Feby Novalius
, Jurnalis-Kamis, 11 Juni 2026 |15:08 WIB

Tekanan terhadap rupiah, keluarnya sebagian biaya asing dari pasar keuangan, sorotan lembaga pemeringkat dan penyedia indeks global. (Foto :Okezone.com/Freepik)
JAKARTA - Tekanan terhadap rupiah, keluarnya sebagian biaya asing dari pasar keuangan, sorotan lembaga pemeringkat dan penyedia indeks global, serta keputusan Bank Indonesia untuk meningkatkan suku kembang di luar agenda rutin menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang menghadapi ujian kredibilitas.
Menurut Ekonom Great Institute, Yossi Martino, ujian kredibilitas tersebut merupakan akibat logis dari langkah berani pemerintah nan tengah melakukan pergeseran paradigma (paradigm shift). Menurutnya, pemerintah sedang mentransformasi tatanan ekonomi dari nan sebelumnya sangat bertumpu pada stabilitas makroekonomi ortodoks dan sistem pasar (market-driven), menuju model Developmental State alias negara pembangunan nan lebih digerakkan oleh negara.
“Sejarah membuktikan bahwa negara-negara emerging markets sering kali memerlukan intervensi negara nan garang untuk melakukan lompatan struktural. Mekanisme pasar bebas terbukti terlalu lambat untuk mengentaskan kemiskinan struktural, menyelesaikan persoalan stunting, alias mendorong hilirisasi. Di sinilah instrumen seperti MBG dan pembentukan superholding Danantara menjadi logis secara konsep,” ujar Yossi, Rabu (11/6/2026).
Yossi menjelaskan, gejolak pasar nan terjadi saat ini sejatinya merupakan kejadian nan dapat dibaca melalui kacamata Teori Perubahan Kelembagaan (Institutional Change Theory). Mengacu pada pemikiran ekonomi-politik struktural, setiap upaya transformasi, seperti merombak patokan main (rules of the game) tata niaga melalui Danantara alias mengembalikan peran negara dalam pengedaran kekayaan melalui MBG, condong mendisrupsi ekuilibrium lama dan memicu friksi.
“Setiap transformasi sosial nan besar condong diikuti guncangan. Pasar bereaksi keras lantaran agenda-agenda baru ini menggeser ekuilibrium lama dan memaksa mereka menghitung ulang risiko. Dalam ekonomi terbuka, pasar bukan tujuan akhir, tetapi sinyalnya tidak boleh diremehkan. nan diuji oleh pasar hari ini bukanlah niat baik dari perubahan sosial tersebut, melainkan apakah masa transisi ini dikelola dengan kepastian. Ketika pasar mulai meragukan arah fiskal alias tata kelola program strategis, biaya ekonominya bakal kembali kepada masyarakat melalui rupiah nan lebih lemah, kembang nan lebih tinggi, dan ruang fiskal nan lebih sempit,” ujar Yossi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·