Satgas PRR Perkuat Mitigasi Bencana Susulan di Titik Rawan Sumatera

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Satgas PRR memperkuat mitigasi di titik rawan musibah susulan di wilayah terdampak musibah Sumatera. Foto: Satgas PRR

Langkah mitigasi di sejumlah titik rawan musibah susulan di wilayah terdampak musibah hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus diperkuat Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera. Upaya ini dilakukan untuk memastikan proses pemulihan juga mengutamakan keselamatan penduduk dan ketahanan wilayah terdampak dalam jangka panjang.

Penguatan mitigasi tersebut salah satunya dilakukan melalui kunjungan lapangan Tim Satgas PRR Aceh berbareng Balai Kementerian Pekerjaan Umum, ialah BPJN Aceh dan PT Hutama Karya, ke area Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah serta area sinkhole di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, pada Jumat (12/6/2026).

Dua letak tersebut menjadi perhatian lantaran sama-sama menunjukkan akibat lanjutan pascabencana. Di Enang-Enang, kerusakan jalan dan jembatan terjadi akibat longsoran tembok tebing serta banjir bandang. Sementara di Pondok Balek, kejadian tanah amblas alias sinkhole tetap berpotensi melebar dan berakibat terhadap lahan pertanian, akses jalan, hingga jaringan kelistrikan.

Di area Tajuk Enang-Enang, Jalan Raya Bireuen–Takengon, tepatnya pada jalur Simpang Lancang, Desa Alur Cuncin–Desa Menderak, Kecamatan Pintu Rime, akses masyarakat sempat terputus akibat kerusakan jalan dan jembatan. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu akses krusial bagi masyarakat wilayah Gayo dan pesisir utara Aceh, termasuk untuk mobilitas penduduk serta pengedaran hasil pertanian dan perkebunan.

Masyarakat setempat telah berupaya membuka kembali akses secara swadaya sehingga kendaraan dapat melintas secara terbatas. Namun, BPJN Aceh mengingatkan jalur tersebut tetap berisiko tinggi lantaran kondisi tanah nan labil, medan nan curam, minim penerangan, serta kondisi jembatan eksisting nan mengalami kerusakan serius, termasuk fondasi nan patah dan miring.

Satgas PRR menilai kondisi tersebut perlu ditangani dengan pendekatan kehati-hatian berbasis kajian teknis dan geologi. Penanganan di Enang-Enang tidak cukup hanya dengan membuka akses sementara, tetapi perlu memastikan jalur nan digunakan penduduk betul-betul aman, termasuk melalui koordinasi intensif antara BPJN, BWS, pemerintah daerah, dan unsur mengenai dalam penanganan jalan, jembatan, tebing, serta aliran sungai.

Untuk solusi jangka panjang, telah disiapkan rencana pembangunan jembatan shortcut. Proyek ini direncanakan dilaksanakan pada 2027. Sambil menunggu penanganan permanen, BPJN Aceh melalui Satker Wilayah 3 telah melakukan pemeliharaan jalan pengganti pengganti Jembatan Enang-Enang untuk menjaga konektivitas lintas tengah menuju Takengon.

Perhatian serupa juga diberikan terhadap kejadian sinkhole di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Berdasarkan info sementara BPJN, lubang amblas tersebut diperkirakan mempunyai kedalaman mencapai 85 meter dengan luas sekitar 3 hektare. Fenomena ini telah menyebabkan rusak dan hilangnya lahan pertanian warga, amblasnya tower listrik, serta terputusnya akses jalan di sekitar lokasi.

“BPJN dan PT Hutama Karya menyampaikan struktur tanah di area sinkhole didominasi material jejak abu vulkanik dan nyaris tidak berbatu. Kondisi tersebut membikin material bawah tanah lebih mudah terkikis, terutama saat curah hujan tinggi dan dipengaruhi aktivitas gempa,” tulis Satgas PRR dalam laporan kegiatannya.

Arah pelebaran sinkhole nan sebelumnya mengarah ke hulu Sungai Peusangan sekarang terpantau condong bergerak ke arah Danau Laut Tawar. Karena itu, Satgas PRR menekankan pemantauan harian, pembaruan rambu peringatan, serta pembatasan akses penduduk ke area rawan sebagai langkah mendesak untuk mencegah korban jiwa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan