Review Novel A Magic Steeped in Poison Karya Judy I. Lin

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

A Magic Steeped in Poison – Novel nan sukses meraih predikat #1 New York Times Bestseller ini datang sebagai debut nan memikat dan penuh imajinasi. A Magic Steeped in Poison membawa pembaca ke dalam bumi khayalan nan kaya dengan sentuhan mitologi Tiongkok, di mana seni meracik teh bukan sekadar tradisi, melainkan kekuatan magis nan dapat menentukan nasib seseorang apalagi sebuah kerajaan.

Kisahnya semakin menegangkan dengan hadirnya sebuah turnamen magis nan mempertemukan para peracik teh terbaik untuk memperebutkan kehormatan, kekuasaan, dan masa depan negara mereka.

Dengan atmosfer cerita nan magis dan penuh intrik, novel ini kerap dibandingkan dengan karya para penulis khayalan ternama seperti Adrienne Young dan Leigh Bardugo. Tidak heran jika kitab ini bisa menarik perhatian para fans khayalan nan menyukai bumi cerita nan kaya budaya, karakter kuat, serta bentrok nan menegangkan.

Kini Grameds dapat menikmati novel A Magic Steeped in Poison dalam jenis terjemahan Bahasa Indonesia nan diterbitkan oleh Mizan pada 4 Maret 2024 dengan ketebalan 364 halaman.

Sebelum menyelami kisah penuh sihir dan persaingan di dalamnya, ada baiknya kita terlebih dulu mengenal sosok di kembali cerita ini, ialah Judy I. Lin, penulis nan sukses menghadirkan bumi khayalan unik melalui sentuhan budaya dan khayalan nan kuat.

Profil Judy I. Lin – Penulis Novel A Magic Steeped in Poison

Judy I. Lin dikenal sebagai penulis khayalan dan seram nan karyanya sukses menempati posisi teratas dalam daftar kitab terlaris New York Times. Ia juga meraih beragam penghargaan nan ditujukan bagi pembaca remaja berkah karya-karyanya nan imajinatif dan memikat.

Beberapa kitab nan dia tulis antara lain duologi Book of Tea, Song of the Six Realms, The Dark Becomes Her, serta novel Avatar Legends: City of Echoes nan dijadwalkan segera terbit.

Judy lahir di Taiwan sebelum akhirnya pindah ke Kanada berbareng keluarganya saat tetap kecil. Sejak muda dia mempunyai kecintaan besar terhadap bumi membaca dan sering menghabiskan waktu dengan membayangkan beragam bumi fantasi.

Hingga kini, khayalan tersebut tetap menjadi sumber inspirasi utama dalam karya-karyanya. Di luar aktivitas menulis, Judy bekerja sebagai terapis okupasi. Meski mempunyai pekerjaan tersebut, dia tetap meluangkan waktu pada malam hari untuk menulis dan mengembangkan beragam bumi cerita nan dia bayangkan.

Saat ini dia tinggal di wilayah padang rumput Kanada berbareng suami dan anak-anaknya.

Sinopsis Novel A Magic Steeped In Poison

button cek gramedia com

Shénnóng-sh? dikenal sebagai peracik teh nan mempunyai keahlian sihir. Bakat tersebut diwarisi Ning dari ibunya, tetapi dia justru berupaya menolak keahlian itu lantaran membawa kenangan buruk.

Tanpa sengaja, Ning pernah meracik teh berbisa nan menyebabkan ibunya meninggal dan membikin adiknya berada di periode kematian. Peristiwa itu terus membayangi hidupnya hingga suatu hari tersebar berita tentang sayembara untuk mencari shénnóng-sh? terbaik di Kekaisaran Dàx?.

Demi menyelamatkan nyawa adiknya, Ning bersedia melakukan apa saja, termasuk mencoba meyakinkan putri kaisar agar memberinya kesempatan. Ia pun pergi ke ibu kota untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ning kudu menghadapi para peserta lain nan saling menjatuhkan, terseret dalam intrik politik istana nan berbahaya, serta berjumpa seorang pemuda misterius nan menyimpan rahasia besar.

Pada akhirnya, Ning menyadari bahwa bukan hanya kemenangan nan dipertaruhkan, melainkan juga nyawanya sendiri. Kisah ini memadukan unsur mitologi serta tradisi pembuatan teh dari Tiongkok dengan bumi sihir, menghasilkan cerita khayalan nan memikat dan terasa pekat seperti secangkir teh hangat.

Kelebihan dan Kekurangan Novel A Magic Steeped in Poison

Pros & Cons

Pros

  • Perpaduan Fantasi, Mitologi, dan Romansa.
  • Menyajikan keajaiban teh tradisional Tiongkok.
  • Sampul nan memukau.
  • Gaya penulisan nan menghibur.

Cons

  • Beberapa bagian membingungkan.
  • Terlalu banyak kebetulan.

Kelebihan Novel A Magic Steeped In Poison

Novel A Magic Steeped in Poison karya Judy I. Lin sukses menarik perhatian pembaca berkah bumi khayalan nan terasa hidup dan penuh pesona. Sejak awal cerita, pembaca diajak memasuki kisah nan sarat dengan unsur magis, bentrok emosional, serta petualangan nan menegangkan.

Kombinasi elemen-elemen tersebut membikin novel ini terasa memikat dan bisa membawa pembaca tenggelam dalam dunianya.

  • Perpaduan Fantasi, Mitologi, dan Romansa

Salah satu daya tarik utama novel ini adalah perpaduan antara mitologi, petualangan fantasi, dan kisah romansa nan halus. Cerita menghadirkan tokoh utama wanita nan berani, ditempatkan dalam bumi nan terinspirasi oleh cerita rakyat dan tradisi budaya.

Selain itu, kisahnya juga memuat intrik politik, hubungan keluarga, persahabatan, hingga percikan romansa nan memperkaya dinamika cerita. Alur nan bergerak sigap dipadukan dengan penjelasan nan bagus dan latar cerita nan terasa matang hasil riset penulis.

  • Menyajikan keajaiban teh tradisional Tiongkok

Kelebihan lain dari novel ini terletak pada penggunaan seni meracik teh tradisional Tiongkok sebagai komponen utama cerita.

Dalam kisah ini, teh tidak hanya berfaedah sebagai minuman, tetapi juga menjadi sumber kekuatan magis nan menghubungkan para karakter. Teh menjadi perangkat bagi tokoh utama untuk berjuang demi keluarganya melalui kejuaraan nan menegangkan, sekaligus menjadi sumber bentrok ketika racikan tersebut berubah menjadi racun.

Kehadiran unsur ini membikin cerita terasa unik sekaligus memperkenalkan pembaca pada budaya serta pengobatan tradisional Tiongkok.

  • Sampul nan memukau

Selain isi cerita, novel ini juga mempunyai sampul nan sangat memikat. Ilustrasi nan dibuat oleh Sija Hong tampil artistik dan elegan, sehingga bisa menarik perhatian pembaca sejak pandangan pertama.

Desainnya tidak hanya bagus secara visual, tetapi juga mencerminkan nuansa magis nan menjadi inti cerita.

  • Gaya penulisan nan menghibur

Gaya penulisan penulis terasa hidup dan mudah diikuti, sehingga membikin cerita terasa mengalir dengan menyenangkan. Plot nan menarik serta kehadiran subplot romansa nan ringan memberikan sentuhan manis di tengah ketegangan cerita.

Hal ini membikin pengalaman membaca terasa menghibur dan membikin pembaca nyaman mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya hingga akhir.

Kekurangan Novel A Magic Steeped In Poison

Meskipun Novel A Magic Steeped in Poison karya Judy I. Lin menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan terasa mengganjal.

  • Beberapa bagian membingungkan

Walaupun ceritanya menarik, ada beberapa bagian dalam alur dan penggambaran bumi nan terasa kurang dijelaskan secara mendalam.

Beberapa komponen latar maupun patokan bumi fantasinya kadang terasa membingungkan ketika dipikirkan lebih jauh, sehingga dapat membikin sebagian pembaca mempertanyakan logika dalam cerita.

  • Terlalu banyak kebetulan

Selain itu, alur cerita juga sesekali berjuntai pada kebetulan nan terasa terlalu mudah. Beberapa bentrok muncul secara tiba-tiba tanpa penjelasan nan kuat, apalagi ada perincian nan diperkenalkan tetapi tidak lagi dibahas setelahnya.

