Rumah Singgah

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Masjid NU At-Taqwa Koga Ibaraki Jepang. Dok. Pribadi

Pagi terakhir di Koga, saya berebahan lebih lama dari nan seharusnya.

Langit-langit bilik itu putih kekuningan, dengan retak mini di perspektif kiri nan sudah saya hafal seperti menghafal wajah seseorang nan sering ditemui. Pertama kali saya melihatnya di musim dingin pertama, ketika salju turun diam-diam di luar jendela dan saya belum terbiasa dengan jenis kesenyapan nan berbeda di negeri orang. Sekarang retak itu terasa seperti tanda tangan. Seperti sesuatu nan hanya bisa dibaca oleh orang nan sudah cukup lama tinggal untuk mengenal detailnya.

Udara bilik itu dingin. Cahayanya abu-abu, seperti hari nan belum memutuskan bakal menjadi apa.

Saya kudu pergi. Kontrak selesai, koper sudah nyaris penuh, tiket sudah dicetak. Semua tanda lahiriah kepergian sudah ada. Tetapi ada sesuatu nan lebih berat dari koper itu, sesuatu nan tidak ada labelnya, nan tidak masuk dalam pemisah bagasi mana pun, dan saya tidak tahu persis sejak kapan dia menjadi seberat itu.

Yang paling mengejutkan bukan rasa beratnya. nan mengejutkan adalah kesadaran nan datang terlambat, bahwa saya tidak tahu sejak kapan bilik orang lain itu saya anggap milik saya.

Inilah kesalahan nan kita ulangi tanpa pernah betul-betul menyadarinya. Kita diberi izin singgah di sebuah tempat, di sebuah peran, di sebuah keadaan, dan tanpa ada janji nan resmi, tanpa ada penyerahan kunci nan disaksikan siapa pun, kita mulai berbicara dalam hati: "Ini milikku". Kita menanamkan bendera di tanah nan sejak awal bukan milik kita untuk dimiliki. Dan ketika tiba waktunya pergi, kita bingung sendiri kenapa langkah kaki terasa begitu berat, padahal nan berat bukan langkahnya. Melainkan bendera nan kita lupa mencabut.

Saya adalah Imam Besar. Kalimat itu, nan pada awalnya hanya penjelasan pekerjaan, perlahan menjadi sesuatu nan lain. Ia menempel. Ia meresap ke dalam langkah saya memperkenalkan diri, langkah saya berdiri di depan mimbar, langkah saya menjawab pertanyaan, apalagi langkah saya berdiam diri ketika tidak ada nan perlu dikatakan. Jabatan itu bukan lagi baju nan saya pakai. Ia sudah menjadi kulit.

Imam Besar Masjid NU at-Taqwa Koga Ibaraki Jepang. Dok. Pribadi

Ada perbedaan nan sangat besar antara dua langkah seorang manusia memandang dirinya. nan pertama berkata: "Saya imam". nan kedua berkata: "Saya sedang menjalankan amanah sebagai imam". nan pertama adalah kepemilikan. nan kedua adalah kesadaran. Dan jarak antara keduanya, nan di permukaan terdengar hanya soal pilihan kata, rupanya menentukan segalanya tentang gimana seseorang memperkuat ketika amanah itu selesai dan hidup meminta dia melangkah ke tempat berikutnya.

Saya tidak selalu berada di posisi nan kedua. Itu nan perlu saya akui pertama-tama, sebelum nan lain-lainnya.

Tetapi ada nan lebih rumit dari sekadar persoalan identitas dan jabatan. Ada nan sudah ada jauh sebelum perjanjian itu berakhir, apalagi ketika saya tetap berdiri di atas mimbar dan bunyi saya tetap terdengar sampai ke sudut-sudut masjid nan paling jauh.

Tidak semua orang menyukai saya di sana.

Saya perlu menulis kalimat itu pelan-pelan lantaran dia membawa berat nan berbeda dari kalimat lainnya. Bukan lantaran dia tentang masa lampau nan sudah selesai. Tetapi lantaran dia terjadi di tengah-tengah apa nan sering saya ceritakan kepada diri sendiri sebagai masa terbaik saya.

Tafsrus Al-Quran di bulan Ramadan. Dok. Pribadi

Ada jemaah nan datang setiap Jumat tetapi matanya tidak pernah betul-betul hangat ketika berjumpa saya. Ada orang-orang nan menghormati posisi tetapi tidak meletakkan kepercayaan pada orangnya. Ada bisik-bisik nan tidak selalu sampai ke telinga saya secara langsung tetapi selalu terasa kehadirannya, di ruang-ruang nan tiba-tiba menjadi sedikit lebih sunyi ketika saya masuk, di senyum-senyum nan berakhir tepat di pemisah bibir dan tidak sampai ke mata. Ada nan tidak setuju dengan langkah saya memimpin. Ada nan merasa mereka bisa melakukan lebih baik. Ada nan membawa sesuatu nan lebih sederhana dan lebih manusiawi dari semua itu, ialah mereka hanya tidak cocok dengan saya, dan ketidakcocokan itu sendiri sudah cukup untuk menciptakan jarak nan tidak pernah betul-betul tertutup meskipun kami berdiri dalam saf nan sama setiap pekan.

Jemaah salat Id di Masjid NU at-Taqwa. Dok. Pribadi

Tidak ada nan menulis tentang pemimpin nan juga, kadang-kadang, merasa kesenyapan di tengah jemaahnya sendiri. Tidak ada nan menulis tentang momen ketika seseorang berdiri di depan saf nan panjang dan merasakan, di kembali seluruh kemegahan posisinya, bahwa ada bagian dari kerumunan itu nan datang bukan lantaran dia, alias apalagi meskipun dia.

Saya merasakan itu. Dan saya tidak selalu tahu gimana menanganinya dengan baik.

Ada kemarahan nan datang di momen-momen seperti itu. "Saya marah", kata sesuatu di dalam diri saya. Dan kata itu langsung mengunci saya di dalam api nan saya kira adalah diri saya, padahal dia hanya keadaan nan sedang lewat. Saya belajar, dengan langkah nan memerlukan lebih banyak waktu dari nan seharusnya, untuk mencoba memandang dengan langkah nan berbeda. Bukan saya marah. Melainkan kemarahan sedang singgah dalam diri saya, dia datang bukan untuk menetap, melainkan untuk menyampaikan sesuatu nan belum saya dengarkan dengan cukup tenang.

Pesan nan dia bawa, ketika akhirnya saya mau duduk bersamanya cukup lama, rupanya bukan tentang orang-orang nan tidak menyukai saya. Ia tentang seberapa dalam saya tetap menggantungkan ketenangan saya pada persetujuan mereka. Bahwa saya belum sepenuhnya bebas selama ketenangan saya tetap bisa diganggu oleh pandangan seseorang nan apalagi namanya tidak selalu saya ingat dengan tepat.

Ketidaksukaan itu adalah tamu juga. Dan seperti semua tamu, dia datang membawa pesan. Tugas saya bukan mengusirnya sebelum dia selesai berbicara. Tugas saya adalah mendengarkan, mengambil nan perlu diambil, lampau membiarkannya pergi.

Seorang pemimpin nan berambisi dicintai semua jemaahnya sedang berambisi sesuatu nan tidak pernah dijanjikan oleh pekerjaan itu. Dan ketika angan nan tidak dijanjikan itu tidak terpenuhi, sakitnya terasa seperti pengkhianatan, padahal dia hanya realita nan dari awal memang sudah ada di sana, menunggu untuk diakui.

Kegiatan Rutin Subuh Ceria di Ahad Pagi. Dok. Pribadi

Pulang ke Indonesia, dengan semua itu di dalam "koper nan tidak kelihatan", bukan sekadar perpindahan geografis.

Tidak semua orang senang dengan kepulangan seorang pemimpin dari Jepang. Tetapi sekarang saya mengerti bahwa ini bukan buletin baru. Tidak semua orang senang dengan keberadaan seorang pemimpin di Jepang juga. Penerimaan universal adalah fiksi nan kita ceritakan kepada diri sendiri untuk membikin ambisi kita terasa lebih mulia dari nan sebenarnya.

Ada nan menyambut dengan hangat. Ada nan menyambut dengan tak bersuara nan berbeda kualitasnya dari tak bersuara nan ramah. Ada nan memandang perjalanan ini sebagai bahan evaluasi. Ada nan apalagi tidak terlalu peduli ke sana ke sini lantaran mereka punya kehidupan mereka sendiri nan tidak berpusat pada kehadiran alias kepergian saya.

Yang terakhir itu, nan paling susah diterima oleh ego, adalah nan paling jujur.

Saya tidak sebesar nan saya kira di dalam kepala saya. Mengakui itu, nan pertama kali terasa seperti kekalahan, rupanya adalah semacam pembebasan. Sesuatu runtuh. Sesuatu nan runtuh itu membikin ruang.

Sebelum sesuatu nan baru bisa tumbuh, tanah perlu dikosongkan dulu. Dan pengosongan tanah tidak pernah terasa menyenangkan dari dalam. Ia berdebu. Ia berisik. Ia tidak bagus sama sekali ketika sedang terjadi. Keindahannya hanya terlihat dari jarak waktu nan cukup, ketika kita sudah berdiri cukup jauh untuk memandang bahwa di tanah nan sama, sesuatu nan baru sedang belajar tumbuh.

Keluarga Besar Jemaah Masjid. Dok. Pribadi

Tantangan nan paling konkret seringkali adalah nan paling susah dibicarakan.

Keuangan adalah salah satunya. Seorang dai nan baru pulang dari luar negeri, dengan segala label dan rekam jejaknya, tidak secara otomatis mempunyai penghasilan. Reputasi tidak bisa bayar tagihan listrik. Pengakuan tidak bisa dikonversi langsung menjadi beras di dapur. Dan ada semacam tekanan nan bekerja dari dua arah sekaligus, dari dalam berupa standar hidup nan sudah terbentuk dan tidak mudah disesuaikan begitu saja, dari luar berupa ekspektasi bahwa seseorang dengan latar belakang seperti saya seharusnya sudah punya semuanya beres.

"Seharusnya". Kata itu adalah salah satu kata paling rawan dalam kosakata manusia.

Tetapi kesempitan ini juga tamu. Ia datang membawa pesannya sendiri. Ia membersihkan sesuatu nan tidak bisa dibersihkan dengan langkah lain, asumsi-asumsi nan sudah terlalu lama tidak dipertanyakan, ketergantungan pada identitas eksternal nan rupanya lebih rentan dari nan saya kira, kepercayaan bahwa nilai saya sebanding dengan posisi nan sedang saya tempati.

Kesedihan dan kesempitan bekerja. Bukan sebagai hukuman. Sebagai persiapan. Ia menggugurkan nan sudah usang, mencabut akar nan sudah membusuk jauh di bawah tanah nan saya kira subur. Dan sebelum pemberian nan baru bisa tiba, tempatnya perlu dikosongkan lebih dulu. Saya belum tahu dengan pasti apa nan sedang dipersiapkan. Tetapi saya mulai percaya bahwa pengosongan ini bukan akhir. Bahwa nan mengambil dan nan memberi adalah nan sama.

Tawakal bukan menyerah. Tawakal adalah terus melangkah sembari melepaskan kebutuhan untuk menentukan sendiri ke mana langkah itu bakal berakhir.

Di kota Kraksaan sekarang, saya mengajar. Saya mendampingi santri. Saya menulis. Saya kembali ke ritme nan sudah lama saya kenal tetapi nan juga, setelah sekian waktu, terasa seperti baju lama nan perlu sedikit penyesuaian sebelum pas lagi di tubuh.

Tidak ada jemaah ribuan orang setiap Jumat. Tidak ada panggung internasional. Tidak ada kedudukan nan membikin orang mengangguk sedikit lebih dalam ketika berjabat tangan.

Ada kelas nan perlu disiapkan. Ada santri nan perlu didengarkan. Ada kolega nan tidak semuanya meletakkan simpati, persis seperti dulu di Koga, persis seperti di mana pun manusia berkumpul dalam jumlah nan cukup untuk menghasilkan gesekan.

Dan saya mulai mengerti bahwa pola nan sama, bahwa tidak semua orang bakal berpihak, bukan masalah nan perlu diselesaikan. Ia adalah kondisi nan perlu diterima. Tugas seorang pengajar, tugas seorang manusia nan memilih datang di tengah manusia lain, bukan mengumpulkan persetujuan sebanyak-banyaknya. Melainkan menyampaikan nan dipercayakan dengan sepenuh hati, kepada semua orang termasuk nan tidak menyukai kita, lampau melepaskan kebutuhan untuk menentukan gimana dia diterima.

