Deteksi oleh Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona, menunjukkan bukti adanya gumpalan asap di bulan nan disebabkan oleh tumbukan roket SpaceX pada 5 Agustus 2026.(Carl Schmidt/Observatorium Lowell)
BAGIAN atas roket Falcon 9 milik SpaceX menghantam permukaan Bulan pada Rabu (5/8) sekitar pukul 02.35 EDT (06.35 GMT). Roket berbobot 4.000 kilogram tersebut menabrak Bulan dengan kecepatan sekitar 8.690 km/jam, nan diperkirakan menciptakan kawah baru berdiameter hingga 27 meter.
Kini, para intelektual tengah berupaya mendapatkan gambaran letak akibat dengan support sejumlah wahana antariksa.
"Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA dan instrumen ShadowCam milik NASA pada Korea Pathfinder Lunar Orbiter bakal mencari kesempatan untuk mengambil gambar sebelum dan sesudah di letak dampak," kata ahli bicara NASA, Rob Garner.
"Ketersediaan gambar tergantung pada beberapa faktor, termasuk letak dampak, kondisi pencahayaan, dan kapan orbit masing-masing wahana antariksa melintasi area tersebut, nan mungkin menyantap waktu beberapa hari untuk menerima gambar apa pun."
Berbeda dengan tahap pertama Falcon 9 nan dapat mendarat kembali di Bumi untuk digunakan ulang, bagian atas roket ini berkarakter sekali pakai. Biasanya, bagian tersebut diarahkan untuk terbakar di atmosfer Bumi. Namun, perihal itu tidak memungkinkan setelah roket meluncurkan dua pendarat Bulan swasta, Blue Ghost milik Firefly Aerospace dan Resilience milik ispace, ke orbit tinggi pada Januari 2025.
Direktur Program Sains NASA dan Dragon di SpaceX, Julianna Scheiman, menjelaskan penggunaan sebagian besar bahan bakar untuk mencapai orbit jauh membikin roket tidak bisa kembali ke Bumi.
"Untuk misi berenergi tinggi, kami perlu melakukan manuver berbeda untuk memastikan tahap kedua itu sendiri kondusif sesuai patokan dan izin nan berlaku, dan kami telah melakukannya di sini," ujar Scheiman.
Namun, bodi roket tetap dipengaruhi oleh style alam seiring berjalannya waktu.
"Apa nan terjadi adalah, pada dasarnya, campuran aktivitas mentari dan style gravitasi telah menempatkannya pada jalur menuju Bulan," tambah Scheiman.
Meskipun bukan hasil nan direncanakan, kejadian ini memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk mempelajari Bulan lebih lanjut.
"Kantor Lingkungan Meteoroid NASA bakal mencoba memotret akibat di sekitar waktu nan diprediksi menggunakan teleskop berbasis darat di Marshall Space Flight Center milik badan tersebut di Huntsville [Alabama]," lanjut Garner. "Karena kilatan dan hembusan akibat diperkirakan redup, kesempatan untuk memandang apa pun dari Bumi tetap rendah, dan cuaca lokal juga dapat memengaruhi pengamatan. Data apa pun nan dikumpulkan bakal membantu para intelektual memahami dengan lebih baik akibat dari objek buatan dan potensi efeknya pada eksplorasi Bulan di masa depan."
Pengamatan awal dari Bumi telah mendeteksi adanya jejak dari tabrakan tersebut. Ilmuwan di Lowell Observatory, Arizona, melaporkan adanya muatan gas dari area dampak.
"Kami dapat mengatakan dengan kondusif bahwa kami mengukur respons dari akibat tahap roket sebagai hembusan gas natrium dan litium berukuran beberapa puluh kilometer nan berjalan antara 5 hingga 10 menit setelah dampak," kata Carl Schmidt. (Space/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·