Hal ini dapat menimbulkan kesan adanya lubang plot nan membikin sebagian pembaca kehilangan keterikatan dengan cerita.

Tradisi Teh Tiongkok

Tradisi teh di Tiongkok tidak hanya berangkaian dengan kebiasaan menikmati minuman hangat saja. Bagi masyarakat Tiongkok, teh merupakan bagian dari seni, filosofi hidup, sekaligus simbol budaya nan telah berkembang selama ribuan tahun.

Praktik ini mencerminkan langkah masyarakat menghargai keseimbangan, kesederhanaan, dan hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut beberapa unsur krusial nan membentuk tradisi teh dalam budaya Tiongkok:

  1. Sejarah dan Legenda

Asal-usul penemuan teh: Legenda terkenal menyebut bahwa teh pertama kali ditemukan oleh Shennong pada sekitar tahun 2737 SM. Kisah tersebut menceritakan bahwa beberapa daun teh liar secara tidak sengaja jatuh ke dalam air mendidih nan sedang disiapkannya.

Aroma nan dihasilkan menarik perhatiannya hingga akhirnya dia mencoba minuman tersebut dan menemukan cita rasa nan menyegarkan.

Perkembangan budaya teh: Pada awalnya teh digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional. Seiring berjalannya waktu, minuman ini mulai menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Pada masa Dinasti Tang antara tahun 618 hingga 907 M, kebiasaan minum teh semakin meluas. Tradisi ini kemudian berkembang lebih jauh dan mencapai puncak ketenaran serta nilai seninya pada masa Dinasti Song (960–1279 M) dan Dinasti Ming (1368–1644) .

  1. Upacara Minum Teh (Tea Ceremony)

Kung Fu Cha: Kung Fu Cha secara harfiah berfaedah seni menyeduh teh dengan keahlian dan ketelitian. Teknik tradisional ini menggunakan peralatan mini seperti teko tanah liat Yixing untuk menghasilkan aroma dan rasa teh nan lebih maksimal. Proses penyeduhannya menekankan kesabaran, presisi, dan perhatian terhadap detail.

Etika Penyajian dalam tradisi Tiongkok: langkah menyajikan teh juga mempunyai patokan tertentu. Cangkir biasanya tidak diisi penuh, melainkan sekitar 70% saja. Sisa ruang tersebut melambangkan kehangatan serta persahabatan nan menyertai pertemuan.

Selain itu, tamu sering mengetukkan dua jari di meja sebagai tanda terima kasih ketika teh dituangkan, sebuah gestur mini nan mencerminkan rasa hormat kepada tuan rumah.

Tea Pai dalam upacara pernikahan: Tea Pai merupakan ritual minum teh nan dilakukan dalam pernikahan tradisional Tiongkok. Dalam prosesi ini, pasangan pengantin menyajikan teh kepada orang tua serta kerabat nan lebih tua sebagai corak penghormatan, rasa bakti, dan simbol penerimaan dalam family besar.

  1. Jenis Teh Utama

Tiongkok mempunyai ratusan jenis teh nan biasanya dikelompokkan ke dalam beberapa kategori utama.

  • Teh Hijau (Green Tea): Teh hijau tidak melalui proses oksidasi sehingga mempertahankan warna alami serta rasa nan segar. Salah satu varietas nan paling terkenal adalah Longjing tea.
  • Teh Hitam/Merah (Black/Red Tea): Jenis teh ini mengalami oksidasi penuh sehingga menghasilkan warna nan lebih pekat serta rasa nan lebih kuat dibandingkan jenis lainnya.
  • Teh Oolong: Teh oolong diproses melalui oksidasi sebagian sehingga menghadirkan karakter rasa nan berada di antara teh hijau dan teh hitam, dengan aroma nan kompleks.
  • Teh Putih (White Tea): Teh putih diproses secara sangat minimal sehingga menghasilkan rasa nan ringan dan lembut.
  • Teh Pu-erh: Teh pu-erh merupakan teh nan melalui proses fermentasi dan sering disimpan selama bertahun-tahun. Proses penyimpanan ini dipercaya dapat memperkaya aroma serta karakter rasanya.
  1. Filosofi dan Makna Sosial

  • Harmoni: Menikmati teh sering dipandang sebagai langkah untuk menemukan ketenangan jiwa dan keseimbangan dengan alam. Pandangan ini sejalan dengan nilai-nilai dalam Buddhism, Taoism, dan Confucianism nan menekankan harmoni dalam kehidupan.
  • Penghormatan: Menyajikan teh kepada tamu merupakan corak keramahan nan umum dalam budaya Tiongkok. Tradisi ini menjadi langkah sederhana namun berarti untuk menunjukkan rasa hormat sekaligus mempererat hubungan sosial.
  • Permintaan Maaf: Dalam situasi tertentu, menyajikan teh secara umum juga dapat menjadi simbol penyesalan. Melalui tindakan ini, seseorang dapat menyampaikan permintaan maaf sekaligus menunjukkan niat untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Penutup

A Magic Steeped in Poison karya Judy I. Lin menghadirkan kisah khayalan nan memikat dengan perpaduan mitologi Tiongkok, unsur sihir, serta intrik politik nan menegangkan. Cerita nan dibangun bisa membawa pembaca larut dalam perjalanan tokoh-tokohnya, sekaligus menghadirkan beragam kejutan nan membikin pengalaman membaca terasa semakin menarik.

Karya nan satu ini, sangat sayang jika Anda lewatkan! Jadi, jangan sampai kehabisan, dapatkan novel A Magic Steeped In Poison karya Judy I. Lin ini di Gramedia.com.

Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Ketika Anak-Anak Pergi

Ketika Anak-anak Pergi

Ketika Anak-Anak Pergi mengikuti kisah Ma, Mi, dan Mo, beserta Petronella setelah mengungkap gimana nasib Fifi di Mari Pergi Lebih Jauh.

Dari penulis mega-bestseller, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, anak-anak dalam novel ini bakal berhadapan dengan persoalan dewasa nan lebih menantang dan tentu mengejutkan bagi bumi mereka; ialah persidangan. Sekaligus kita bakal berjumpa dengan beberapa tokoh baru nan menyemarakkan petualangan Ryan nan suka pergi sendirian, alias Pak Arkue pemilik toko kue nan bakal menjadi saksi atas Mi di persidangan.

Sang Dewi Api (The Burning God)

The Burning God

Lanjutan Perang Opium dan Republik Naga. Akhir luar biasa trilogi The Poppy War.

Setelah sukses menyelamatkan negara Nikan dalam perang kerabat nan brutal, Fang Runin malah dikhianati para sekutu. Dengan aliansi baru, Rin menyusun kekuatan. Bagai terlahir kembali dari abu, sang Phoenix pun menemukan lagi kekuatan dalam kemurkaan dan pembalasan dendam rakyat selatan.

Mereka menghabisi pihak Naga, orang-orang Hesperia, dan semua nan berupaya melenyapkan syamanisme. Namun, seiring meningkatnya kekuatan dan pengaruh Rin, apakah dia bakal cukup kuat untuk melawan bunyi Phoenix nan mendesaknya membumihanguskan dunia?

Funiculi Funicula

Funiculi Funicula

Kafe tua nan berada di gang mini Tokyo terletak di bawah gedung lain, tidak butuh pendingin untuk mendinginkan Kafe tersebut. Tidak begitu ramai, namun terkenal lantaran bisa membawa pengunjungnya menjelajahi waktu.

Keajaiban kafe itu menarik seorang wanita nan mau memutar waktu untuk berbaikan dengan kekasihnya, seorang perawat nan mau membaca surat nan tak sempat diberikan suaminya nan sakit, seorang kakak nan mau menemui adiknya untuk terakhir kali, dan seorang ibu nan mau berjumpa dengan anak nan mungkin takkan pernah dikenalnya. Namun, ada banyak peraturan nan kudu diingat.

Satu, mereka kudu tetap duduk di bangku nan telah ditentukan. Dua, apapun nan mereka lakukan di masa nan didatangi takkan mengubah realita di masa kini. Tiga, mereka kudu menghabiskan kopi unik nan disajikan sebelum kopi itu dingin.

Rentetan peraturan lainnya tak menghentikan orang-orang itu untuk menjelajahi waktu. Akan tetapi, jika kepergian mereka tak mengubah satu perihal pun di masa kini, layakkah semua itu dijalani?

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia