Why Has Nobody Told Me This Before – Pernah nggak sih Anda berambisi ada “manual hidup” nan ngasih tahu langkah menghadapi overthinking, cemas, alias hari-hari nan rasanya berat tanpa argumen jelas?
Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku? (Why Has Nobody Told Me This Before?) adalah kitab pengembangan diri tentang kesehatan mental karya Julie Smith, seorang psikolog klinis asal Inggris. Buku ini menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan sehari-hari. Di dalamnya, penulis membahas beragam tantangan umum nan dialami banyak orang serta menawarkan solusi nan praktis dan mudah diterapkan.
Dalam ulasan nan ditulis Profesor Fiona Denney untuk jurnal Academy of Management Learning and Education, dia menyampaikan bahwa tujuan utama kitab ini membawa teknik dan pendekatan nan biasa digunakan Julie Smith dalam terapi ke pembaca nan mungkin belum mempunyai akses ke psikoterapi. Buku ini tidak hanya menawarkan faedah nyata, tetapi juga menggambarkan kondisi bumi saat ini serta kemauan banyak orang untuk hidup dengan lebih tenang dan bermakna.
Edisi Bahasa Indonesia kitab ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 24 Februari 2025 dengan ketebalan 342 halaman. Di bawah ini, Gramin sudah merangkum profil penulis, serta sinopsis, serta ulasan kelebihan dan kekurangannya sebagai bahan pertimbangan Anda sebelummembaca. Jangan sampai terlewat, ya!

Profil Dr. Julie Smith – Penulis Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku?
Dr. Julie Smith adalah seorang psikolog klinis nan telah berkarya lebih dari sepuluh tahun di bagian profesionalnya. Ia juga dikenal sebagai pendidik daring dan figur terkenal di media sosial dengan total pengikut mencapai lebih dari tiga juta orang. Dr. Julie mulai membikin akun TikTok untuk membuka akses nan lebih luas terhadap materi edukasinya; kontennya di TikTok dan IG telah meraih lebih dari dua puluh juta suka. Ia pernah tampil dalam dua movie produksi BBC, serta datang di BBC Breakfast, CNN International, dan Radio 5 Live. Selain itu, tulisannya juga dimuat di The Mail on Sunday, The Evening Standard, dan The Daily Telegraph.
Sinopsis Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku?
Saat Bastian tanpa sengaja menemukan sebuah kitab tua berjudul Kisah Tanpa Akhir, dia mendapati dirinya terseret masuk ke bumi khayalan berjulukan Fantasia dan apalagi menjadi bagian krusial dari cerita tersebut. Dunia ajaib nan penuh misteri itu sedang menghadapi ancaman besar nan dapat berkapak pada bumi manusia, dan Bastian terpilih sebagai sosok nan kudu menyelamatkannya. Ia berjumpa dengan beragam makhluk tak terduga dan melewati situasi nan membuatnya bingung sekaligus terpukau. Pertanyaannya, mampukah Bastian menembus pemisah antara bumi nyata dan khayalan untuk menyelamatkan Fantasia?
Kelebihan dan Kekurangan Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku?
Pros & Cons
Pros
- Menjadi kawan nan tak menghakimi.
- Menambah wawasan pembaca.
- Reflektif dan praktikal.
- Gaya bahasa mudah dipahami.
- Ditulis oleh profesional.
- Membantu mengenal masalah pada diri.
Cons
- Membuat jenuh.
- Tidak banyak memberi info baru
Pros & Cons
Pros
- Menjadi kawan nan tak menghakimi.
- Menambah wawasan pembaca.
- Reflektif dan praktikal.
- Gaya bahasa mudah dipahami.
- Ditulis oleh profesional.
- Membantu mengenal masalah pada diri.
Cons
- Membuat jenuh.
- Tidak banyak memberi info baru
Kelebihan Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku?
Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku? karya Dr. Julie Smith mempunyai banyak sekali kelebihan nan membikin kitab ini wajib sekali untuk anak miliki dan baca.
- Menjadi kawan nan tak menghakimi
Jika Anda mau menemukan referensi nan terasa seperti berbincang dengan seorang kawan nan mendengarkan tanpa menghakimi, kitab ini bisa menjadi pilihan tepat. Dr. Julie menggambarkan dinamika emosi manusia nan naik turun, mulai dari suasana hati nan berubah, rasa takut keluar dari area nyaman, kehilangan motivasi, hingga saat-saat ketika kita merasa capek dan melakukan kesalahan. Saat membaca, pembaca seolah memandang cermin diri sendiri dan menemukan solusi nan ditawarkan dengan hangat.
- Menambah wawasan pembaca
Julie Smith bisa merangkai kisah, saran, fakta, dan penjelasan ilmiah dengan sangat menyatu. Setiap bab membikin pembaca memahami bahwa pengalaman hidup sering kali sejalan dengan pengetahuan alias teori tertentu. Hal ini menambah wawasan sekaligus meningkatkan kesadaran diri pembaca.
- Reflektif dan praktikal
Isi kitab ini sangat aplikatif. Hampir setiap bab menyediakan pertanyaan reflektif dan tantangan mini nan bisa langsung dicoba pembaca. Penulis berulang kali menekankan pentingnya journaling sebagai langkah sederhana namun efektif untuk memproses emosi dan pikiran.
- Gaya bahasa mudah dipahami
Dengan bahasa nan jelas dan sederhana, kitab ini membantu pembaca memahami teori melalui contoh nan relevan. Pertanyaan-pertanyaan nan disediakan juga membikin pembaca lebih mudah melakukan eksplorasi diri dan memahami kondisi pribadi.
- Ditulis oleh profesional
Sebagai psikolog berilmu lebih dari sepuluh tahun, Dr. Julie Smith menyajikan materi berasas praktik dan riset nan mendalam. Ia dikenal melalui konten ilmu jiwa nan mudah dimengerti sehingga wajar jika pembaca mempercayai info dalam bukunya.
- Membantu mengenal masalah pada diri
Walaupun bukan pengganti terapi, kitab ini dapat menjadi langkah awal bagi pembaca nan belum terbiasa mengidentifikasi emosi, menerima kesedihan, dan memahami kondisi jiwa mereka. Pertanyaan reflektif di setiap akhir bab membantu pembaca menuliskan apa nan dipikirkan sehingga proses refleksinya menjadi lebih nyata dan terarah.
Kekurangan Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku?
Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku? masih mempunyai perihal nan dinilai menjadi kekurangan dalam menikmati karya nan satu ini.
- Membuat jenuh
Isi kitab ini sebenarnya sangat baik, namun beberapa pembaca merasa penyampaiannya condong monoton. Membacanya dapat terasa seperti mendengarkan nasihat panjang nan bersuara datar sehingga kurang menggugah. Beberapa orang menilai kitab ini bakal lebih menarik jika dilengkapi ilustrasi visual nan segar, lantaran hanya mengandalkan sketsa nan dinilai sudah kurang sesuai dengan tren saat ini.
- Tidak banyak memberi info baru
Banyak pembaca juga merasa bahwa sebagian besar info dalam kitab ini pernah mereka dengar sebelumnya. Bagi mereka, kitab ini lebih berfaedah sebagai pengingat daripada sumber pengetahuan nan betul-betul baru. Meski begitu, nyaris semua pembaca sepakat bahwa isi kitab ini tetap krusial dan bermanfaat, terutama bagi mereka nan memerlukan dorongan untuk kembali menjaga kesehatan mental.
Makna, Jenis, Penyebab, dan Dampak Stres
Dalam kitab Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku?, Dr. Julie Smith membahas tentang stres. Grameds mungkin merasa pembahasan ini sudah terlalu sering didengar alias ditemukan. Namun, kenyataannya banyak orang nan tetap sering salah dalam memaknai stres.
Stres merupakan respons bentuk dan emosional ketika seseorang menghadapi tekanan alias tantangan nan membuatnya merasa tegang, kewalahan, alias kesulitan mengendalikan keadaan. Kondisi ini dapat muncul dari beragam faktor, baik nan berasal dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar, dan bisa memunculkan beragam indikasi bentuk serta mental. Meski dalam beberapa situasi stres bisa menjadi pendorong nan positif, stres nan terlalu kuat alias berjalan terlalu lama dapat menimbulkan akibat negatif bagi kesehatan tubuh dan pikiran.
Secara umum, stres terbagi menjadi dua jenis, ialah stres akut dan stres kronis. Stres akut adalah stres jangka pendek nan biasanya mereda dengan sigap setelah penyebabnya berlalu, seperti rasa resah sebelum tampil alias berbincang di depan umum. Sementara itu, stres kronis merupakan stres jangka panjang nan dapat berjalan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan akibat masalah nan tidak kunjung terselesaikan, seperti persoalan finansial alias bentrok dalam pernikahan.
Penyebab stres bisa beragam macam, beberapa di antaranya nan paling sering ditemukan adalah sebagai berikut.
- Kesenjangan antara angan dan kenyataan: Merasa tidak sesuai harapan.
- Tuntutan berlebihan: Terlalu banyak pekerjaan alias aktivitas tanpa rehat nan cukup.
- Perasaan cemas: Khawatir bakal hasil nan bakal dicapai.
- Ketidakpastian: Merasa tidak percaya dengan masa depan.
- Tekanan dari diri sendiri: Sifat perfeksionis.
- Masalah sosial ekonomi: Seperti di-PHK.
Dampak stres rupanya tidak hanya negatif saja, lho. Kamu bisa mendapatkan akibat positif (eustress) dari stres dalam pemisah wajar nan dapat memotivasi, seperti membantu menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu alias meningkatkan fokus. Untuk akibat negatif (distress), stres nan berlebihan dapat menimbulkan emosi tidak nyaman, kewalahan, cemas, dan resah nan dapat merusak kesehatan mental dan bentuk jika berkelanjutan. Gejala bentuk nan mungkin diakibatkan stres adalah pusing, sakit kepala, mual, jantung berdebar, gangguan tidur, nyeri otot, dan gemetar. Gejala emosi nan menjadi akibat dari stres adalah frustrasi, gusar, perubahan suasana hati, bingung, cemas, dan depresi.
Penutup
Melalui kitab Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku?, penulis membujuk kita untuk lebih memahami dan menerima setiap emosi nan muncul, belajar mengendalikan suasana hati serta reaksi terhadap beragam situasi, baik nan terduga maupun nan datang tiba-tiba, dan membangun hubungan nan lebih sehat dengan orang lain. Isi kitab ini dapat menjadi langkah awal bagi siapa pun nan mau mulai mengenal diri, lantaran pembahasannya praktis, singkat, dan disampaikan dengan langkah nan tidak menimbulkan pemicu berlebihan.
Buku Mengapa Tidak Pernah Ada nan Memberitahuku? karya Dr. Julie Smith ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya. Sebagai kawan untuk #TumbuhBersama, Gramedia siap memberikan info dan produk terbaik untuk mendampingi perjalanan membaca kamu.
Rekomendasi Buku
1. Anomali


Bagaimana jika dalam kehidupan nan nyaris tanpa persoalan besar, tiba-tiba kau mendapat kejutan memilukan? Bagaimana jika tubuhmu rupanya tidak dikehendaki oleh jiwamu? Apa nan kehidupan ini inginkan darimu? Apakah kelahiranmu adalah kecelakaan takdir?
Kau merasa semua perihal di bumi ini melawanmu. Bahkan Tuhan seolah tidak berpihak padamu. Kau bingung. Ingin berontak. Itulah nan dialami wanita berjulukan Elnov. Dalam usia belia, dia kudu menghadapi persekongkolan orang-orang dewasa. Di tengah situasi karut marut, dia dinyatakan sebagai ODB (Orang dengan Bipolar) nan menghadapi persoalan mental dengan dua kutub konflik, ialah ledakan kebahagiaan dan langit depresi nan kelam.
2. Pulih dari Trauma: Berkenalan dengan Trauma Processing Theory


Ketika mendengar kata trauma, apa nan ada dalam akal kita? Suatu kejadian nan tidak bakal lenyap sehingga kudu diterima dengan rasa sakit? Suatu keadaan nan membikin orang terpenjara seumur hidup? Sebenarnya, ini penggambaran nan tidak tepat dari trauma. Trauma tersimpan dalam memori, dan memori ini nan menjadi kacamata dalam memersepsi realitas. Trauma bukan sebatas kejadiannya, melainkan respons atas kejadian tersebut nan kemudian muncul dalam reaksi keseharian.
Jika trauma bicara tentang kejadiannya, tidak ada nan bisa diperbaiki lagi. Jika trauma adalah memori nan tersimpan, sebenarnya banyak nan bisa kita lakukan. Kita bisa menolong diri nan terjebak di momen trauma tersebut sehingga dia tidak perlu terus menderita dalam kejadian tersebut. Kita bisa memproses ulang memori tadi dengan cara-cara nan saintifik sehingga kita tidak perlu membawa momen itu seumur hidup. Trauma Processing Therapy (TPT) adalah strategi nan dituliskan dalam kitab ini untuk membantu kita memulihkan diri dari trauma.
3. Kembali Bahagia: Fondasi Pemikiran dalam Menguraikan Trauma nan Dibentuk dari Kisah-Kisah di Ruang Sesi


Sempat mengalami depresi dan berulang kali mau mengakhiri hidup, empat belas tahun lamanya Rheo mencoba beragam langkah dan menghabiskan miliaran rupiah untuk menemukan kembali kebahagiaan dalam dirinya. Kini Rheo merupakan salah satu praktisi nan paling direkomendasikan untuk mengubah karakter serta menghilangkan fobia dan trauma masa lalu. Dia juga sukses menciptakan sistem nan merevolusi kebahagiaan jiwa.
Buku nan berisi kisah orang-orang nan berupaya menemukan kebahagiaan mereka ini bukan sekadar teori, melainkan hasil pemikiran mendalam, praktik berkepanjangan, trial and error, serta jawaban atas puzzle bentrok jiwa antara pikiran dan emosi nan tidak terjawab selama 146 tahun lebih manusia mengenal pengetahuan kejiwaan.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·