RI Akhirnya Mulai Bangun Proyek Pengganti LPG, Ini Pemiliknya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Tanjung Enim, CNBC Indonesia - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berbareng PT Pertamina (Persero) memulai pembangunan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) salah satunya untuk mengurangi Liquefied Petroleum Gas (LPG) nan berasal dari impor.

Proyek nan dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tersebut dirancang untuk memperkuat kedaulatan daya nasional sesuai dengan Asta Cita pemerintah.

Proyek nan berlokasi di Tanjung Enim tersebut melibatkan kerjasama Holding BUMN Pertambangan MIND ID, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Pertamina (Persero). Pembangunan Proyek ini diresmikan berbarengan dengan 12 proyek hilirisasi lainnya.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menjelaskan bahwa proyek ini menjadi tonggak krusial dalam transformasi industri pertambangan Indonesia melalui industrialisasi batu bara.

Ia menyebut akomodasi tersebut menggunakan teknologi batu bara bersih (clean coal technology) nan bisa menekan emisi hingga 40% dibandingkan pembakaran konvensional.

"Proyek ini mempunyai makna krusial lantaran sudah masuk dalam proyek strategis nasional dengan kapabilitas 1,4 juta ton DME ini setara dengan sekitar 1 juta ton LPG," ujarnya dalam sambutannya di Tanjung Enim, Rabu (29/4/2026).

Fasilitas nan dibangun di area Bukit Asam Industrial Estate (Beki) seluas 585 hektare tersebut bakal mengolah sekitar 7 juta ton batu bara kualitas rendah per tahun. Seluruh pasokan bahan baku berasal dari tambang Tanjung Enim dan produk akhirnya bakal diserap oleh PT Pertamina Patra Niaga.

"Kami mengolah batu bara loreng, jadi batu bara nan memang belum terutilisasi selama ini dan jumlahnya di Indonesia banyak. Jadi sekali proyek ini melangkah insya Allah kelak jika terus berkembang kita bisa mengutilisasi batubara loreng di Indonesia," papar Turino.

Di lain sisi, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini menyampaikan bahwa kerjasama tersebut merupakan jawaban atas ketergantungan Indonesia terhadap pasokan daya global. Menurutnya, Pertamina siap bertindak sebagai pembeli siaga (offtaker) guna menjamin kepastian pasar bagi produk hasil hilirisasi batu bara tersebut.

"Alhamdulillah Indonesia tetap bisa menjaga kesiapan BBM dan LPG. Tidak mudah Bapak-Ibu, kita tahu betul bahwa Indonesia tetap net importer dan kita tetap belum bisa swasembada energi, terhusus LPG," katanya dalam kesempatan nan sama.

Emma mengungkapkan bahwa saat ini ketahanan daya nasional untuk sektor LPG hanya bisa disediakan dari dalam negeri sebesar 12-15%. Oleh lantaran itu, proyek Coal to DME tersebut diharapkan dapat segera beraksi pada tahun 2028 guna menekan beban impor gas nan mencapai 7 juta metrik ton per tahun.

"Solusi coal to DME ini adalah solusi nan konkret mengoptimalkan sumber daya domestik, substitusi import, meningkatkan ketahanan energi, multiplier efeknya, wider economic impact-nya nyata, dan memberikan social economic benefit nan sangat sungguh luar biasa," tuturnya.

Selain memperkuat stok energi, proyek raksasa ini diproyeksikan bisa menyerap 5.380 tenaga kerja, mulai dari fase bangunan hingga tahap operasional. Manajemen PTBA berkomitmen untuk memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal dari wilayah Sumatera Selatan guna memberikan akibat ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar tambang.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News