
Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan akibat dinamika ekonomi dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. (Foto: Okezone.com)
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan akibat dinamika ekonomi dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan info Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah berada di posisi Rp17.496 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (13/5/2026), alias melemah 4,6 persen secara year-to-date (ytd).
Sementara di pasar spot pada penutupan Jumat (15/5/2026), rupiah bertengger di level Rp17.596 per dolar AS.
Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bergerak sigap memperkuat kerjasama guna menahan depresiasi mata duit Garuda di tengah melonjaknya indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury nan mendekati 4,5 persen.
BI menekankan pentingnya kerja sama seluruh pihak dalam menghadapi tantangan eksternal nan turut menekan mata duit negara Asia lainnya, seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, dan won Korea Selatan.
“Kami membujuk semua elemen, semua unsur negeri untuk sama-sama bersinergi dan bekerja-sama membantu ekonomi negara ini dengan peran kita masing-masing,” ujar Ramdan di kompleks BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Selain tekanan eksternal, rupiah secara musiman juga terbebani aktivitas repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri korporasi. Untuk memitigasi akibat tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo menyiapkan tujuh jurus penguatan rupiah.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·