Di sinilah nan paling sulit. Bukan di momen dramatis ketika pesawat bergerak meninggalkan Narita. Bukan di malam-malam besar nan penuh perasaan. Tetapi di pagi-pagi biasa ketika saya bangun dan kehidupan nan ada di depan saya tidak terasa semegah kehidupan nan ada di kenangan, dan saya kudu memilih, apakah saya bakal menghabiskan hari ini untuk meratapi jarak antara keduanya, alias untuk datang sepenuhnya di dalam apa nan ada sekarang.

Setiap hari adalah pilihan itu. Dan tidak setiap hari saya memilih dengan benar.

Tetapi saya sedang belajar untuk tidak menunjukkan wajah masam kepada kehidupan nan sedang tidak melangkah sesuai gambaran nan saya harapkan. Bukan lantaran saya tidak merasakan beratnya. Bukan lantaran saya sukses menjadi seseorang nan kebal terhadap kekecewaan. Melainkan lantaran saya mulai percaya bahwa semua keadaan ini sedang bergerak menuju pintunya sendiri. Keadaan sempit ini juga sedang melangkah ke sana. Ia tidak bakal tinggal selamanya, sebagaimana keadaan lapang di Koga dulu juga tidak tinggal selamanya. Dunia memang tidak diciptakan untuk diam. Ia diciptakan untuk mengalir. Dan seseorang nan mencoba menahan aliran itu bakal melelahkan dirinya sendiri jauh sebelum arusnya berhenti.

Pagi terakhir di Koga, saya akhirnya berdiri. Saya lipat sajadah untuk terakhir kalinya di bilik itu. Saya buka pintu dan saya tidak menoleh.

Tetapi jujurnya, sebagian dari saya tetap menoleh sampai sekarang.

Halal bi Halal Jemaah Masjid. Dok. Pribadi

Masih mau membuktikan sesuatu kepada orang-orang nan dulu tidak berpihak, baik nan di Koga maupun nan di sini. Masih mau ada momen di mana semuanya menjadi jelas dan semua penilaian nan tidak setara akhirnya diralat secara terbuka. Masih berdiri di periode pintu itu, satu kaki di dalam dan satu kaki di luar, belum sepenuhnya memutuskan ke mana berat badan kudu ditumpukan.

Momen pembuktian itu mungkin tidak bakal datang. Dan saya sedang belajar bahwa tidak datangnya momen itu bukan kekalahan.

Semua nan datang dalam hidup ini, jabatan, pengakuan, cinta nan tulus dari jemaah nan matanya ikut hangat, ketidaksukaan nan tidak pernah betul-betul menjelaskan dirinya sendiri, kesempitan nan datang tanpa jadwal, kehangatan nan tiba-tiba, pendinginan nan perlahan, kenangan tentang Koga nan tetap terlalu bercahaya dibandingkan dengan apa nan ada di depan saya sekarang, semuanya hanya singgah. Semuanya datang membawa pesan. Dan tugas saya bukan mengusir nan tidak lezat alias mengurung nan menyenangkan. Tugas saya adalah mendengarkan pesannya sampai selesai, mengambil apa nan perlu diambil, lampau membiarkannya pergi dengan tangan nan terbuka.

Rumah nan sesungguhnya bukan tempat di mana kita pernah berdiri dengan paling gagah. Rumah nan sesungguhnya adalah keadaan di mana kita datang sepenuhnya di mana pun kita berdiri sekarang, termasuk di tempat nan belum terasa semegah nan pernah ada.

Tamasya musim dingin jemaah masjid di resor ski. Dok. Pribadi

Karena pada akhirnya kita juga hanya singgah. Dan Pemilik rumah nan sesungguhnya tahu jauh lebih baik dari kita tentang apa nan perlu datang, berapa lama dia boleh tinggal, dan apa nan perlu dia tinggalkan sebelum dia pergi. nan mengambil dan nan memberi adalah nan sama. Dan kepercayaan pada itu, nan bukan pasrah nan lemas melainkan ketaatan nan terus melangkah, adalah satu-satunya perihal nan tidak bakal ikut pergi ketika kedudukan berganti, letak berpindah, dan pengakuan publik naik turun sesuai musimnya sendiri.

Retak mini di perspektif langit-langit bilik itu tidak bakal ada nan tahu bahwa saya pernah hafal bentuknya.

Dan mungkin memang begitu seharusnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan