Rupiah Melemah Lagi! Dekati Level Rp18.000 per Dolar AS

Sedang Trending 41 menit yang lalu

 Rupiah Melemah Lagi! Dekati Level Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah Melemah Lagi! Dekati Level Rp18.000 per Dolar AS (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 72 poin alias 0,40 persen ke level Rp17.966 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (1/10/2026). Rupiah kembali melemah mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Analis pasar duit dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal ialah pada hari ini Iran menyatakan telah menerima tanggapan AS atas usulan terbarunya untuk memulihkan gencatan senjata, setelah Presiden Donald Trump menolak rencana sebelumnya nan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai hadiah atas pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

"Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN nan mengutip pernyataan pejabat AS bahwa dia bersedia memberikan keringanan hukuman dan mencairkan biaya Iran nan dibekukan sebagai hadiah atas langkah-langkah 'konkret' dari Teheran mengenai program nuklirnya," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Selain itu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa dia tetap membahas kemungkinan pelarangan ekspor solar AS, meskipun sebelumnya Gedung Putih telah membantah laporan mengenai rencana penerapan larangan menyeluruh selama 90 hari. Isu ini menjadi semakin mendesak mengingat nilai solar AS sempat mencapai rekor tertinggi sebesar USD6,53 per galon pada pekan lalu, sementara persediaan solar AS tetap berada pada tingkat terendah dalam sejarah.

Indeks nilai pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) nan tidak mencakup komponen makanan dan daya serta menjadi tolok ukur inflasi inti pilihan Federal Reserve naik 0,2 persen pada bulan Agustus, nomor nan berada di bawah perkiraan, sehingga memberikan sedikit kelegaan bagi pasar mengenai prospek inflasi.

Data tersebut mendorong para pelaku pasar untuk memangkas secara tajam ekspektasi kenaikan suku kembang pada pertemuan The Fed bulan Oktober. Probabilitas tersirat turun menjadi sekitar 34 persen, dari sebelumnya nyaris 70 persen pada awal pekan.

Pada saat nan sama, shopping konsumen AS pada bulan Agustus mencatat kenaikan tercepat dalam lebih dari satu tahun, nan memperkuat kepercayaan bahwa perekonomian bisa memperkuat menghadapi suku kembang nan lebih tinggi.

Ketahanan tersebut turut menjaga imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Kini, pasar bakal mencermati laporan ketenagakerjaan AS nan bakal dirilis pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku kembang The Fed.

Dari sentimen dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke area ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus. Data Purchasing Managers' Index (PMI) nan dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 alias mengalami ekspansi. PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September nan mencapai 52,4 adalah nan tertinggi sejak Februari 2026 alias tujuh bulan.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