RI Makin Tekor Dagang dengan China, Defisit US$17,67 M Selama 7 Bulan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Defisit neraca perdagangan peralatan non minyak dan gas (migas) Indonesia dengan China semakin melebar pada periode Januari hingga Juli 2026 alias 7 bulan terakhir.

Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan non migas dengan China pada periode Januari hingga Juli 2026 tercatat US$17,67 miliar. Jumlah tersebut lebih dalam dibandingkan defisit Januari sampai Juli 2026 senilai US$13,18 miliar.

Jumlah tersebut juga membikin defisit neraca jual beli dengan China menjadi nan terbesar dibandingkan dengan mitra jual beli lainnya.

"Penyumbang defisit non-migas terbesar pada kondisi Januari sampai dengan Juli tahun 2026, nan pertama untuk negara Tiongkok," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konvensi pers di Gedung BPS, Jakarta pada Selasa (1/9/2026).

Defisit neraca jual beli peralatan non migas terjadi setelah ekspor peralatan dari Indonesia ke China senilai US$40,62 miliar lebih rendah dari nilai impor senilai US$58,29 miliar pada periode Januari sampai Juli 2026.

Adapun pendorongnya adalah komoditas mesin dan peralatan mekanik serta bagiannya (HS84) nan tercatat defisit US$12,45 miliar.

Selain itu, penyumbang terbesar defisit jual beli antara Indonesia dengan China adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85) sebesar US$12,41 miliar.

Selanjutnya, komoditas penyumbang defisit dari China, ialah dari plastik dan peralatan dari plastik (HS39) dengan nilai defisit US$3,35 miliar.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News