Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai, terutama jika anak tinggal alias beraktivitas di wilayah nan terdampak. Meski begitu, orang tua tidak perlu panik.
Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menjelaskan akibat kesehatan akibat paparan abu vulkanik pada setiap anak bisa berbeda. Hal ini tergantung pada jumlah abu di udara, lama paparan, hingga kondisi kesehatan anak sebelumnya.
"Abu vulkanik itu perlu diwaspadai tentunya, tapi orang tua tidak perlu panik. Risiko kesehatan tergantung dari seberapa banyak abu di udara, berapa lama anak terpapar, serta kondisi kesehatan anak sebelumnya," ujar dr. Aisya.
Menurutnya, abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Partikelnya sangat lembut dan dapat mengandung material mineral maupun kaca vulkanik nan berkarakter abrasif alias dapat menyebabkan iritasi.
Abu Vulkanik Bisa Mengiritasi Pernapasan hingga Mata Anak
Saat terhirup, partikel abu vulkanik dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan anak. Akibatnya, anak bisa mengalami batuk, tenggorokan gatal, pilek, hingga sesak napas.
Abu nan masuk ke mata juga dapat menyebabkan mata merah, berair, perih, alias terasa seperti kemasukan pasir. Sementara itu, paparan pada kulit juga berpotensi menyebabkan iritasi.
Anak dengan riwayat asma alias penyakit paru sebelumnya perlu mendapat perhatian lebih lantaran paparan partikel di udara dapat memperberat gejalanya. Namun, dr. Aisya menekankan tidak setiap paparan abu vulkanik bakal menyebabkan penyakit serius. Prinsipnya, semakin sedikit paparan nan diterima anak, semakin baik.
Apa nan Bisa Dilakukan Orang Tua?
1. Kurangi paparan abu: Jika udara terlihat berabu alias ada imbauan pemerintah, sebaiknya anak tetap di dalam rumah.
2. Tutup pintu dan jendela saat abu sedang banyak dan hindari ventilasi nan langsung memasukkan udara dari luar.
3. Hindari membawa anak keluar jika tidak ada kebutuhan mendesak.
4. Gunakan masker dan pelindung mata jika anak kudu keluar rumah.
5. Pastikan anak cukup minum dan tetap makan seperti biasa.
6. Simpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup agar tidak terpapar abu. Jika sudah kemasukan abu, jangan dikonsumsi.
7. Bersihkan abu dengan langkah dibasahi terlebih dahulu. Jangan menyapu abu dalam kondisi kering lantaran dapat membuatnya kembali beterbangan.
8. Tunda olahraga outdoor sampai kondisi udara membaik lantaran aktivitas bentuk membikin anak bernapas lebih sigap dan dapat meningkatkan jumlah partikel nan terhirup.
9. Ikuti info dan pengarahan resmi pemerintah serta BMKG mengenai kondisi abu vulkanik di wilayah masing-masing.
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·