Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung membentuk tim master unik untuk menangani YTR, korban penganiayaan dan penyekapan nan dilakukan Taufik Hidayat, nan saat ini tetap menjalani perawatan intensif.
Tim tersebut dibentuk agar penanganan terhadap korban bisa dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemulihan luka, kondisi mata, status gizi, hingga pemulihan psikis.
Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSHS, dr. Fitra Hergyana, mengatakan pembentukan tim unik itu dilakukan atas pengarahan Direktur Utama RSHS. Menurut dia, kondisi korban memerlukan penanganan lintas disiplin agar proses pemulihan bisa melangkah optimal.
“Atas pengarahan Pak Dirut RSHS kami membikin tim. Tim tersebut terdiri dari master bedah plastik, master mata, master gizi, dan dokter-dokter lainnya. Jadi penanganannya betul-betul komprehensif,” kata Fitra di RSHS Bandung, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan, tim master unik itu bekerja untuk memastikan seluruh kebutuhan medis korban tertangani secara terpadu. Tidak hanya konsentrasi pada luka bentuk akibat penganiayaan, penanganan juga diarahkan pada pemulihan kondisi umum dan psikis korban nan sempat terguncang.
Menurut Fitra, saat ini kondisi YTR berangsur membaik. Luka nan dialami korban mulai menunjukkan perbaikan, sementara kondisi psikisnya juga terus dipulihkan oleh tim medis.
“Untuk lukanya saat ini memang sudah ada perbaikan. Keadaan psikisnya juga sudah membaik. nan berkepentingan sudah bisa mengobrol, sudah bisa makan, dan juga sudah bisa duduk,” ujarnya.
Meski demikian, rumah sakit belum menjadwalkan operasi untuk korban. Tim master saat ini tetap memprioritaskan pemulihan kondisi umum korban sebelum melangkah ke tindakan medis lanjutan.
“Nah, sembari menunggu operasinya, nan krusial sekarang adalah pemulihannya dulu. Setelah keadaan umumnya stabil, baru kita melaksanakan langkah berikutnya,” kata Fitra.
Ia menuturkan, sejauh ini tindakan nan sudah dilakukan terhadap korban adalah debridement alias pembersihan luka. Selain itu, tim master juga sedang memperbaiki status gizi dan memulihkan kondisi psikis korban sebagai bagian dari proses perawatan awal.
“Saat ini kemarin dilakukan debridement. Debridement itu adalah pembersihan luka. Selain itu, keadaan umum dan gizinya juga sedang diperbaiki, begitu juga kondisi psikisnya,” ucapnya.
Fitra menambahkan, keahlian komunikasi korban juga mulai kembali meski belum sepenuhnya lancar. Menurut dia, perihal itu wajar lantaran korban tetap berada dalam tahap pemulihan.
“Untuk berkomunikasi, kebetulan bicaranya tetap sedikit-sedikit ya, lantaran memang tetap dalam masa pemulihan,” katanya.
Dengan dibentuknya tim master lintas spesialis, RSHS mau memastikan penanganan korban tidak dilakukan secara parsial. Setiap perkembangan kondisi korban bakal dipantau berbareng agar langkah medis nan diambil sesuai dengan kebutuhan YTR.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSHS juga mendapat support dari Dinas Kesehatan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam penanganan kasus ini. Dukungan itu dinilai krusial agar proses pemulihan korban bisa melangkah lebih maksimal.
Fitra menegaskan, konsentrasi tim master saat ini adalah memulihkan kondisi korban secara menyeluruh sebelum memutuskan tindakan operasi. Dengan pendekatan komprehensif itu, rumah sakit berambisi pemulihan YTR bisa melangkah lebih baik, baik dari sisi bentuk maupun mental.
“Tadi, kita konsentrasi pada pemulihan keadaan umum dulu. Untuk estimasinya kami belum bisa memastikan berapa lama. nan pasti keadaan psikisnya dipulihkan dulu, lampau gizinya diperbaiki sampai nan berkepentingan betul-betul sehat,” katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·