RI-China Kembangkan Teknologi Penyimpanan Energi Listrik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Petugas PLN berada di dekat area Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/6/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Indonesia dan China memperkuat kerja sama pengembangan teknologi penyimpanan daya listrik guna mendukung percepatan transisi daya bersih dan meningkatkan keandalan pasokan listrik nasional.

Kolaborasi tersebut sejalan dengan meningkatnya pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), nan memerlukan sistem penyimpanan daya untuk menjaga stabilitas pasokan listrik.

Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Harris, mengatakan pemerintah terus menyiapkan beragam kebijakan untuk mendukung pengembangan teknologi penyimpanan energi, termasuk dari sisi investasi dan pengembangan ekosistem daya bersih nasional.

"Pengembangan sistem penyimpanan daya bakal menjadi bagian krusial dalam mendukung sasaran transisi daya dan pencapaian net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060," ujar Harris dalam keterangannya di EESA Summit Indonesia 2026, Kamis (11/6).

Selain memperkuat integrasi daya terbarukan ke dalam jaringan listrik nasional, teknologi penyimpanan daya juga dinilai bisa meningkatkan keandalan pasokan listrik di wilayah kepulauan dan wilayah terpencil nan selama ini menghadapi tantangan akses energi.

Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Direktorat Energi Terbarukan Kementerian ESDM Hery Ferdiansyah mengatakan pemerintah membuka kesempatan kerja sama dunia untuk mempercepat pengembangan daya baru terbarukan dan teknologi pendukungnya, termasuk sistem penyimpanan energi.

EESA Summit Indonesia 2026. Foto: EESA Summit.

Sementara itu, Executive Vice President Power Plant Procurement and Independent Power Producer (IPP) PT PLN (Persero) Nico Samuel Saroinsong menjelaskan bahwa kebutuhan teknologi penyimpanan daya bakal semakin meningkat seiring bertambahnya proyek daya baru terbarukan nan dikembangkan di Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah mempercepat pemerataan akses listrik melalui pembangunan prasarana ketenagalistrikan di wilayah kepulauan. Pada 2026, Kementerian ESDM menargetkan pembangunan listrik desa (Lisdes) di 2.065 letak di beragam wilayah Indonesia.

Chief Operating Officer Seven Event Agus Riyadi mengatakan sinergi antara Indonesia dan China diperlukan untuk mempercepat mengambil teknologi penyimpanan daya nan dapat mendukung ketahanan daya nasional.

“Sinergi nan kuat antara Indonesia dan China, khususnya melalui pemanfaatan penemuan teknologi penyimpanan energi, dapat mempercepat pencapaian sasaran transisi daya bersih serta mendukung ketahanan daya nasional nan andal dan berkelanjutan,” ujar Agus.

video story embed

Senada, Secretary General EESA, Rene Duan, menilai Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan daya bersih dan sistem penyimpanan daya di area Asia Tenggara.

“Indonesia mempunyai potensi nan sangat besar dalam mengembangkan daya bersih. Melalui kerja sama antara China dan Indonesia, kami berambisi dapat mendukung terwujudnya sistem daya masa depan nan andal dan ramah lingkungan,” kata Rene.

Melalui kerjasama tersebut, pemanfaatan teknologi penyimpanan daya diharapkan bisa memperkuat sistem kelistrikan nasional, meningkatkan pemanfaatan daya terbarukan, serta mendorong investasi dan pengembangan industri daya bersih di dalam negeri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan