Anggie Ariesta
, Jurnalis-Kamis, 22 Oktober 2026 |17:25 WIB

Saham HSC Jadi Sorotan MSCI, Ada Ancaman Capital Outflow Rp90 Triliun (Foto: Okezone)
JAKARTA - Tingginya konsentrasi kepemilikan saham alias High Shareholding Concentration (HSC) menjadi salah satu poin krusial dalam pertimbangan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap ekosistem pasar modal Indonesia. Isu ini menyoroti transparansi keterbukaan info pemegang saham serta kelaziman proses pembentukan nilai saham di bursa.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan bahwa kekuasaan kepemilikan saham nan terpusat berisiko memicu kecurigaan penanammodal ketika dinamika nilai saham dianggap tidak mencerminkan pergerakan pasar secara wajar, termasuk nan berangkaian dengan indikasi praktik manipulasi nilai alias penggorengan saham.
“Kalau sekiranya kita betul diturunkan ke standalone market, maka terdapat potensi capital outflow ya dari dari sisi equity itu sekitar USD3 hingga USD5 miliar (setara Rp54-Rp90 triliun),” ujar Josua di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Josua menyebut bahwa aspek tata kelola dan keterbukaan struktur kepemilikan saham sebenarnya telah menjadi perhatian MSCI sejak akhir tahun lalu, nan sempat diiringi peringatan potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Meski demikian, Josua menegaskan bahwa pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 bukanlah keputusan final untuk mengubah status Indonesia menjadi standalone market.
Indonesia tetap mempunyai tenggat masa konsultasi guna menyajikan bukti-bukti pembenahan tata kelola pasar saham secara konkret.
Untuk memanfaatkan ruang konsultasi tersebut, Josua menekankan pentingnya reformasi pasar modal dalam corak tindakan nyata, bukan sebatas publikasi izin di atas kertas.
Penegakan norma nan tegas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai menjadi kunci utama mengembalikan kepercayaan penanammodal global.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·