Karyawan menunjukkan duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026).( ANTARA FOTO/Hasrul Said/sgd)
BANK Indonesia (BI) memperkirakan rupiah bakal menguat pada 2027 di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS. Hal itu sejalan dengan arsip Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Tahun Anggaran 2027.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut kepercayaan itu didasarkan pada lima hal. Pertama, pihaknya meyakini bahwa prospek perekonomian bumi bakal membaik.
“Gejolak dunia susah diprediksi tapi setidaknya tidak bakal seburuk tahun ini. Pertumbuhan ekonomi bakal tinggi di dunia dan juga persepsi akibat investasi diharapkan bakal membaik dan karenanya mendorong portfolio inflows dan juga penguatan rupiah,” ujar Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (10/6).
Kedua, prospek ekonomi esensial Indonesia nan sekarang baik dan bakal semakin baik. Menurut Perry, perihal itu terbukti dengan pertumbuhan ekonomi nan lebih tinggi, inflasi nan terkendali dalam sasaran, neraca pembayaran nan tetap sehat dengan defisit transaksi melangkah nan tetap rendah.
“Demikian juga imbal hasil investasi di Indonesia nan tetap menarik, pasar finansial nan berkembang maupun juga support kecukupan persediaan devisa,” ungkapnya.
Ketiga, perihal nan mendukung penguatan rupiah tahun depan adalah penerapan kebijakan pemerintah mengenai ekspor sumber daya alam, termasuk satu pintu melalui pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan penerapan peraturan terbaru mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026.
“Kebijakan-kebijakan ini kami meyakini bakal meningkatkan penerimaan devisa dan juga penerimaan pajak maupun penerimaan negara nan lain dalam jumlah nan besar. Kebijakan ini tidak saja bakal memperbesar penerimaan negara untuk pembiayaan bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi nan tinggi, tetapi juga bakal meningkatkan devisa, meningkatkan persediaan devisa, dan mendukung penguatan nilai tukar rupiah ke depan,” papar Perry.
Keempat, komitmen kuat dari Bank Indonesia untuk terus menggunakan seluruh instrumen nan tersedia untuk menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukar rupiah. Itu termasuk gimana BI tetap menjaga kecukupan persediaan devisa melalui intervensi baik secara tunai di pasar maupun juga secara forward di dalam negeri maupun juga secara forward di luar negeri.
“Bagaimana kami berkoordinasi dengan fiskal untuk gimana imbal hasil portfolio inflow asing tetap bakal masuk; juga gimana perluasan-perluasan instrumen dan transaksi di pasar duit dan pasar valas dan likuiditas perbankan nan cukup dan tentu saja kecukupan persediaan devisa,” tuturnya.
Alasan kelima agar Rupiah menguat ialah koordinasi nan sangat erat antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia untuk sama-sama menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nan lebih tinggi. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·