Ribuan Peserta Kemah Madrasah se-Sulsel Salat Istisqa Minta Hujan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ribuan Peserta Kemah Madrasah se-Sulsel Salat Istisqa Minta Hujan Para peserta Kemah Pramuka Madrasah menjalankan salat istisqa untuk meminta hujan.(MI/Lina Herlina)

DI tengah cuaca panas menyengat nan melanda Sulawesi Selatan dan memicu kebakaran lahan di sejumlah titik, ribuan peserta Kemah Pramuka Madrasah Provinsi (KPMP) 2026 justru memilih jalan spiritual. Mereka menggelar Salat Istisqa, salat meminta hujan, di Bumi Perkemahan Cadika, Kabupaten Gowa, Kamis (3/9).

Sebanyak 3.000 lebih peserta dari beragam madrasah se-Sulawesi Selatan berkumpul dalam kemah tahunan ini. Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, aktivitas tahun ini mengusung tema nan menyentuh rumor "Semangat Ekoteologi dan Tobat Ekologis."

Tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Kondisi tandus panjang nan melanda wilayah Sulsel membikin lahan-lahan kering dan rawan terbakar. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan baru bakal turun pada akhir Oktober mendatang.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Ali Yafid, menjelaskan bahwa aktivitas ini merupakan respons nyata atas kondisi darurat lingkungan.

"Para peserta tidak hanya kami bekali dengan pengarahan keislaman, tetapi juga edukasi tentang langkah menjaga dan merawat lingkungan agar tidak tercemar. Salat Istisqa ini menjadi bentuk permohonan kepada Allah sekaligus pengingat bagi kami semua bakal tanggung jawab ekologis," ujarnya.

Menariknya, dalam perkemahan ini, aktivitas keagamaan tetap menjadi prioritas. Selain Salat Istisqa, peserta rutin melaksanakan salat berjemaah, kajian agama, dan beragam lomba keislaman. Perpaduan antara ritual spiritual dan tindakan nyata menjaga alam menjadi karakter unik KPMP tahun ini.

Ekoteologi

Sementara itu, Koordinator Staf Khusus Kementerian Agama RI, Farid F Saenong, menambahkan bahwa pendekatan ekoteologi menjadi strategi krusial dalam membangun kesadaran kolektif.

"Ekoteologi membawa pesan-pesan pengamanan lingkungan dengan bahasa agama. Dengan langkah ini, kesadaran bakal pentingnya menjaga lingkungan bisa menjangkau lebih banyak orang dan lebih masif," tegas Farid.

Menurutnya, pendekatan ini efektif lantaran kepercayaan mempunyai pengaruh kuat dalam membentuk perilaku masyarakat, terutama di Sulawesi Selatan nan religius.

Lebih dari sekadar aktivitas perkemahan biasa, KPMP 2026 dirancang sebagai wadah pembentukan karakter. Perpaduan antara aktivitas kepramukaan, pelestarian lingkungan, dan penguatan spiritual menjadi tiga pilar utama perkemahan ini.

Peserta tidak hanya belajar tentang kedisiplinan dan kemandirian sebagaimana lazimnya aktivitas pramuka, tetapi juga diajak merenungkan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Harapannya, melalui momen ini, lahir generasi madrasah nan unggul, cinta tanah air, dan mempunyai kepedulian tinggi terhadap kelestarian alam. Mereka adalah pemasok perubahan nan diharapkan bisa membawa pesan ekoteologi ke lingkungan masing-masing setelah perkemahan usai. (LN/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia