Rupiah Melemah Dinilai Imbas Tensi Geopolitik-Beban Subsidi Energi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Karyawan memperlihatkan duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Nilai tukar rupiah diproyeksi bakal terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan info Bloomberg pukul 13.11 WIB, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.601 per dolar AS, turun 72 poin setara 0,41 persen.

Pengamat mata duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi memanasnya tensi geopolitik dunia hingga besarnya beban subsidi daya domestik.

Ibrahim mengatakan, eskalasi bentrok di area Selat Hormuz menjadi sentimen utama nan mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan nilai minyak dunia. Kondisi itu kemudian berakibat langsung terhadap pelemahan mata duit negara berkembang, termasuk rupiah.

“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 bakal tembus. Kalau seandainya Rp 18.000 tembus bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah itu bakal menembus level Rp 22.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5).

Dia menilai ketegangan antara AS dan Iran usai latihan perang besar-besaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan daya global. Selain itu, potensi suku kembang tinggi lebih lama di AS juga dinilai memperkuat indeks dolar.

“ini nan secara geopolitik secara eksternal membikin dolar mengalami penguatan nilai minyak naik rupiah mengalami dolar mengalami penguatan kemudian nilai minyak naik rupiah melemah,” ujarnya.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti tingginya impor minyak mentah Indonesia nan mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Menurut dia, sekitar 85 persen impor tersebut digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), sehingga meningkatkan kebutuhan dolar AS dan menekan rupiah.

“Permasalahan anggaran nan cukup besar untuk melakukan subsidi terhadap minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan mata duit rupiah,” kata dia.

Ibrahim juga menilai intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar internasional saat libur panjang belum cukup kuat meredam tekanan eksternal. Meski demikian, dia menilai esensial ekonomi domestik tetap relatif baik lantaran kebanyakan kepemilikan obligasi pemerintah berasal dari penanammodal domestik.

Ke depan, Ibrahim memperkirakan BI berpotensi meningkatkan suku kembang referensi pada pertemuan Juni 2026 demi menjaga stabilitas rupiah.

instagram embed

“Kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia dalam pertemuan di bulan Juni ini bakal meningkatkan suku bunga. Ya bisa saja 25 pedoman point sampai 50 pedoman point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata duit rupiah,” tutur Ibrahim.

Pengamat pasar duit sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, juga mengatakan perihal serupa. Menurut dia, rupiah tertekan salah satunya oleh gejolak geopolitik, khususnya di Timur Tengah nan tetap tinggi.

Dia juga memandang penyebab pelemahan rupiah lainnya adalah info ekonomi AS nan tetap bagus, sehingga menurunkan kesempatan Bank Sentral AS untuk memangkas suku kembang acuannya tahun ini.

“Kemarin info penjualan ritel AS menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, sesuai prediksi. Hari ini kelihatannya semua nilai tukar melemah terhadap dolar AS. Indeks dolar AS sudah menguat 1,18 persen sejak penutupan Jumat pekan lampau dari 97.84 ke area 90.00 pagi ini,” kata Ariston kepada kumparan, Jumat (15/5).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan