Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap kelanjutan dari rencana Rusia untuk terlibat dari hilirisasi bauksit di Indonesia. Nantinya, Rusia bakal membangun pabrik hilirisasi bauksit menjadi alumina di Kalimantan.
Ia menjelaskan, nantinya Rusia datang melalui salah satu raksasa produsen aluminium dan alumina di bumi milik mereka ialah UC Rusal.
“Oh iya, itu dengan Rusal. Mereka bakal membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina dan itu di wilayah Kalimantan,” kata Bahlil ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (!1/9).
Saat ini, perizinan Rusal untuk proyek hilirisasi tersebut nyaris rampung. Rusal juga disebut bakal menggandeng perusahaan Indonesia.
“Untuk urusan perizinannya sudah tahap nyaris final dan kita memang melakukan kerjasama dan mereka melakukan kerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” ujarnya.
Meski demikian, Bahlil belum bisa mengungkap nilai investasi dari Rusal untuk pembangunan pabrik tersebut. Selain itu, Bahlil juga tidak mendetailkan perusahaan lokal mana nan digandeng Rusal untuk proyek tersebut.
Sebelumnya, investasi hilirisasi bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II 2026. Realisasi investasi sektor ini mencapai Rp 40,1 triliun, melonjak 193 persen dibandingkan triwulan I 2026 nan sebesar Rp 13,7 triliun.
Berdasarkan laporan Kementerian Investasi terbaru, Selasa (21/7), lonjakan tersebut membikin bauksit untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser nikel nan selama ini mendominasi investasi sektor pengolahan mineral.
Peningkatan investasi itu didorong percepatan pembangunan akomodasi pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit di dalam negeri. Kondisi tersebut menunjukkan arah hilirisasi nasional mulai berkembang lebih merata dan tidak lagi hanya berjuntai pada industri nikel.
38 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·