Rupiah Melemah Harga Mobil BYD Naik Sampai Berapa? Ini Kata Manajemen

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menjadi ancaman baru bagi industri otomotif nasional, terutama pemain kendaraan listrik nan tetap berjuntai pada impor komponen dan bahan baku. Di tengah tekanan tersebut, PT BYD Motor Indonesia mengaku belum berencana meningkatkan nilai jual mobilnya di pasar domestik.

Kondisi ekonomi dunia nan belum stabil, ditambah lonjakan biaya produksi di China seperti nilai chip semikonduktor, mulai memberi tekanan terhadap industri kendaraan elektrifikasi. Namun BYD menyatakan tetap menahan strategi nilai demi menjaga daya beli konsumen Indonesia nan tengah melambat.

"Kami mengerti sekali dan memahami dinamika politik, geopolitik, ekonomi nan terjadi saat ini, baik di Indonesia, baik di global, baik di China dan memang berakibat pada adanya perubahan dari cost of production," ujar Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan dikutip Kamis (21/5/2026).

Meski tekanan biaya produksi meningkat, belum ada perubahan strategi penjualan maupun penyesuaian nilai dalam waktu dekat. Perusahaan sudah memperhitungkan beragam akibat ekonomi sejak awal memutuskan ekspansi ke Indonesia.

"Tapi nan saya sampaikan, BYD di Indonesia investasi jangka panjang dan kita telah memikirkan kondisi-kondisi ini dari masa-masa kita melakukan comprehensive study dan sampai saat ini kami tetap tetap positif dan confident dengan strategi nan kami miliki, baik secara produk, pricing, juga promosi-promosi nan kami bakal lakukan. Sampai saat ini belum ada perubahan dengan adanya situasi-situasi tersebut," katanya.

Belakangan muncul kekhawatiran mengenai industri otomotif mengenai pengaruh domino pelemahan rupiah. Ada potensi kenaikan nilai kendaraan andaikan kurs terus bergerak melemah dalam jangka panjang.

BYD mengakui perubahan nilai tukar tetap mempunyai akibat langsung terhadap sektor manufaktur dan produksi kendaraan listrik. Apalagi sebagian rantai pasok industri elektrifikasi tetap berjuntai pada komponen impor dan material global.

"Ya memang kita cukup prihatin dengan perubahan nilai tukar rupiah dan itu memang sedikit banyak, tentu saja pasti berakibat khususnya di sisi manufaktur dan produksi. Tapi komitmen BYD jangka panjang sampai saat ini, kami belum ada info dan strategi unik menindaklanjuti perubahan dari kenaikan nilai tukar rupiah. Kita tetap pantau dulu situasinya," ujar Luther.

Adapun nilai tukar rupiah dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Merujuk info Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi ini di level Rp17.600/US$, alias tidak berubah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada Rabu (20/5/2026), rupiah ditutup menguat 0,54% ke posisi Rp17.600/US$, setelah Bank Indonesia (BI) meningkatkan suku kembang referensi sebesar 50 pedoman poin menjadi 5,25%.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News