebelah kiri. Ada nan memihak kubu sebelah kanan. Ada nan mulai menghitung skor, siapa paling banyak menangkap, siapa paling besar menyita, siapa paling berani menggeledah dan siapa paling sering muncul di layer televisi. Penegakan norma akhirnya tampak seperti liga antarkesebelasan. Bedanya, pemain sepak bola mengejar gol, sedangkan abdi negara semestinya mengejar kebenaran.
Tentu, kejuaraan tidak selalu buruk. Dua penyerang dalam satu tim dapat saling berkompetisi mencetak gol dan membikin kesebelasan semakin tajam. Dua lembaga juga boleh berkompetisi menunjukkan prestasi. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah mereka bermain untuk lambang di dada masing-masing, alias untuk bendera nan berkibar di atas keduanya?
Di sinilah secangkir kopi susu mulai terasa seperti pelajaran mini tentang negara. Kopi adalah realita nan pahit. Ia mengingatkan bahwa korupsi bukan sekadar nomor dalam konvensi pers. Di belakangnya ada listrik nan padam, tabungan nan terancam, industri nan terganggu, pelayanan nan memburuk dan rakyat nan bayar tagihan dari kesalahan orang-orang nan mungkin tidak pernah mereka kenal. Pahitnya kudu diminum apa adanya. Jangan dikurangi dengan istilah rumit, jangan ditutupi busa pencitraan dan jangan disebut “dinamika” jika sesungguhnya dia adalah pengkhianatan terhadap amanah.
Gula adalah narasi. Ia membikin realita lebih mudah ditelan. Konferensi pers perlu, penjelasan kepada publik krusial dan transparansi memang kudu dirawat. Tetapi gula nan berlebihan dapat menutupi mutu biji kopi. Penegakan norma nan terlalu sibuk mencari tepuk tangan berisiko berubah menjadi pertunjukan. Barang bukti menjadi hiasan panggung, rompi tahanan menjadi kostum dan proses norma melangkah mengikuti agenda kamera.
Padahal, orang nan diperiksa belum tentu bersalah, orang nan disangka belum tentu terbukti dan orang nan ramai dihukum oleh media sosial belum tentu dihukum oleh pengadilan. Negara norma tidak boleh bekerja seperti kolom komentar. Ia memerlukan bukti, prosedur, kewenangan jawab, pengetesan dan putusan nan dapat dipertanggungjawabkan.
Susu adalah angan tentang kemurnian. Warnanya putih, rasanya lembut, tetapi dia juga mengajarkan sesuatu: putih adalah cita-cita, bukan sertifikat kesucian. Institusi tidak otomatis bersih hanya lantaran namanya mulia, seragamnya gagah ataupun semboyannya indah. Kemurnian kudu dibuktikan melalui keberanian membersihkan bagian dalam dirinya sendiri.
Max Weber menyebut otoritas modern sebagai otoritas legal-rasional. Kekuasaan ditaati bukan lantaran siapa nan memegangnya, melainkan lantaran patokan nan menjadi dasarnya. Dalam bahasa nan lebih sederhana, kewenangan tidak menjadi betul hanya lantaran digunakan oleh lembaga nan kuat. Ia menjadi sah ketika dijalankan secara terukur, terbuka, konsisten, dan dapat diuji.
Karena itu, adu prestasi antara para penegak norma hanya bakal berfaedah jika nan dipertandingkan adalah integritas. Berlombalah mengembalikan kerugian negara. Berlombalah menyelesaikan perkara tanpa pesanan. Berlombalah melindungi saksi, menghormati kewenangan tersangka, membuka info secara proporsional dan membersihkan personil sendiri nan menyimpang. Bila perlombaan semacam itu terjadi, rakyat tidak perlu memilih pendukung. Siapa pun nan menang, keadilan bakal memperoleh angka.
Namun, jika persaingan berubah menjadi saling mengunci, saling membuka kejelekan alias saling menggunakan perkara sebagai kartu tawar, nan kalah bukan salah satu lembaga. nan kalah adalah kepercayaan publik. Dan kepercayaan, seperti aroma kopi nan sudah menguap, susah dikembalikan hanya dengan menambah gula.
Sepak bola mempunyai patokan nan jelas. Ada garis lapangan, waktu pertandingan, wasit, VAR, kartu dan papan skor. Penegakan norma jauh lebih rumit lantaran nan dipertaruhkan bukan piala, melainkan nama baik, kebebasan, duit rakyat, apalagi masa depan family seseorang. Itulah sebabnya norma tidak boleh dipimpin oleh sorak penonton. Ia kudu tenang ketika publik gaduh, bening ketika media keruh dan setara ketika kepentingan datang membawa seragam.
Dua lembaga nan sedang hangat dalam buletin hari ini sesungguhnya bukan dua kesebelasan. Mereka berada dalam satu tim berjulukan Republik. Mereka boleh mempunyai langkah bermain nan berbeda, tetapi gawang nan kudu dijaga sama: keselamatan duit rakyat, kepastian hukum, dan kepercayaan masyarakat. Jangan sampai keduanya terlalu sibuk berebut menjadi pencetak gol, sementara pertahanan negara dibiarkan terbuka.
Dalam bahasa iman, kekuasaan adalah amanah. Ia tidak menjadi ringan hanya lantaran dibungkus jabatan, dan tidak menjadi legal hanya lantaran dilakukan atas nama lembaga. Pada akhirnya, setiap kewenangan bakal dimintai pertanggungjawaban di hadapan hukum, di hadapan rakyat dan di hadapan Tuhan.
Pertandingan semifinal bakal berakhir. Ada nan masuk final, ada nan pulang. Tetapi penegakan norma tidak mengenal peluit panjang. Ia kudu terus melangkah setelah kamera dimatikan dan penonton meninggalkan layar.
Saya meneguk kopi susu nan mulai dingin. Pahitnya tetap ada, manisnya mulai berkurang, dan susunya telah menyatu. Barangkali begitulah semestinya norma bekerja: kebenaran tidak disembunyikan, keadilan tidak dipermanis dan kekuasaan dilembutkan oleh nurani.
Kopi boleh hitam, gula boleh manis, susu boleh putih. Namun, norma kudu tetap bening, agar rakyat dapat memandang dengan jelas siapa nan bekerja untuk keadilan dan siapa nan hanya sedang mengejar kemenangan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·