ilustrasi(Antara)
Nilai tukar Rupiah Indonesia menguat signifikan pada perdagangan Rabu pagi, seiring meredanya tekanan eksternal akibat perkembangan geopolitik global. Rupiah terapresiasi 120 poin alias 0,70% ke level Rp16.985 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di Rp17.105 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan penguatan ini didorong oleh membaiknya sentimen dunia setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
"Jeda bentrok selama dua pekan mendorong penurunan nilai minyak bumi serta melemahnya indeks dolar AS, nan pada akhirnya memberi ruang penguatan bagi mata duit negara berkembang," tuturnya.
Kesepakatan tersebut diumumkan oleh Donald Trump, nan menyebut gencatan senjata bakal berjalan selama dua minggu dan diharapkan diikuti pembukaan kembali Selat Hormuz. Rencana pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berjalan di Islamabad, Pakistan, sebagai bagian dari upaya meredakan bentrok lebih lanjut.
Meski demikian, pihak Iran menegaskan bahwa gencatan senjata tidak serta-merta mengakhiri konflik, dan tetap membuka kemungkinan respons jika terjadi pelanggaran selama proses negosiasi.
Di sisi domestik, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah aspek risiko, termasuk tekanan terhadap fiskal pemerintah serta potensi pelebaran defisit anggaran. Rully menyoroti beban subsidi daya dan tren penurunan rasio pajak sebagai aspek nan dapat memengaruhi stabilitas ekonomi ke depan.
“Jika memandang defisit anggaran triwulan I nan sudah mendekati 1 persen, ada kekhawatiran defisit bisa menembus 3 persen tahun ini,” ujarnya.
Selain itu, pasar juga menunggu rilis info persediaan devisa dari Bank Indonesia nan diperkirakan bakal menjadi parameter krusial bagi arah pergerakan rupiah selanjutnya. Dengan kombinasi sentimen dunia nan mulai mereda dan tekanan domestik nan tetap membayangi, pergerakan rupiah diperkirakan tetap berada dalam kisaran terbatas dalam jangka pendek. (Ant/E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·