Jakarta -
Sekitar 50% sampah di Indonesia berhujung di kali alias sungai, dan jalan raya. Kondisi ini terjadi lantaran sebagian masyarakat tak kuat bayar iuran sampah.
Hal ini dilaporkan Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia Rohan Hafas merujuk hasil hasil penelitian nan dilakukan oleh World Bank, Kamis (9/4/2026).
"Sampah di Indonesia itu 50% ini World Bank ya, tidak ada Indonesia-nya sama sekali. 50% sampah di Indonesia lari di... mari di mana? Di jalanan dan di kali. Based on surveinya World Bank," ujar Rohan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa? Hanya lantaran Rp 10.000 sampai dengan Rp 15.000 rupiah per rumah tangga tidak bisa bayar iuran bulanan ke tukang angkut sampah nan dikelola RT, RW alias Kelurahan. That's kehidupan nan bener, maksudnya kebenaran nan terjadi seperti itu. Jadi dia buang aja diem-diem di pinggir jalan, di kali, di ini. Itu sebabnya kita punya problem sampah," sambungnya.
Adapun iuran nan dikeluarkan penduduk tersebut digunakan untuk mengangkut sampah nan nantinya bakal di bawa ke TPS. Kondisi ini dinilai kurang tepat lantaran membebani pemerintah daerah, terutama lantaran adanya biaya sewa lahan nan tinggi.
Dengan kondisi itu, Rohan bilang pemerintah tengah mengebut proyek Waste-to-Energy (WtE) alias Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
"Konsep waste-to-energy, agar orang buang sampah di tempatnya, artinya bakal pasti diangkut, berfaedah nan angkut cuma-cuma dari rumah. Mulainya dari situ, itu dilakukan oleh Pemda. Pemda kenapa mau? Karena Pemda tidak lagi di-charge bayar sewa lahan tempat sampah nan Bantar Gebang itu, nggak di-charge lagi dia, nan mana lebih mahal bayar sewa daripada dia kudu bayar ongkos ngangkut itu. Itu nan dibenahi itunya dulu," terang Rohan.
Proyek 'Sulap' Sampah Jadi Listrik
BPI Danantara menargetkan pembangunan sejumlah proyek Waste to Energy (WtE) alias Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) paling telatnya pada Juli 2026. Maksimal telatnya pada Juli 2026 pada Juni alias Juli 2026. Empat proyek tersebut bakal berada di Bekasi, Denpasar, dan Bogor.
"Groundbreaking itu bisa dilakukan kapan saja dari April sampai bulan Juni. Cuma nan lebih krusial adalah kapan ini mulai dibangun. Target kita ini mulai dibangun di akhir Juni, awal Juli paling telat," ungkap Director of Investments Danantara Investment Management, Fadli Rahman saat ditemui di Graha Mandiri, Jumat (6/3/2026).
Fadli mengatakan pada proses pembangunan proyek sulap sampah jadi listrik ini bakal menyantap waktu hingga 2 tahun. Namun untuk dua proyek pertama, di Bekasi dan Denpasar nan memang sudah mempunyai mitra tersebut menyanggupi pembangunannya lebih cepat.
"Kebetulan keduanya memang komitmennya lebih cepat. Janjinya by 2027 akhir itu kita terbangun, sudah COD. Untuk di Bekasi di awal 2028," ungkapnya.
(hrp/hns)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·