Banjir bandang nan menyapu Aceh Tamiang beberapa waktu lampau begitu berbekas bagi Hartati Masirun Mukmin (56 tahun). Tangisnya pecah saat menceritakan musibah nan merusak rumahnya itu.
Hartati mengaku tak punya duit untuk memperbaiki rumah warisan orang tuanya tersebut. Di tengah ujian itu, niatnya tetap teguh untuk berhaji. Ia berterima kasih bisa ke Tanah Suci.
"Uang enggak ada untuk perbaiki rumah. Tapi dengan izin Allah, lantaran panggilan Allah, berkah anak-anak saya, Pak, saya bisa kemari," kata Hartati meneteskan air mata, saat ditemui di Makkah, Selasa (12/5).
Hartati berterima kasih punya tiga anak nan berbakti. Berkat patungan ketiga anaknya ini, dia bisa melunasi setoran sebesar Rp 17 juta untuk naik haji tahun ini.
Meski dia tidak punya apa-apa, tapi lantaran panggilan Allah, kaki Hartati akhirnya bisa menginjakkan Tanah Haram.
"Karena Allah, jika saya sendiri enggak ada [duit], Pak. Rumah aja dikasih warisan sama orang tua belum bisa saya perbaiki," kata wanita nan ditinggal meninggal suaminya sejak 2014 ini.
Sejatinya Hartati mendaftar haji bareng sama suaminya, Muhammad Sofyan. Namun takdir berbicara lain, sang suami wafat pada 2014. Sejak saat itu, dia membesarkan anak-anaknya seorang diri.
Pengorbanan Hartati mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan ikhlas, sekarang dibalas Allah dengan memanggilnya ke Tanah Suci.
Kini, Hartati menjadi salah satu dari 5.425 jemaah haji dari Provinsi Aceh nan sebagian besar sudah sampai di Tanah Suci. Total 14 golongan terbang (kloter), 13 kloter di antaranya masuk fase gelombang kedua.
Perempuan berumur 56 tahun ini bersiap menunggu puncak haji. Wukuf di Padang Arafah, menengadahkan tangan memohon pertolongan dan pembebasan nan Maha Kuasa. Ia merasa sangat berterima kasih atas nikmat nan dia dapatnya.
"Saya berterima kasih mungkin ada di kembali itu Allah berikan rezeki buat saya. Hanya itu, Pak. Entah mungkin saya pulang dari sini saya dapat rezeki, entah rezeki apa saya enggak tahu, rahasia Allah, Pak. Cuma saya percaya saya pulang dari sini saya dapat rezeki dari Allah," kata Hartati.
Mengurus Dokumen nan Rusak
Selain tak ada uang, seluruh arsip kependudukannya lenyap tak tersisa terimbas banjir. KTP, KK, termasuk arsip pendaftaran hajinya sudah tak jelas rimbanya.
“Air itu tiba-tiba langsung sreeet (menerjang) gitu naik. Jadi kami enggak bisa lagi sempat nyingkirkan (menyelamatkan). Barang tuh udah langsung habis, jadi nggak bisa diamankan lagi,” kata dia.
Beruntung, datanya di Kemenhaj dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tetap ada. Sehingga Hartati bisa mendapatkan dokumen-dokumen nan diperlukan untuk berangkat haji.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·