Review Buku Rumah dengan Pintu Biru

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Rumah dengan Pintu Biru – Bagaimana jika dalam satu malam, hidupmu berubah dari penuh rencana…menjadi sekadar memperkuat hidup?

Hidup Tari Budiardjo nan selama ini melangkah tenang di lingkungan elit intelektual kelas menengah berubah begitu cepat. Orangtuanya, nan sebelumnya memegang posisi krusial pada masa pemerintahan Soekarno, ditangkap tanpa proses norma oleh rezim baru berbareng ribuan orang lain nan dicurigai mempunyai pandangan radikal. Dalam sekejap, Tari kudu menjadi peran sebagai penopang keluarga, meski di saat nan sama dia tetap seorang remaja nan berkawan dengan bumi pesta, pergaulan, dan aktivitas sekolah. Di tengah kekacauan itu, dia menemukan cinta, namun kebahagiaan tersebut hancur ketika dia kudu menyaksikan orang nan dicintainya disiksa di depan matanya sendiri. Pengalaman-pengalaman ini perlahan membentuk kesadaran baru dalam dirinya, mendorong Tari untuk lebih peka dan berani melangkah ke bumi aktivisme.

Rumah dengan Pintu Biru adalah memoar nan lahir dari masa penuh ketegangan, pengkhianatan, dan ketakutan. Sebuah masa ketika orang-orang berbincang dengan bunyi pelan, dan family bisa terpecah hanya lantaran situasi politik nan tak menentu. Buku karya Tari Lang ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 15 Oktober 2025 dengan tebal 368 halaman. Di bawah ini, Gramin sudah merangkum profil penulis, sinopsis, serta ulasan kelebihan dan kekurangannya untuk Anda pertimbangkan sebelum membaca. Jangan sampai terlewat, ya!

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Profil Tari Lang – Penulis Buku Rumah dengan Pintu Biru

Tari Lang lahir di Praha dan menghabiskan masa tumbuh kembangnya di Jakarta. Ia adalah putri dari ayah berkebangsaan Indonesia dan ibu asal Inggris, keduanya dikenal mempunyai pandangan progresif serta aktif dalam bumi politik sejak muda. Pengalaman Tari melewati masa kelam di sekitar peristiwa 1965 meninggalkan jejak nan membentuk hidupnya hingga dewasa. Pada usia delapan belas tahun, dia pindah ke Inggris dan meniti pekerjaan sebagai pebisnis wanita internasional di bagian Reputation Management. Perjalanan profesionalnya membawanya ke beragam bagian dunia, mulai dari Inggris, Amerika, Asia, hingga area Teluk dan Arab. Saat ini dia duduk sebagai personil majelis di sejumlah organisasi imajinatif dan budaya. Ia menetap di Edinburgh dan Prancis, menikah dengan laki-laki asal Skotlandia, serta mempunyai delapan cucu. Rumah dengan Pintu Biru menjadi karya kitab pertamanya.

Sinopsis Buku Buku Rumah dengan Pintu Biru

Sekolah usai siang hari dan akhir pekan akhirnya dimulai. Kantor-kantor pun tutup agar para pekerja dapat menunaikan salat Jumat. Hari itu Ayah berjanji bakal membujuk Anto dan saya menikmati mi favorit kami di Ancol. Ibu tidak bisa ikut karena, seperti biasa, dia sibuk dengan urusan krusial lain seperti menghadiri rapat alias menyusun pidato.

Aku tidak antusias pergi ke sekolah. Sebenarnya, saya nyaris tidak pernah merasa antusias. Waktu di sekolah terasa begitu panjang. Aku susah menemukan kesamaan dengan teman-teman, para pembimbing tampak sama bosannya denganku, dan tugas-tugas nan diberikan terasa terlalu mudah. Namun orang tuaku tetap mendorong agar saya berguru di tempat nan membuatku dapat berinteraksi dengan anak-anak dari beragam latar belakang. Mereka selalu mengingatkanku untuk berterima kasih atas segala nan kumiliki dan tetap rendah hati. Di usiaku nan sekarang menginjak 14 tahun, semestinya saya sudah memahami semua itu.

Pagi itu, saya melangkah menuju ruang makan untuk mengecek apakah Ira sudah menyiapkan sarapan, tetapi ruangan itu kosong. Biasanya Ira bakal sibuk mondar-mandir menyiapkan ini dan itu, tetapi kali ini suasana begitu sepi. Sepertinya Anto, Ibu, dan Ayah tetap terlelap.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Rumah dengan Pintu Biru

Pros & Cons

Pros

  • Mudah untuk diikuti.
  • Memberikan pengetahuan tambahan.
  • Rollercoaster emosi.
  • Menampilkan kontras antara kehidupan pribadi dan gejolak politik:
  • Menumbuhkan rasa semangat.

Kelebihan Buku Rumah dengan Pintu Biru

Buku Rumah dengan Pintu Biru karya Tari Lang ini mempunyai banyak sekali kelebihan nan membikin kitab ini wajib sekali untuk anak miliki dan baca.

  • Mudah untuk diikuti.

Buku Rumah dengan Pintu Biru memiliki alur maju mundur nan disusun dengan rapi sehingga pembaca dapat mengikuti kitab ini tanpa merasa bingung. Transisi antar waktu dalam kitab ini juga begitu mulus ditambah dengan style bahasa nan sederhana serta mudah untuk dipahami, membikin pembaca dapat menikmati setiap bab dengan mudah.

  • Memberikan pengetahuan tambahan

Melalui kisah Tari, pembaca bisa mendapatkan gambaran nan lebih jelas mengenai suasana Indonesia sebelum dan setelah masa Orde Baru. Perubahan politik, dinamika sosial, serta ketegangan nan terjadi pada masa itu tersaji dengan langkah nan individual dan dekat, sehingga memberikan pengetahuan tambahan. Lewat kitab ini pembaca jadi memahami gimana situasi politik kala itu mempengaruhi kehidupan family dan masyarakat.

  • Rollercoaster emosi

Kisah ini menawarkan perjalanan emosional nan intens. Memoar ini terasa perih lantaran menampilkan pengalaman pahit dan kehilangan, tetapi juga krusial lantaran mengingatkan pembaca tentang sisi kemanusiaan nan sering terabaikan dalam situasi politik. 

  • Menampilkan Kontras antara kehidupan pribadi dan gejolak politik:

Buku ini secara efektif memperlihatkan tumbukan antara bumi pribadi Tari nan semestinya penuh warna remaja, seperti merasakan cinta pertama, membangun pertemanan, dan menikmati pesta kecil, dengan realitas politik nan keras dan penuh ancaman. Kontras ini menciptakan ketegangan emosional nan kuat, sekaligus membikin pembaca semakin terhubung dengan dilema jiwa nan dialami Tari selama masa penuh ketidakpastian tersebut.

  • Menumbuhkan rasa semangat.

Kisah Tari nan berjuang menghadapi tekanan hidup dan ketidakadilan menjadi sumber inspirasi tersendiri. Memoar ini menonjolkan keberanian seorang wanita muda nan tidak menyerah meski hidupnya dipenuhi ujian berat. Cerita ini memberikan dorongan semangat, terutama bagi para pembaca perempuan, untuk tetap tegar dan berani memperjuangkan diri dalam beragam situasi.

Kekurangan Buku Rumah dengan Pintu Biru

Buku Rumah dengan Pintu Biru karya Tari Langasih mempunyai perihal nan dinilai menjadi kekurangan dalam menikmati karya nan satu ini.

  • Membuat jenuh

Bagi sebagian pembaca, style penceritaan nan sangat biografis mungkin terasa agak melelahkan. Buku ini betul-betul menampilkan perincian kehidupan Tari pada masa itu, sehingga beberapa bagian mungkin terasa kurang krusial alias terlalu panjang untuk sebagian orang. Walaupun kemungkinan besar ada argumen unik kenapa penulis memilih memasukkan bagian tersebut, ritme nan lambat pada beberapa bab bisa membikin pembaca merasa jenuh jika tidak terbiasa dengan style memoar nan sangat mendalam.

Apa itu Orde Baru?

