Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menegaskan, pemerintah tidak bakal membuka ruang bagi investasi baru di sektor budidaya ayam. Sikap tersebut diambil lantaran Indonesia saat ini dinilai sudah bisa memenuhi kebutuhan daging ayam dan telur secara mandiri, apalagi mengalami surplus produksi.
Amran mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan langkah agar sektor budidaya ayam masuk dalam daftar negatif investasi. Dengan begitu, penanammodal baru tidak lagi diarahkan masuk ke upaya pembesaran maupun peternakan ayam nan berpotensi menambah pasokan di tengah kondisi pasar nan sudah berlebih.
"Ada surat rekomendasi, kita bakal kirim ke BKPM (Kementerian Investasi) negative list investasi itu untuk sektor budidaya ayam. Kalau bisa sudah (tidak ada lagi investasi baru), rakyat Indonesia sudah sanggup. Kalau ada penanammodal lain, suruh bergerak di sektor lain," kata Amran dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, investasi tetap dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, penanammodal sebaiknya masuk ke sektor lain nan tidak bersenggolan langsung dengan upaya rakyat.
"(Investasi baru itu bisa masuk di sektor) apakah di pabrik gula, hilirisasi tambang, tapi jangan mengganggu ekonomi rakyat kecil. Supaya ini sustain," ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons berita adanya penanammodal asal China nan disebut-sebut tertarik mengembangkan upaya peternakan ayam di Indonesia. Amran mengaku telah mengambil langkah tegas dengan menyampaikan surat resmi mengenai persoalan tersebut.
"Iya, kami sudah menyurat langsung. Sudah saya tanda tangan. Dan kelak saya sampaikan langsung juga," tegas dia.
Sebelumnya, berita masuknya penanammodal China ke sektor peternakan ayam sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak nasional nan tengah menghadapi persoalan kelebihan pasokan telur dan daging ayam.
Namun, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia telah memberikan penjelasan bahwa pembahasan dengan delegasi asal China tetap berada pada tahap penjajakan awal dan belum mengarah pada realisasi investasi besar.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Peternakan Cecep M. Wahyudin, menilai info nan beredar mengenai investasi tersebut sudah berkembang terlalu jauh.
"Ini agar tidak sesat nih ya, lantaran info nan beredar itu saya pikir itu terlalu tersesat dan terlalu dini," kata Cecep beberapa waktu lalu
Menurutnya, Kadin memang kerap menjadi pintu masuk komunikasi bagi penanammodal nan mau menjajaki kesempatan upaya di Indonesia. Namun, pembahasan dengan delegasi China tetap sebatas sosialisasi dan belum sampai pada tahap keputusan investasi.
"Perlu kami jelaskan bahwa itu adalah tahap awal adanya rencana, alias kemauan penanammodal dan delegasi dari China nan berkeinginan untuk masuk ke Indonesia, untuk mengembangkan peternakan ayam di Indonesia," terang dia.
"Jadi tetap tahap sosialisasi, tidak ada rencana pengembangan sampai sebesar apa nan diberitakan," lanjut Cecep.
Cecep juga menegaskan, pihaknya memahami kondisi industri perunggasan nasional nan saat ini mengalami surplus produksi telur. Karena itu, setiap rencana pengembangan upaya kudu mempertimbangkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
"Kadin juga tentu sangat memahami supply demandnya seperti apa, kondisinya seperti apa, lantaran selama ini Kadin dengan beberapa kementerian, khususnya Kementerian Pertanian, terus melakukan komunikasi," ujarnya.
"Jadi kami mengerti betul mana nan kudu kita dorong, mana nan enggak," sambungnya.
Meski demikian, Cecep mengungkapkan delegasi industri telur asal China memang pernah berjamu ke Indonesia pada 21 April 2026 untuk membahas kesempatan kerjasama investasi dan transfer teknologi peternakan modern, khususnya di Aceh.
Rencana nan sempat dibahas mencakup investasi sekitar Rp1,4 triliun untuk pembangunan breeding farm, pabrik pakan, hingga akomodasi pengolahan telur dengan melibatkan peternak rakyat. Namun, dia memastikan perusahaan tersebut tidak bakal menjadi integrator vertikal nan menguasai seluruh rantai upaya perunggasan nasional.
"Perusahaan China ini diharapkan membawa teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi peternakan melalui konsep integrasi horizontal," jelasnya.
Di sisi lain, Kadin menilai kebutuhan telur nasional tetap berpotensi meningkat seiring penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kendati demikian, penguatan kapabilitas produksi tetap diarahkan melalui pemberdayaan peternak rakyat dan koperasi desa.
"Kemudian juga Kadin beserta dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi terus menggenjot upaya gimana mempercepat dan memperbesar peternak rakyat, jadi antara buletin dan realita ini sangat jauh dari kenyataan," pungkas Cecep.
(wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·