Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini mau beranjak kuadran, dari negara nan mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) menjadi negara nan mengusung teknologi.
Managing Director, Industrilization Danantara mengatakan bahwa arah Presiden Prabowo Subianto adalah melakukan industrialisasi dengan mengandalkan pedoman teknologi.
Arah itu bakal membawa Indonesia beranjak kuadran dari negara nan mengandalkan Sumber Daya Alam menjadi negara industrialisasi dengan pemanfaatan teknologi.
"Jadi Pak Wamen cerita jika pemerintah itu kapal, nah ini kita North Star kita mau kesana ini sebenarnya. Kenapa kita mau pindah dari kuadran negara nan rely on sumber daya alam, resources rich nation, toward more capability driven, toward more technology driven," kata Ardy saat kick off PINISI di instansi pusat Bank Indonesia, Jakarta pada Senin (27/4/2026).
Niat tersebut, ucap Ardy, sebenarnya sudah ada sejak era rezim Soeharto alias 40 hingga 50 tahun nan lampau dan bakal dilakukan saat ini.
"Sebenarnya upaya ini sudah dimulai dari 40-50 tahun lampau dari Jaman Pak Soeharto, ada Pak Habibie, unfortunately, kemudian there was a monetary crisis back in 1998," jelas Ardy.
Danantara kemudian menjadikan industrialisasi ini menjadi prinsip dalam memilih investasi. Danantara juga menetapkan tiga kriteria investasi nan didorong permintaan, didorong strategi, dan didorong oleh sumber daya.
Kriteria nan didorong sumber daya salah satunya adalah program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah.
"Seandainya selama ini kita hanya jual komoditi kita, added value rendah, itu SDA base, resources based economy. Nah, contoh kita nan punya competitive value nan sudah dilakukan selama ini adalah pertama tentunya nickel, kedua CPO," terangnya.
Selanjutnya adalah investasi lantaran dorongan permintaan, Ardy menjelaskan salah satunya untuk menggantikan impor. Inisiasi ini lantaran Danantara memandang bahwa permintaan domestik saat ini besar, namun didominasi oleh permintaan impor.
"Targetnya adalah jika demand itu ada dan hanya being served by import, jika kita bisa melakukan certain investment dan import kita-kita replace, GDP bakal naik lantaran kita mengurangi import."
Kemudian kriteria terakhir adalah investasi nan didorong lantaran strategi, misalnya ada kondisi tidak normal seperti saat ini.
"Ini biasanya didrive apakah itu gejolak politik, contohnya mengenai dengan defense industry, auto industry. Hal-hal nan menjadikan kita bisa menjadi bangsa besar nantinya," ucapnya.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·