Pengertian Orde Baru

Orde Baru secara sederhana merujuk pada masa kepemimpinan Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Masa pemerintahannya menjadi nan terlama dalam sejarah Indonesia, ialah selama kurang lebih 32 tahun. Karena itu, periode Orde Baru berjalan sepanjang tiga dasawarsa tersebut.

Ketika awal Orde Baru dimulai, kondisi sosial dan ekonomi Indonesia perlahan kembali stabil. Harga kebutuhan pokok mulai terkendali dan beragam kerusuhan dapat diredam. Namun lamanya pemerintahan ini pada akhirnya menimbulkan persoalan baru nan kemudian memicu ketidakstabilan di beragam sektor.

Latar Belakang Munculnya Orde Baru

Awal mula kemunculan Orde Baru dipengaruhi oleh aktivitas mahasiswa nan dikenal sebagai Tritura. Gerakan ini dipelopori oleh Angkatan 66 alias KAMI, ialah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Tritura membawa tiga tuntutan utama kepada pemerintah saat itu, ialah perombakan Kabinet Dwikora, penurunan nilai nan terus melonjak, serta pembubaran PKI.

Ketegangan meningkat lantaran Presiden Soekarno tidak sejalan dengan aspirasi para aktivis dan mahasiswa. Peristiwa G30S juga membikin kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Orde Lama semakin merosot.

Pada akhirnya, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 kepada Letnan Jenderal Soeharto, nan sekarang dikenal sebagai Supersemar. Surat ini menjadi pintu masuk bagi terbentuknya kekuasaan Orde Baru. Melalui Supersemar, Soekarno memberikan kewenangan kepada Soeharto untuk mengambil tindakan demi menjaga keamanan, ketenangan, dan kestabilan politik di Indonesia.

Perbedaan Orde Lama dengan Orde Baru

Setiap masa pemerintahan mempunyai karakter khasnya sendiri. Begitu pula Orde Lama dan Orde Baru, nan tampil dengan karakteristik, kebijakan, serta akibat nan berbeda terhadap perjalanan bangsa. Berikut adalah perbandingannya:

1. Sistem Politik

  • Orde Lama: Menggunakan sistem parlementer, dengan presiden lebih berkedudukan sebagai simbol negara. Banyaknya partai politik sering memicu situasi nan tidak stabil.
  • Orde Baru: Bergerak ke arah pemerintahan nan sangat terpusat, dengan presiden memegang kendali penuh terhadap jalannya negara.

2. Ideologi

  • Orde Lama: Menerapkan konsep sosialisme Indonesia.
  • Orde Baru: Menempatkan Pancasila sebagai dasar nan diarahkan untuk menciptakan stabilitas dan mendorong pembangunan nasional.

3. Ekonomi

  • Orde Lama: Berfokus pada kemandirian ekonomi, tetapi sering tersendat oleh inflasi nan tinggi dan situasi politik nan tidak menentu.
  • Orde Baru: Membuka pintu bagi investasi asing dan menerapkan kebijakan ekonomi nan lebih liberal. Hal ini memacu pertumbuhan ekonomi, meski menimbulkan kesenjangan sosial.

4. Kebebasan Sipil

  • Orde Lama: Memberikan ruang nan relatif lenggang bagi pers dan kebebasan berpendapat, meski terkadang menimbulkan situasi tidak tertib.
  • Orde Baru: Menerapkan kontrol ketat terhadap media dan membatasi kebebasan berserikat serta menyuarakan pendapat.
  1. Militer
  • Orde Lama: Memiliki posisi militer nan berubah-ubah, termasuk keterlibatannya dalam bentrok internal.
  • Orde Baru: Memberikan peran besar pada militer melalui konsep dwifungsi, sehingga militer terlibat langsung dalam politik dan pemerintahan.

6. Pembangunan Infrastruktur

  • Orde Lama: Kurang konsentrasi pada pembangunan prasarana dasar secara menyeluruh.
  • Orde Baru: Memberikan perhatian besar terhadap pembangunan fisik, seperti pembangunan jalan, jembatan, dan akomodasi irigasi.

7. Pencapaian

  • Orde Lama: Berhasil mempertahankan kemerdekaan dan menjadi fondasi awal pembangunan nasional.
  • Orde Baru: Sukses membawa Indonesia pada masa stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi nan signifikan.

8. Kejatuhan

  • Orde Lama: Runtuh akibat tekanan politik, krisis ekonomi, dan bentrok internal.
  • Orde Baru: Berakhir setelah krisis moneter 1997, maraknya korupsi, dan gelombang tuntutan reformasi dari masyarakat.

Baik Orde Lama maupun Orde Baru mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun keberadaan Orde Baru menjadi pembelajaran krusial bagi Indonesia dalam membangun sistem pemerintahan nan lebih demokratis, stabil, dan berkeadilan di masa selanjutnya.

Penutup

Melalui kitab Rumah dengan pintu biru, penulis membujuk pembaca memandang lebih dalam gimana peristiwa besar dalam sejarah dapat membentuk perasaan, pikiran, dan kedewasaan seseorang. Kisah Tari mengajarkan kita untuk memahami beragam emosi nan muncul ketika hidup berubah secara drastis, belajar merespons tekanan dengan lebih bijak, serta menyadari sungguh pentingnya hubungan nan kuat dan penuh empati di tengah situasi nan tidak menentu. Buku ini dapat menjadi titik awal bagi siapa pun nan mau lebih mengenal diri melalui pengalaman nyata.

Buku Rumah dengan Pintu Biru karya Tari Lang ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya. Sebagai kawan untuk #TumbuhBersama, Gramedia siap memberikan info dan produk terbaik untuk mendampingi perjalanan membaca kamu. 

Rekomendasi Buku

1. Ken Arok & Ken Dedes

Ken Arok & Ken Dedes

button cek gramedia com

Mendadak Terdengar Jeritan Dari Dalam Bilik Agung. Dedes!”Yang Mulia Akuwu Mangkat! nan Mulia Akuwu Mangkat!”.

2. Bia dan Kapak Batu

Bia dan Kapak Batu

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Paskalina, Kosmas, dan Urbanus lahir di tengah pergeseran budaya tanah Papua. Saat tumang sagu dan ikan digantikan oleh kantong beras dan mi instan. Saat patung-patung sakral sudah berbobot mata uang. Saat busung lapar dan sarampa merenggut nyawa anak-anak kampung. Orang-orang berkulit terang datang membawa pandangan baru bagi Paskalina dan Kosmas. Karena beranggapan bahwa mereka jauh tertinggal, Paskalina dan Kosmas merasa kudu berlari mengejar para pendatang.

Namun, berbeda dengan kedua kawannya, Urbanus justru memilih tinggal di kampung. Saat Kosmas terbang ke ibu kota dan Urbanus berdiam merawat tradisi, Paskalina justru memilih jalan lain untuk melawan takdirnya sendiri. Apakah pilihan hidup mereka bisa membikin mereka memperkuat menjadi tuan di tanah sendiri?

3. Seperti Gerimis Merah di Auschwitz

Seperti Gerimis Merah di Auschwitz

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Rutha hidup tertolak. Di rumah dia kudu berhadapan dengan ibu tiri nan tidak menyukainya, ayah nan tidak membela. Di luar rumah, dia hidup dalam pelarian dari kejaran tentara Jerman. Rutha keturunan Yahudi dan kudu berhadapan dengan bengis dan tragisnya peperangan. Rutha mengisahkan apa nan terjadi di Auschwitz, kota nan oleh Hitler diubah sebagai konsentrasi pembantaian. Tempat menggantung, membunuh, membakar, dan menewaskan kurang-lebih 1.000.000 jiwa.

Seperti Gerimis Merah di Auschwitz juga menceritakan dengan getir gimana para wanita Berlin diperkosa Tentara Merah; gimana Hitler, Eva Braun, dan orang-orang Jerman lain memilih bunuh diri; serta gimana sepanjang waktu upaya menghapus trauma peperangan dilakukan. Melalui riset mendalam di Polandia, Italia, dan Jerman, Triyanto Triwikromo, pemeroleh hibah penelitian internasional untuk penulisan novel dari Literarisches Colloquium Berlin dan Robert Bosch Stiftung (Jerman) menggabungkan peristiwa sejarah, kisah liris-realis-magis, dan dongeng di bumi orang hidup dan meninggal ke dalam cerita cinta berapi-api Rutha dan Bimo.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia