Pelaku upaya menilai pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian serius bagi bumi upaya lantaran tekanan terhadap rupiah saat ini terus berpotensi menciptakan level terendah baru alias all-time low.
Berdasarkan info Bloomberg, satu dolar AS setara Rp 17.606 pada Jumat pagi (15/5) pukul 09.35 WIB. Namun rupiah menguat 0,37 persen menjadi Rp 17.594 per dolar AS pada pukul 12.23 WIB.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyatakan tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari dinamika dunia nan lebih luas.
Dia menjelaskan, kenaikan yield US Treasury akibat kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat (AS) serta eskalasi perang geopolitik telah mendorong perpindahan aliran modal dunia ke aset berbasis dolar AS, sehingga berakibat pada banyak negara berkembang, seperti Indonesia.
“Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan nan terjadi bukan berkarakter sementara, tetapi berpotensi bersambung selama aspek dunia tetap belum mereda,” kata Shinta saat dihubungi kumparan, Jumat (15/5).
Bagi bumi usaha, kondisi tersebut dipandang sebagai guncangan eksternal nan memperbesar tekanan terhadap struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah disebut secara langsung meningkatkan biaya impor, terutama lantaran industri nasional tetap sangat berjuntai pada bahan baku impor. Saat ini sekitar 70 persen bahan baku manufaktur berasal dari luar negeri, sementara kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55 persen dari struktur biaya produksi.
“Oleh lantaran itu, setiap depresiasi rupiah bakal langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” tutur Shinta.
Shinta melanjutkan, sektor nan paling rentan disebut meliputi industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis daya nan mempunyai ketergantungan impor tinggi. Contohnya, kenaikan nilai nafta sebagai bahan baku utama industri plastik disebut telah mendorong kenaikan nilai resin hingga puluhan persen dan berakibat berantai pada industri bungkusan maupun sektor hilir lainnya.
“Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure nan tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi mempunyai pengaruh transmisi nan luas ke seluruh rantai pasok,” ucap Shinta.
Selain dari sisi operasional, tekanan juga dirasakan pada aspek finansial korporasi. Penguatan dolar AS disebut meningkatkan beban tanggungjawab perusahaan dalam kurs asing, baik pembayaran kembang maupun pokok utang. Menurut Shinta, perihal tersebut memengaruhi pengelolaan arus kas serta meningkatkan profil akibat perusahaan.
“Dalam kondisi daya beli nan belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian nilai juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya kudu diserap oleh pelaku usaha. Ini nan kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.
Dalam menghadapi situasi tersebut, bumi upaya disebut mulai menerapkan strategi nan lebih hati-hati dan berbasis penyesuaian akibat dan prudent. Pendekatan selective growth disebut menjadi pilihan, di mana ekspansi tetap dilakukan tetapi lebih selektif dengan mempertimbangkan prospek permintaan, efisiensi biaya, serta kepastian imbal hasil investasi.
“Sementara itu investasi nan berkarakter lebih spekulatif alias sangat berjuntai pada kondisi eksternal condong ditunda,” kata Shinta,
Dari sisi mitigasi risiko, Shinta menyebut pelaku upaya juga memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai alias hedging terhadap perubahan kurs serta menata kembali struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan kurs asing. Pelaku upaya pun sekarang konsentrasi melakukan efisiensi melalui rasionalisasi shopping modal, optimasi modal kerja, dan peningkatan produktivitas.
“Selain itu, diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor mulai dilakukan, meskipun kami memandang bahwa keahlian substitusi domestik saat ini tetap terbatas di banyak sektor,” ucap Shinta.
Shinta pun menilai sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat krusial di tengah kuatnya tekanan eksternal dan terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan.
“Dunia upaya pada prinsipnya tetap berkomitmen untuk menjaga resiliensi, sekaligus menangkap kesempatan secara selektif, dengan pendekatan nan terukur dan kerjasama kebijakan nan kuat. Kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus melangkah secara berkelanjutan,” pungkas Shinta.
17 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·