RI Dapat Minyak Mentah Rusia 150 Juta Barel, Berapa Harganya?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Utusan Khusus Presiden bagian Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo mengatakan Indonesia bakal mendapatkan 150 juta minyak mentah dari Rusia. Pasokan minyak tersebut diperoleh dengan nilai unik nan sudah disepakati.

Kesepakatan mengenai nilai tersebut merupakan hasil dari kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Rusia. Kerja sama itu menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan daya nasional.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo berjumpa langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan pengadaan minyak mentah bagi Indonesia.

"Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi," ucap Hashim saat memberikan aktivitas Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta, dikutip beberapa waktu nan lalu.

Hashim menjelaskan, awalnya dalam pertemuan dengan Putin, Rusia menyetujui mengirim 100 juta barel dengan nilai khusus. Akan tetapi, jumlah itu bakal ditambah Rusia sebesar 50 juta barel untuk Indonesia dalam menghadapi gejolak dunia.

‎"Dia (Prabowo Subianto) ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu bakal segera dikirim ke Indonesia. 100 juta barel dengan nilai khusus. Dan andaikan Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta," tuturnya.

‎Kesepakatan dengan Rusia mengenai komoditas emas hitam tersebut sebagai upaya dalam ketahanan daya dalam negeri, utamanya terhadap akibat perang di timur tengah nan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Dalam kesempatan berbeda, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang menyiapkan payung izin mengenai skema nan bakal digunakan. Ia menyebut terdapat dua opsi nan sedang dikaji, ialah melalui langsung badan upaya milik negara (BUMN) alias melalui skema Badan Layanan Umum (BLU).

"Nah untuk ini komitmen impor minyak dari Rusia ini kan baru negosiasi kemarin kan sudah disepakati total nan bakal kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Pihaknya memastikan bahwa proses pengiriman minyak tersebut tidak bakal dilakukan sekaligus, melainkan dikirim dalam beberapa tahap. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan kapabilitas tangki penyimpanan minyak (oil storage) di dalam negeri untuk menampung volume sebesar itu secara bersamaan.

"Enggak, skemanya itu kan tidak bisa sekaligus. Itu jika sekaligus itu kan kita memerlukan oil storage di dalam negeri. Itu kan bakal dilakukan impor secara bertahap," kata Yuliot.

Selain pengadaan minyak mentah, Indonesia juga menjajaki impor LPG dari Rusia sebagai diversifikasi sumber pasokan. Namun, Yuliot menegaskan bahwa kerja sama tersebut tidak menggugurkan komitmen daya Indonesia dengan Amerika Serikat nan selama ini memasok sekitar 60% kebutuhan LPG nasional.

"Tadi pagi saya juga rapat dengan Kemlu dan juga dengan beberapa dubes itu juga kita atas komitmen itu tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang. Jadi perusahaan-perusahaan mana nan bisa mensuplai kita dalam waktu cepat," ungkapnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News