Kegiatan kunjungan pabrik Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)
Hari Senin pagi itu terasa sangat berbeda bagiku. Kali ini, saya tidak mengikuti upacara bendera di sekolah seperti biasanya, melainkan langsung bertolak dari rumah menuju PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Cuaca Kota Bandung terasa cukup dingin. Namun, lembutnya sinar mentari pagi dan gemuruh mesin kendaraan di jalan raya justru membuatku semakin antusias untuk menyambut petualangan hari ini.
Aku menuju ke salah satu perusahaan pesawat terbesar dan satu-satunya nan ada di Asia Tenggara. Begitu memasuki gerbang utama, kami langsung disambut dengan tulisan besar "PT Dirgantara Indonesia". Dari sana, para Reporter Cilik (Repcil) diantar menuju area hangar menggunakan bus Bandros berwarna merah menyala. Terlihat deretan gedung hangar nan sangat tinggi dan besar. Pemandangan itu membuatku kagum sekaligus tidak sabar untuk segera menjelajahinya.
Salah satu perihal nan membuatku tercengang adalah keberadaan pesawat dan helikopter nan terparkir dengan gagahnya di setiap hangar. Aku mengelilingi pabrik pesawat langkah demi langkah dengan dipandu oleh kakak pembimbing nan ramah. Tiba-tiba, ada satu perihal nan menarik perhatianku. Suara bising baling-baling unik pesawat serta bunyi gemuruh mesin nan menggema layaknya sedang bermain game Traffic Rider, seakan-akan membuatku mau langsung menaiki pesawat dan mengendarainya saat itu juga!
Pada sesi pertama, saya mendapat giliran untuk mewawancarai penanggung jawab dari Departemen Quality Control, ialah Kak Intanto Oktavian. Beliau menjelaskan banyak perihal menarik nan membikin pengetahuanku tentang bumi dirgantara bertambah. Salah satu pertanyaan unik nan saya ajukan adalah mengenai bahan bakar pesawat dan apakah mesin pesawat mempunyai piston layaknya sepeda motor.
Kak Intanto sempat terkejut mendengar pertanyaan kritis dari anak seusiaku. Beliau kemudian tersenyum dan menjelaskan bahwa bahan bakar pesawat menggunakan avtur, dan mesin pesawat tidak menggunakan piston melainkan sistem turbin. Setelah itu, teman-teman reporter cilik lainnya bergantian memberikan pertanyaan kepada narasumber. Tidak hanya wawancara, saya juga berkesempatan untuk berpotret langsung di dalam kokpit pesawat. Rasanya senang sekali!
Memasuki sesi kedua, kami berkesempatan untuk berjumpa dengan jejeran dewan PT DI secara lebih dekat. Kali ini, sesi wawancara dilakukan dengan suasana umum layaknya sebuah konvensi pers. Hadir di tengah-tengah kami, Ibu Dhias Widhiyati selaku Direktur Keuangan dan SDM, serta Bapak Dena Hendriana selaku Direktur Produksi. Beberapa pertanyaan dari para peserta dikumpulkan untuk diajukan kepada kedua narasumber. Awalnya, saya sudah dipilih oleh kakak panitia untuk mengusulkan pertanyaan langsung. Namun sayang sekali, lantaran keterbatasan waktu nan singkat, pertanyaanku tidak sempat disampaikan kepada Pak Dena.
Meski begitu, saya tetap mendapatkan banyak pengetahuan dan nasihat krusial nan disampaikan oleh para dewan pada sesi kali ini. Di antaranya adalah pesan agar kami jangan pernah takut untuk bermimpi, selalu giat belajar, disiplin, jujur, dan tidak lupa untuk selalu bermohon kepada Allah SWT.
Ibu Dhias dan Pak Dena juga menceritakan bahwa tugas memimpin pabrik pesawat ini penuh dengan tantangan berat, namun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, insyaallah semua bakal berhasil.
Kami juga menjadi tahu kebenaran dahsyat mengenai harga satu unit pesawat terbang nan bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Harga tersebut sangat dahsyat lantaran aspek materialnya, ditambah dengan kalkulasi untung sekitar 30% dari total biaya pembuatan.
Menjalani aktivitas sebagai Reporter Cilik rupanya seru sekali! Di samping bisa mendapatkan pengetahuan jurnalistik dan public speaking langsung dari tim Media Indonesia, saya juga mendapat kesempatan berbobot untuk berkeliling ke PT Dirgantara Indonesia, berjumpa para dewan hebat, serta ditemani kakak pembimbing nan sangat baik. Alhamdulillah, pengalaman ini tidak bakal pernah saya lupakan. (X-6)

English (US) ·
Indonesian (ID) ·