Rial Iran Anjlok ke Rekor Terendah, Tembus IRR 2 Juta per Dolar AS

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Ilustrasi mata duit rial Iran. Foto: Andrzej Rostek/Shutterstock

Mata duit Iran, rial, kembali melemah ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS) setelah perang nan berjalan nyaris enam bulan.

Rial diperdagangkan di level IRR 1,992 juta per dolar AS di pasar tidak resmi pada Senin (24/8), berasas info situs pemantau Bonbast. Nilai tersebut melemah 4,5% sejak Presiden AS Donald Trump pekan lampau mengumumkan operasi ekonomi nan disebutnya bakal “menghancurkan” Teheran.

Situs pemantau tidak resmi lainnya, TGJU, apalagi mencatat nilai tukar rial sempat menembus level 2 juta per dolar AS pada Minggu (23/8), sebelum ditutup sedikit lebih rendah.

Pelemahan rial terjadi seiring langkah AS nan berupaya mengisolasi Iran secara ekonomi. Washington menakut-nakuti sejumlah mitra jual beli Iran nan tetap tersisa, memblokade pelabuhan-pelabuhan utama Iran di Teluk Persia, serta menekan ekspor minyak nan menjadi sumber utama devisa negara tersebut.

Pekan lalu, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan ekspor minyak mentah negaranya sekarang “praktis telah berhenti”.

Tekanan terhadap perekonomian Iran juga bertambah setelah Uni Emirat Arab (UEA), salah satu mitra jual beli utama Teheran, pekan lampau menyatakan telah menangguhkan seluruh transaksi finansial dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Ilustrasi mata duit rial Iran. Foto: Shutterstock

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington berkeinginan memutus seluruh jalur ekonomi nan menopang pemerintahan Iran.

“Tujuan kami adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi nan menopang rezim tirani tersebut hingga Teheran betul-betul berdiri sendiri,” tulis Bessent. Ia juga memperingatkan bahwa “D-Day ekonomi” bakal dimulai pada Senin pagi.

Transfer Valas Tergangu dan Ekspor Turun

Surat berita ekonomi Iran, Donya-e Eqtesad, menyebut anjloknya rial dipicu gangguan dalam transfer kurs asing dan penurunan ekspor. Kondisi tersebut terjadi berbarengan dengan meningkatnya permintaan impor serta naiknya ekspektasi inflasi.

Di tengah tekanan tersebut, Iran berupaya memperkuat kerja sama perdagangan dengan negara-negara nan mempunyai kedekatan dengan China. China, nan menjadi pembeli utama minyak Iran, menyatakan tekanan ekonomi AS tidak bakal sukses dan menyerukan penyelesaian perang melalui jalur diplomasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbincang dalam Forum Al Jazeera ke-17 di Doha saat membahas rumor geopolitik area dan bentrok Timur Tengah (7/2/2026). Foto: Karim Jaafar/AFP

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran bakal semakin mengandalkan golongan dan kerja sama internasional seperti Shanghai Cooperation Organisation (SCO) serta BRICS untuk menghadapi tekanan AS.

“Kami meyakini struktur seperti Shanghai Cooperation Organisation dan golongan BRICS merupakan instrumen nan efektif untuk mematahkan monopoli kekuasaan dan bergerak menuju tatanan internasional nan lebih adil. Iran berkeinginan untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut semaksimal mungkin,” tulis Araghchi dalam artikelnya di surat berita pemerintah Ettela’at.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan