Saat Berkah Dihitung Seperti Omzet

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Kontras antara Subuh tradisional nan syahdu. Citra hasil AI.

Subuh belum sepenuhnya pecah ketika pengeras bunyi masjid pesantren menyalakan lantunan asmaul husna, dan di perspektif lain kompleks, seorang santri muda membuka aplikasi kamera untuk merekam wajahnya sendiri sedang mengaji, siap diunggah sebelum jamaah subuh usai. Dua peristiwa itu terjadi dalam satu tarikan napas, di satu tempat nan sama, dan justru di situlah letak keretakan nan hendak dibaca esai ini. Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han pernah menulis bahwa masyarakat modern tidak lagi dijajah oleh kekuasaan nan memaksa dari luar, melainkan oleh kesenangan nan membujuk dari dalam. Ia menyebutnya kekuasaan nan tersenyum. Pertanyaannya, apakah pesantren, tembok terakhir nan konon menyimpan waktu lambat dan laku batin, sudah ikut tersenyum kepada logika itu.

Untuk memahami sungguh dalamnya pergeseran ini, ada baiknya kita bandingkan dua era kepatuhan. Di era lama, seorang santri alim kepada ustad lantaran ada rasa segan nan lahir dari kehadiran bentuk sang guru, dari tatapan nan bisa menegur tanpa kata, dari patokan pondok nan jelas batasnya dan jelas hukumannya jika dilanggar. Ada semacam malaikat roqib atid alias jika meminjam budaya Kristen Eropa: "sinterklas" (pencatat perbuatan) dalam gambaran itu, sosok pengawas dari luar nan mencatat siapa nan lalai dan siapa nan taat, lampau membalasnya dengan pujian alias hukuman. Kepatuhan semacam ini, meski kadang keras, punya pemisah nan bisa dilihat mata. Seseorang tahu kapan dia sedang diawasi dan kapan dia bebas dari pengawasan itu.

Perbandingan kepatuhan. Kiri: Santri alim lantaran kehadiran bentuk Kiai (pengawasan luar). Kanan: Santri mengawasi dirinya sendiri melalui gawai, di bawah 'mata' Sinterklas transparan nan pindah ke dalam kepala (pengawasan dalam). Citra hasil AI.

Tetapi di era nan tengah kita jalani, pemisah itu lenyap. Tidak ada lagi jam malam nan perlu diawasi penjaga gerbang, lantaran santri sendiri nan mengunggah agenda hariannya ke media sosial, komplit dengan tagar giat dan tagar berkah, seolah dirinya sendiri nan menjadi penjaga sekaligus tontonan. "Sinterklas" itu belum menghilang, dia hanya pindah alamat, dari menara pengawas ke dalam kepala setiap orang. Manusia modern, dan dalam konteks ini santri modern, tidak lagi butuh diawasi untuk bekerja melampaui batas. Ia mengawasi dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri lewat rasa bersalah, dan memberi bingkisan kepada dirinya sendiri lewat rasa puas nan semu.

Ada nan berubah dalam langkah pesantren memaknai dirinya sendiri, dan perubahan itu jarang datang lewat kekerasan. Ia datang lewat kemudahan. Zuhud nan dulunya berfaedah melepas kelekatan pada bumi sekarang bisa dijual sebagai style hidup hijrah, komplit dengan warna pastel dan pencahayaan nan tepat. Ke-tawadu-an nan dulunya diam-diam, tumbuh di ruang gelap tanpa saksi, sekarang butuh disaksikan agar dianggap sungguh terjadi. Han menyebut proses ini sebagai lenyapnya ritual, sebuah bumi nan kehilangan jarak dan kesunyian lantaran segalanya dituntut untuk segera tampil dan segera menghasilkan. Ritual nan dulunya melangkah lambat, penuh pengulangan nan tak tergesa, sekarang dipangkas menjadi konten nan kudu selesai dalam lama lima belas detik. Bahkan tirakat, laku prihatin nan dulunya dijalani dalam kesunyian penuh, sekarang bisa muncul sebagai titel unggahan, seolah menahan lapar hanya punya makna jika ada nan menyaksikan.

Komodifikasi 'Zuhud' dan 'Tawadu'. Nilai-nilai spiritual dipajang sebagai produk style hidup. Citra Hasil AI

Namun, di sisi lain, kerusakan nan paling dalam bukan pada permainan imej/citra, melainkan pada tubuh dan jiwa mereka nan bekerja di dalamnya. Santri senior nan berkhidmat kepada kiai, mengurus dapur, mengasuh adik kelas, menjaga gerbang hingga larut, sering melakukannya tanpa bayaran nan layak, dan anehnya mereka tidak merasa dipaksa. Mereka merasa berbakti. Di sinilah Han menemukan corak penindasan paling licin abad ini, nan dia sebut pemanfaatan diri. Tidak ada mandor dari luar nan bengis mengawasi mereka bekerja. nan mengawasi adalah bunyi dalam diri sendiri nan berbisik bahwa capek ini bakal berbuah berkah, bahwa mengeluh berfaedah kurang ikhlas. Manusia nan percaya dirinya bebas, pada kenyataannya sedang memeras dirinya sendiri hingga pemisah paling akhir, dan lantaran pemerasan itu berasal dari dalam, dia tidak pernah terasa seperti penindasan. Seorang santri bisa tidur tiga jam semalam demi menyelesaikan tugas piket sekaligus menghafal, lampau tersenyum ketika ditanya kabar, lantaran mengeluh dianggap sebagai tanda lemah iman, bukan tanda tubuh nan butuh istirahat.

Eksploitasi Diri. Citra Hasil AI.

Kesalehan pun perlahan berubah menjadi instrumen kendali nan jauh lebih efektif daripada tongkat rotan. Han menamainya psikopolitik, kekuasaan nan bekerja lewat pengelolaan perasaan, bukan lewat larangan. Narasi tentang pahala, tentang ketaatan kepada guru, tentang keberkahan nan menanti di ujung kesabaran, bisa dengan mudah dipakai untuk menjinakkan pertanyaan kritis. Siapa nan berani menuntut kewenangan ketika tuntutan itu bisa dibaca sebagai kurangnya rasa syukur. Kepatuhan nan dulunya lahir dari cinta kepada ilmu, sekarang rawan ditunggangi menjadi kepatuhan nan lahir dari rasa bersalah. Seorang pengurus pondok nan menuntut kenaikan honor, misalnya, bisa dengan mudah dibungkam bukan lewat ancaman, melainkan lewat pertanyaan halus, apakah dia mengabdi lantaran Allah alias lantaran uang. Pertanyaan itu terdengar suci, padahal fungsinya menutup ruang tawar menawar nan wajar.

Psikopolitik. Citra Hasil AI

Di luar gerbang pesantren, pasar kerja juga ikut menuntut wajah baru dari seorang santri. Istilah santripreneur dan santri digital lahir bukan tanpa maksud. Ilmu nan dulunya dicari demi pengetahuan itu sendiri, thalabul ilmi nan tidak menuntut jawaban segera, sekarang diminta membuktikan kegunaannya dalam nomor omzet dan jumlah pengikut. Sanad keilmuan nan dulu diwariskan lewat mata nan berjumpa mata, lewat "sujud" nan lama di hadapan guru, sekarang diringkas menjadi sertifikat nan bisa dipajang di linimasa. Bukan berfaedah sertifikat itu jahat, tetapi ketika transmisi spiritual nan lambat dan individual itu direduksi menjadi pengesahan umum semata, sesuatu nan esensial ikut lenyap dalam perjalanan. Lembar kertas Ijazah sekarang lebih mudah dipercaya daripada mata nan menatap lama, padahal pengetahuan pesantren dulunya justru tumbuh dari tatapan itu, dari waktu nan dihabiskan berdua tanpa terburu selesai.

Santripreneur & Omzet. Citra Hasil AI

Yang paling menyayat dari pembacaan Han adalah korban dari proses ini jarang menyadari dirinya korban. Mereka justru merasa sedang naik kelas, sedang menjadi santri nan relevan, santri nan mengikuti zaman. Perasaan tertindas, kata Han, sudah lama diganti oleh emosi kandas secara pribadi. Ketika seorang santri kelelahan, dia tidak lagi menyalahkan sistem nan menuntutnya bekerja tanpa henti atas nama berkah, dia menyalahkan dirinya sendiri lantaran dianggap kurang tulus menjalani proses. Di titik ini, pesantren nan semula berdiri sebagai ruang perlawanan terhadap logika pasar, diam-diam berbalik menjadi salah satu mesin nan paling rapi menjalankan logika itu, justru lantaran memakai bahasa langit untuk membenarkan kelelahan di bumi.

Kelelahan demi apa? Citra Hasil AI.

Ironi ini bertambah pahit ketika disandingkan dengan sejarah kelahiran pesantren itu sendiri. Dulu, pesantren tumbuh justru sebagai perlawanan terhadap era kolonial nan serba menghitung untung rugi, sebuah ruang nan sengaja dijaga lambat agar manusia sempat mengenal dirinya sebelum dikenal pasar. Kini, ketika kolonialisme bentuk sudah lama pergi, kolonialisme nan lebih lembut datang lewat algoritma, lewat tuntutan tampil, lewat bujukan pengesahan instan nan terasa manis di lidah namun perlahan mengikis apa nan dulu membikin pesantren berbeda dari bumi luar.

Bukan berfaedah seluruh bumi pesantren telah jatuh ke lembah ini. Masih banyak ustad nan menolak menghitung berkah dengan kalkulator, tetap banyak santri nan mengaji lantaran rindu, bukan lantaran tayang. Masih ada pondok nan justru mematikan telepon genggam santrinya di jam mengaji, bukan demi konten, melainkan demi mengembalikan "ruang sunyi" nan dulu memang menjadi rumah bagi ilmu. Tetapi arah angin patut diwaspadai, karena "kapitalisme lanjut," sebagaimana dibaca Han, tidak pernah datang dengan wajah serigala. Ia datang dengan wajah nan tersenyum, menawarkan pertumbuhan, menawarkan pengakuan, menawarkan rasa berguna, sementara diam-diam mengambil sesuatu nan jauh lebih berharga, ialah waktu nan lambat, kesunyian nan jujur, dan pengabdian nan tidak butuh disaksikan siapa pun.

Barangkali tugas pesantren hari ini bukan menolak zaman, karena menolak sepenuhnya hanya bakal membuatnya makin terasing dari generasi nan lahir berbareng layar. Tugas nan lebih berat justru mengembalikan jarak, mengizinkan ritual melangkah lambat lagi, mengizinkan khidmat tetap menjadi rahasia antara santri dan Tuhannya, tanpa perlu ditukar dengan tanda jempol dari bumi nan mudah lupa. Sebab keberkahan, jika dia sungguh ada, tidak pernah butuh kamera untuk membuktikan dirinya nyata, dan "sinterklas" nan sesungguhnya, jika boleh dipinjam konsep dan istilahnya sekali lagi, hanya perlu nan Satu, nan mengetahui kebaikan hamba-Nya apalagi sebelum kebaikan itu sempat diunggah ke mana pun.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan