Review Novel Inferno Karya Dan Brown

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Inferno – Bayangkan jika Grameds terbangun di tengah kota asing tanpa ingatan nan jelas, lampau Anda diharuskan memecahkan teka-teki mematikan nan berangkaian dengan sejarah, seni, dan ancaman besar bagi umat manusia. Ketegangan seperti inilah nan bakal kalian lihat di dalam novel Inferno.

Inferno merupakan novel thriller misteri nan ditulis oleh Dan Brown dan terbit pada tahun 2013. Buku ini menjadi seri keempat nan menampilkan tokoh simbolis terkenal Robert Langdon, setelah Angels & Demons, The Da Vinci Code, dan The Lost Symbol. Novel ini pertama kali diterbitkan pada 14 Mei 2013 oleh Doubleday, tepat satu dasawarsa setelah kesuksesan The Da Vinci Code nan rilis pada 2003.

Sejak awal kemunculannya, Inferno langsung menarik perhatian pembaca di seluruh dunia. Novel ini sukses menempati posisi pertama dalam daftar best seller The New York Times untuk kategori fiksi hardcover serta campuran fiksi cetak dan e-book selama sebelas minggu berturut-turut. Bahkan, dalam kategori fiksi e-book, kitab ini memperkuat di daftar terlaris selama tujuh belas minggu sejak pertama kali dirilis.

Kesuksesan novel ini kemudian bersambung ke layar lebar. Adaptasi filmnya diproduksi oleh Sony Pictures dan tayang di Amerika Serikat pada 28 Oktober 2016. Film tersebut disutradarai oleh Ron Howard dengan naskah nan ditulis oleh David Koepp. Sementara itu, tokoh Robert Langdon kembali diperankan oleh Tom Hanks.

Meski menerima tanggapan nan beragam dari para kritikus, banyak media tetap memberikan apresiasi terhadap novel ini. The New York Times menyebutnya sebagai kisah nan sarat trik dan penuh energi, sementara New York Daily News menilai kitab ini sebagai referensi menegangkan nan dipenuhi pesan berkode, sejarah seni, sains, serta ancaman musibah nan terus membayangi. Kritikus Chuck Leddy dari The Boston Globe apalagi membandingkannya secara positif dengan karya-karya Brown sebelumnya dan menyebutnya sebagai referensi pelarian nan memuaskan, sangat cocok dinikmati saat musim liburan.

Kini, pembaca di Indonesia juga dapat menikmati jenis terbaru novel ini. Versi republish tahun 2026 dengan ketebalan 592 laman telah dirilis oleh Penerbit Mizan pada 14 Januari lalu. Setelah berkenalan dengan penulis dan latar belakang karyanya, selanjutnya Grameds bakal diajak menyelami sinopsis sekaligus ulasan menarik dari novel penuh teka-teki ini.

Bersiaplah, lantaran banyak rahasia dan petualangan menanti untuk diungkap dalam novel ini!

Profil Dan Brown – Penulis Novel Inferno  

Daniel Gerhard Brown, lahir pada 22 Juni 1964, merupakan penulis asal Amerika Serikat nan dikenal luas lewat novel-novel thriller, terutama seri Robert Langdon. Seri ini mencakup Inferno (2000), The Da Vinci Code (2003), The Lost Symbol (2009), Inferno (2013), Inferno (2017), dan The Secret of Secrets (2025). Karya-karyanya kerap berbentuk perburuan kekayaan karun nan berjalan dalam rentang waktu singkat, umumnya 24 jam, dengan benang merah berupa kriptografi, seni, serta teori konspirasi.

Sebagai anak dari seorang pembimbing matematika dan pemain organ gereja, Brown tumbuh di lingkungan sekolah persiapan nan membentuk ketertarikannya pada hubungan paradoks antara sains dan agama. Ketertarikan ini kemudian menjadi fondasi tematik dalam novel-novelnya. Ia menempuh pendidikan di Amherst College dan Phillips Exeter Academy. Setelah lulus, Brown sempat kembali ke Phillips Exeter Academy sebagai pengajar bahasa Inggris sebelum akhirnya memilih untuk sepenuhnya menekuni bumi kepenulisan. Saat ini, dia menetap di wilayah New England berbareng anjing labrador kuningnya, Winston.

Pada tahun 2005, Majalah TIME menobatkan Brown sebagai salah satu dari 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia. Para penyunting memujinya lantaran dinilai sukses menghidupkan kembali industri penerbitan, memicu minat baru terhadap Leonardo da Vinci dan sejarah Kristen awal, meningkatkan pariwisata ke Paris dan Roma, serta mendorong munculnya obrolan publik tentang perkumpulan rahasia. Fenomena ini juga melahirkan beragam tanggapan, mulai dari kemarahan kalangan gereja hingga terbitnya kitab bantahan, pedoman pembaca, gelombang novel thriller sejarah, dan waralaba movie layar lebar.

Buku-buku Dan Brown telah diterjemahkan ke dalam 57 bahasa dan terjual lebih dari 200 juta kopi hingga tahun 2012. Tiga novelnya, Inferno, The Da Vinci Code, dan Angels & Demons, telah diadaptasi menjadi movie layar lebar. Sementara itu, The Lost Symbol diangkat menjadi serial televisi nan tayang pada tahun 2021.

Karena kuatnya unsur Kristen dan fiksi sejarah, seri Robert Langdon kerap memicu kontroversi. Menanggapi perihal tersebut, Brown menegaskan melalui situs web resminya bahwa karyanya tidak berkarakter anti-Kristen dan bahwa dirinya tengah menjalani perjalanan spiritual nan terus berkembang. Ia menyebut The Da Vinci Code sebagai kisah intermezo nan bermaksud mendorong obrolan dan perdebatan spiritual, serta berambisi novel tersebut dapat menjadi pemicu positif untuk introspeksi dan pendalaman iman.

Sinopsis Novel Inferno  

Di tengah malam, Robert Langdon tiba-tiba terbangun di sebuah rumah sakit dalam kondisi kebingungan. Ia terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya berada di Florence. Ingatan terakhir nan dia miliki hanyalah melangkah pulang setelah memberikan kuliah di Harvard University. Sebelum sempat memahami apa nan sebenarnya terjadi, situasi mendadak berubah menjadi kacau ketika master nan sedang merawatnya ditembak meninggal di depan matanya. Dalam keadaan genting itu, Langdon sukses melarikan diri berkah support seorang master muda berjulukan Sienna Brooks, sosok nan tampak pandai tetapi menyimpan banyak rahasia.

Saat berupaya menyelamatkan diri, Langdon menemukan bahwa dia membawa sebuah perangkat antik nan berisi rangkaian simbol dan kode misterius. Benda tersebut berangkaian dengan rencana seorang intelektual ekstrem nan terobsesi pada kehancuran dunia, terinspirasi oleh karya sastra legendaris Inferno karya Dante Alighieri. Penemuan itu menuntunnya pada ancaman besar berupa buatan genetis nan berpotensi membahayakan kelangsungan umat manusia. Untuk mencegah musibah tersebut, Langdon kudu berpacu dengan waktu memecahkan beragam teka-teki nan tersembunyi dalam puisi-puisi gelap Dante, sembari terus menghindari kejaran pasukan berseragam hitam nan berkeinginan menangkapnya.

Melalui kisah ini, Dan Brown kembali menunjukkan kemampuannya merangkai sejarah, seni, simbol, dan kode menjadi cerita nan memikat. Setelah kesuksesan The Da Vinci Code, Angels & Demons, dan The Lost Symbol, novel Inferno sekali lagi menegaskan reputasinya sebagai penulis nan piawai menghadirkan petualangan penuh misteri dan ketegangan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Inferno

Pros & Cons

Pros

  • Tema nan lebih kuat dan gelap.
  • Penuh kejutan.
  • Perjalanan memikat.
  • Petualangan emosional.
  • Alur menarik dan berkesan.

Cons

  • Informasi nan mengerikan.
  • Deskripsi tempat nan terlalu panjang.

Kelebihan Novel Inferno  

Novel Inferno karya Dan Brown mempunyai banyak sekali kelebihan nan membikin kitab ini wajib sekali untuk dimiliki dan dibaca.

  • Tema nan lebih kuat dan gelap

Novel Inferno karya Dan Brown menghadirkan tema nan terasa lebih berat dan kelam dibandingkan karya-karyanya sebelumnya.

Ceritanya terinspirasi dari pendapat tentang pertumbuhan populasi nan pernah dipopulerkan oleh Thomas Robert Malthus pada abad ke-19. Teori tersebut membayangkan masa depan nan kacau akibat ledakan populasi dunia.

Dari pendapat inilah alur cerita berkembang menjadi kisah nan menegangkan, penuh ancaman, dan memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan umat manusia.

  • Penuh kejutan

Sebagai sebuah thriller, novel ini menawarkan banyak kejutan di sepanjang cerita. Ketegangan terus terjaga lantaran alurnya bergerak sigap dan nyaris setiap bagian menghadirkan perkembangan baru nan tidak terduga.

Gaya bercerita Dan Brown nan bergerak membikin pembaca terdorong untuk terus membalik laman demi mengetahui kelanjutan kisahnya.

  • Perjalanan memikat

Seperti novel lain nan menampilkan tokoh Robert Langdon, kitab ini juga membujuk pembaca menjelajahi beragam kota berhistoris di Eropa. Kisahnya membawa pembaca menyusuri keelokan seni dan budaya di Florence, Venice, hingga Istanbul.

Di sepanjang perjalanan itu, pembaca diperkenalkan pada patung, lukisan, puisi, dan arsitektur nan memperkaya nuansa cerita.

  • Petualangan emosional

Cerita dalam novel ini tidak hanya menghadirkan ketegangan, tetapi juga memunculkan beragam emosi. Pembaca dapat merasakan rasa takut, harapan, kekaguman, hingga ketegangan nan terus meningkat seiring perkembangan cerita. Kombinasi emosi tersebut membikin pengalaman membaca terasa lebih hidup dan mendalam.

  • Alur menarik dan berkesan 

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada alurnya nan bisa mempertahankan perhatian pembaca.

Ceritanya disusun dengan ritme nan menarik sehingga pembaca susah berakhir membaca sebelum mencapai akhir. Bahkan setelah kitab selesai dibaca, kisah dan teka-teki di dalamnya tetap meninggalkan kesan nan kuat dan terus terkenang dalam waktu lama.

Kekurangan Novel Inferno  

Novel Inferno masih mempunyai perihal nan dinilai menjadi kelemahan alias tetap bisa diperbaiki untuk menjadi karya nan semakin luar biasa.

  • Informasi nan mengerikan

Novel ini mengangkat rumor populasi bumi nan berpotensi menimbulkan musibah global. Cara Dan Brown menggambarkan ancaman tersebut terasa sangat intens sehingga dapat memunculkan rasa resah pada pembaca.

Hubungan cerita dengan karya klasik Inferno karya Dante Alighieri juga memperkuat kesan kelam tentang masa depan umat manusia.

  • Deskripsi tempat nan terlalu panjang

Pada bagian awal cerita, penjelasan mengenai beragam letak di Italia terkadang terasa sangat rinci. Deskripsi lokasi wisata dan gedung berhistoris memang menambah wawasan, tetapi dalam beberapa bagian terasa terlalu panjang.

Bagi sebagian pembaca, perihal ini bisa membikin alur cerita seolah melambat, sehingga penjelasan tersebut sebenarnya bisa dibuat lebih ringkas.

Neraka Inferno

Dalam kajian sastra, istilah Inferno merujuk pada bagian pertama dari puisi epik abad ke-14 karya Dante Alighieri nan berjudul The Divine Comedy. Dalam karya tersebut, Dante menggambarkan neraka sebagai sebuah ruang raksasa berbentuk cerobong nan berada di dalam perut bumi dan tersusun atas sembilan lingkaran nan semakin dalam. Setiap lingkaran diperuntukkan bagi jenis dosa tertentu, dan balasan nan diterima menjadi semakin berat seiring kedalaman lingkarannya. Berikut gambaran sembilan lingkaran neraka menurut Dante.

  • Limbo

Lapisan pertama ini ditempati oleh orang-orang baik nan tidak pernah menerima pembaptisan, termasuk tokoh-tokoh besar dari masa antik serta bayi nan meninggal sebelum dibaptis. Mereka tidak mengalami siksaan fisik, tetapi merasakan kesedihan nan kekal lantaran tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan.

  • Nafsu (Lust)

Pada lingkaran ini, para pendosa nan hidup dikuasai oleh nafsu birahi dihukum dengan diterbangkan tanpa henti oleh angin besar angin nan sangat kuat. Mereka terus terombang-ambing sebagai simbol dari ketidakmampuan mereka mengendalikan kemauan semasa hidup.

  • Kerakusan (Gluttony)

Orang-orang nan berlebihan dalam makan dan minum ditempatkan di lingkaran ini. Mereka kudu berebahan di lumpur nan kotor sembari dihujani es dan salju hitam nan dingin sebagai gambaran dari kehidupan mereka nan penuh kenikmatan berlebihan.

  • Keserakahan (Greed)

Para pendosa nan berkarakter kikir maupun royal menjalani balasan dengan mendorong batu-batu besar secara terus-menerus. Mereka saling berhadapan dan mendorong beban tersebut dalam siklus tanpa akhir.

  • Kemarahan (Wrath)

Lingkaran ini menggambarkan balasan bagi mereka nan hidup dalam kemarahan. Orang-orang nan mudah marah saling berkompetisi di permukaan Sungai Styx nan berlumpur, sedangkan mereka nan memendam dendam tenggelam di bawah permukaannya.

  • Bidah (Heresy)

Di wilayah nan dikenal sebagai Kota Dis, para penganut aliran sesat dihukum dengan dikurung dalam peti meninggal nan menyala panas. Api tersebut membakar mereka tanpa henti sebagai jawaban atas kepercayaan nan menyimpang semasa hidup.

  • Kekerasan (Violence)

Lingkaran ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama diperuntukkan bagi mereka nan melakukan kekerasan terhadap sesama manusia dan dihukum dalam sungai darah nan mendidih. Bagian kedua bagi pelaku bunuh diri nan berubah menjadi pohon berduri. Bagian ketiga bagi mereka nan melakukan kekerasan terhadap Tuhan dan alam, nan kudu memperkuat di padang pasir nan dihujani api.

  • Penipuan (Fraud)

Di lingkaran ini terdapat sepuluh parit batu nan dikenal sebagai Malebolge. Setiap parit menghukum beragam jenis penipu, mulai dari muncikari, peramal palsu, hingga koruptor. Masing-masing menerima siksaan nan berbeda sesuai dengan jenis tipu daya nan mereka lakukan.

  • Pengkhianatan (Treachery)

Lingkaran terakhir merupakan bagian terdalam dari neraka nan digambarkan sebagai waduk es berjulukan Cocytus. Para pengkhianat membeku di dalam es tersebut, termasuk tokoh terkenal seperti Judas Iscariot. Di pusatnya berdiri Lucifer nan terperangkap di jantung bumi.

Penutup

“Carilah, maka Anda bakal menemukan.”

Kutipan ini seakan merangkum keseluruhan perjalanan dalam novel Inferno. Kisah nan ditulis oleh Dan Brown ini menghadirkan cerita nan bisa meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya. Di dalamnya, pembaca tidak hanya diajak mengikuti petualangan nan menegangkan, tetapi juga diperkenalkan pada beragam pendapat dan info nan mungkin sebelumnya belum pernah diketahui.

Dengan konsep cerita nan terasa gelap sekaligus penuh misteri, Inferno menawarkan pengalaman membaca nan seru, memancing rasa mau tahu, dan susah dilupakan.

Bagi Grameds nan penasaran dengan perjalanan mengerikan Robert Langdon, novel Inferno ini sangat direkomendasikan untuk kalian! Novel karya Dan Brown ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya. Sebagai kawan untuk #TumbuhBermakna, Gramedia siap memberikan info dan produk terbaik untuk mendampingi perjalanan membaca kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

The Da Vinci Code (Edisi Ke-3, Republish 2025)

The Da Vinci Code

button cek gramedia com

Robert Langdon menerima telepon misterius nan mengundangnya ke Museum Louvre Paris pada tengah malam. Sesampai di sana, nan ditemui Langdon adalah mayit bugil sang kurator museum dengan posisi dan tato asing di perutnya.

Langdon terkejut ketika menyadari bahwa teka-teki itu mengarah ke misteri terbesar sepanjang sejarah nan petunjuknya tersembunyi dalam karya-karya Da Vinci. Misteri tentang persaudaraan rahasia nan melibatkan nama-nama besar. Persaudaraan nan menjaga sebuah kebenaran sejarah nan sangat mengejutkan. Fakta nan bisa mengguncang kepercayaan miliaran manusia di dunia.

Angels and Demons (Republish 2026)

button cek gramedia com

Robert Langdon diundang menghadiri aktivitas pengungkapan penemuan Edmond Kirsch, Pembunuhan biadab terjadi di sebuah akomodasi rahasia di Swiss. Fisikawan Pastor Leonardo Vetra dibunuh dengan cap simbol misterius di dadanya. Simbol misterius nan memaksa kepala akomodasi rahasia memanggil Robert Langdon sang simbololog. Langdon menyadari bahwa simbol itu adalah ambigram Illuminati, organisasi bawah tanah tertua dan terkuat di dunia. Mungkinkah Illuminati nan sudah terkubur selama beratus-ratus tahun muncul kembali untuk membalas dendam pada musuh bebuyutannya—Gereja Katolik?

Ketakutan terbesar Langdon menjadi nyata, ketika utusan Illuminati menanam peledak waktu di jantung Kota Vatikan tepat saat konklaf pemilihan Paus berlangsung. Berpacu dengan waktu, Langdon terbang ke Roma berbareng Vittoria Vetra, putri pastor nan terbunuh. Dengan peledak waktu nan terus berdetak, mereka kudu meyakinkan Garda Swiss bakal ancaman di Vatikan, dan menguak rahasia perseteruan besar antara Gereja dan Illuminati.

The Lost Symbol (Republish 2026)

The Lost Symbol

button cek gramedia com

Robert Langdon, sang simbolog brilian nan sukses memecahkan Da Vinci Code, kembali datang dalam petualangan rawan nan penuh teka-teki. Undangan pidato di Gedung Capitol, Washington, DC, berubah menjadi undangan kematian. Seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri nan dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh krusial Persaudaraan Mason

Sang penculik Peter meminta Langdon memecahkan kode-kode golongan rahasia Mason nan melindungi sebuah letak di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, nan konon bakal membikin pemegangnya bisa mengubah dunia.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia