Rupiah Melemah, Pengusaha Kawasan Industri Sebut RI Masih Menarik buat Investasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi area industri. Foto: Shutter Stock

Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) optimistis pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan investasi.

Berdasarkan info Bloomberg, Senin (8/6) pukul 12.09 WIB, kurs rupiah melemah 144,50 poin (0,80 persen) ke level Rp 18.180 per dolar AS. Sementara IHSG sempat ambruk 4,15 persen dan kembali ke level 5.362 pada pagi ini.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma'ruf Maulana, menegaskan bahwa kondisi tersebut perlu disikapi secara proporsional. Menurutnya, pergerakan nilai tukar dan pasar modal merupakan bagian dari siklus ekonomi nan selalu terjadi dalam setiap periode ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik, tingginya suku kembang global, volatilitas nilai energi, serta perpindahan modal internasional memang memberikan tekanan kepada banyak negara berkembang, bukan hanya Indonesia.

"Indonesia telah acapkali menghadapi beragam tantangan ekonomi global, mulai dari krisis finansial Asia, krisis dunia 2008, pandemi Covid-19, hingga beragam gejolak geopolitik dunia. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi nasional tidak boleh diukur hanya dari pergerakan harian kurs alias indeks saham, melainkan dari keahlian menjaga aktivitas ekonomi riil, investasi, produksi, dan pembuatan lapangan kerja," ujar Ma'ruf dalam keterangannya, Senin (8/6).

instagram embed

HKI menilai bahwa esensial utama Indonesia sebagai tujuan investasi tetap sangat kuat. Indonesia mempunyai pasar domestik nan besar, bingkisan demografi, kekayaan sumber daya alam, agenda hilirisasi nan terus berkembang, serta jaringan area industri nan semakin matang sebagai pusat manufaktur dan logistik nasional.

Faktor-faktor tersebut tetap menjadi daya tarik utama bagi penanammodal jangka panjang nan memandang Indonesia sebagai pedoman produksi dan pasar nan strategis di area Asia Tenggara.

Menurut HKI, justru dalam situasi seperti saat ini Indonesia perlu mempercepat reformasi struktural nan selama ini telah berjalan. Fokus utama bukan pada kepanikan terhadap gejolak pasar, melainkan memastikan bahwa investasi dapat masuk dan terealisasi lebih cepat.

Penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, kepastian tata ruang, percepatan penyediaan energi, serta peningkatan kualitas prasarana menjadi aspek nan jauh lebih menentukan keputusan investor dibanding perubahan jangka pendek pasar keuangan.

"Investor pada dasarnya mencari tiga hal: kepastian, kecepatan, dan kemudahan. Ketika ketiga perihal tersebut dapat diberikan secara konsisten, maka Indonesia bakal tetap kompetitif meskipun bumi sedang menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik," lanjut Ma'ruf.

video story embed

HKI memandang langkah koordinasi pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas finansial nan terus berupaya menjaga stabilitas sistem finansial serta meningkatkan daya tarik aset domestik untuk menjaga kepercayaan pasar. Langkah-langkah tersebut menjadi sinyal krusial bahwa pemerintah datang dan responsif dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Lebih jauh, HKI meyakini bahwa momentum pelemahan ekonomi dunia justru dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing. Banyak perusahaan multinasional saat ini sedang meninjau ulang rantai pasok dunia mereka dan mencari letak investasi nan lebih efisien, stabil, serta mempunyai pasar nan besar.

Indonesia juga dinilai mempunyai kesempatan besar untuk menangkap arus relokasi industri tersebut andaikan reformasi izin dan percepatan investasi terus dijalankan secara konsisten.

"Sejarah menunjukkan bahwa negara nan bisa bergerak sigap di tengah ketidakpastian justru menjadi pemenang ketika ekonomi dunia kembali pulih. Karena itu, saat ini bukan waktunya pesimis. Ini adalah saat nan tepat untuk memperkuat kerjasama antara pemerintah, bumi usaha, area industri, dan penanammodal guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," tambahnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan