RI Ternyata Masih Ekspor Minyak Mentah, Ini Datanya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini tetap melakukan ekspor minyak mentah (crude oil). Namun, jumlah ekspor minyak mentah ini tetap relatif sangat mini dibandingkan dengan total produksi minyak nasional.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut bahwa saat ini nyaris seluruh hasil produksi minyak dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) nan beraksi dalam negeri sudah dialokasikan untuk kebutuhan kilang domestik. Bahkan, lanjutnya, nyaris 100% dari total produksi minyak nasional sekarang ditujukan untuk pasar kilang dalam negeri.

Adapun salah satu perusahaan migas nan menjual produksi minyaknya untuk diolah di kilang dalam negeri adalah ExxonMobil. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini merupakan produsen minyak terbesar di RI, tepatnya berasal dari Blok Cepu.

"Sekarang sudah 90 nyaris 98%, membaik," ungkap Djoko saat ditanya berapa besar porsi produksi minyak nasional nan diolah di kilang domestik.

"Alhamdulillah nan untuk Exxon Mobil bagian KKKS-nya sudah 100% diolah dalam negeri bisa. Medco tinggal nunggu surat dari Bapak Menteri. Saya sebenarnya sudah kirim surat bahwa perjanjian ekspornya dia, kita apa di dalam klausul kontraknya Medco dengan pembeli luar itu andaikan pemerintah membutuhkan, maka ini bisa ditunda pengiriman tahun berikutnya," jelas Djoko saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Rabu (8/4/2026).

Hingga saat ini, pemerintah memang belum mengeluarkan kebijakan resmi mengenai larangan ekspor minyak mentah secara total. Djoko mengatakan pihaknya tetap memberikan ruang ekspor bagi perusahaan nan sudah terikat kontrak, namun dengan tetap melakukan upaya negosiasi jika kebutuhan domestik meningkat.

"Tahun ini belum ada, belum ada kebijakannya tahun ini tidak diberikan rekomendasi ekspor selain kan nan sudah terkontrak. Nah nan sudah terkontrak itu kontraknya kita melakukan negosiasi lantaran ada klausul bahwa untuk menghentikan perjanjian menunda gitu pelaksanaannya itu kudu ada kebijakan dari pemerintah," tambahnya.

Dengan adanya penemuan baru dari lapangan migas dan hasil negosiasi pengalihan kargo ekspor, pihaknya optimis ketahanan daya di dalam negeri dipastikan terjaga. Strategi memprioritaskan pasokan domestik tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan nomor serapan minyak dan gas nasional di masa mendatang.

"Jadi nan krusial dalam negeri sudah penuh dulu sisanya tetap diekspor," pungkasnya.

Data Ekspor Minyak RI

Mengutip info Handbook of Energy and Economic 2024 nan dirilis Kementerian ESDM pada 2025 lalu, Indonesia tetap mengekspor minyak mentah ke beragam negara.

Negara-negara nan menjadi tujuan ekspor adalah Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan negara lainnya.

Pada 2024 misalnya, Indonesia tercatat mengekspor minyak mentah 27,19 juta barel. Jumlah ekspor minyak ini tercatat "hanya" sekitar 13% dari total produksi minyak mentah RI sebesar 212,33 juta barel pada 2024.

Jumlah ekspor minyak mentah ini terpantau turun pada 2022, namun kembali naik pada 2023 dan 2024.

Indonesia mengekspor minyak mentah sebanyak 25,9 juta barel pada 2019. Lalu, meningkat pada 2020 sebanyak 31,4 juta barel per tahun. Meningkat lagi pada tahun 2021 sebanyak 43,7 juta barel per tahun.

Kemudian, menurun pada tahun 2022 sebanyak 15,4 juta barel per tahun. Lalu, pada 2023 Indonesia mengekspor minyak mentah sebanyak 21,3 juta barel. Kemudian, meningkat kembali tahun 2024 sebanyak 27,1 juta barel per tahun.

Berikut info ekspor minyak Indonesia pada tahun 2019-2024 beserta negara tujuannya. Melansir info Handbook of Energy and Economic 2024 nan dirilis Kementerian ESDM:

2019: 25,97 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Taiwan, Singapura, dan lainnya)

2020: 31,44 juta barel/tahun (Korsel, Singapura, dan lainnya)

2021: 43,76 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Taiwan, Singapura, dan lainnya)

2022: 15,49 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Singapura, dan lainnya)

2023: 21,39 juta barel/tahun (Jepang, Korsel, Singapura, dan lainnya)

2024: 27,19 juta barel/tahun (Jepang, Singapura, dan lainnya).

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News