Memoar 70 Tahun Arief Hidayat – Di kembali beragam putusan konstitusional nan menentukan arah kerakyatan Indonesia, nama Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. kerap datang sebagai sosok sentral. Ia dikenal sebagai akademisi sekaligus pengadil konstitusi dengan rekam jejak panjang dalam bumi norma tata negara.
Sebelum duduk di Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat merupakan Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan pernah memimpin fakultas tersebut sebagai dekan. Selama masa pengabdiannya di MK, dia terlibat dalam sejumlah perkara penting, mulai dari sengketa hasil Pemilihan Presiden 2024 hingga pengetesan Undang-Undang Pemilu mengenai pemisah usia calon presiden dan wakil presiden.
Menjelang masa pensiunnya pada 2026, DPR RI telah menyepakati Inosentius Samsul sebagai penggantinya. Perjalanan hidup dan pengabdian Arief Hidayat kemudian dirangkum dalam kitab Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga nan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada 30 Desember 2025. Dengan ketebalan 328 halaman, kitab ini menjadi refleksi atas dedikasi dan kontribusinya dalam pengembangan norma konstitusi di Indonesia.
Profil Suhartono, Sonya Hellen Sinombor, Susana Rita – Penulis Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga
Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga ditulis oleh tiga wartawan senior Harian Kompas nan mempunyai latar belakang kuat dalam liputan hukum, politik, dan humaniora.
Suhartono
Suhartono merupakan wartawan senior Harian Kompas dengan pengalaman panjang dalam meliput isu-isu nasional. Fokus peliputannya banyak berangkaian dengan aktivitas di Istana Kepresidenan dan beragam lembaga negara. Melalui karya jurnalistik dan penulisan biografi, dia kerap merekam perjalanan serta kiprah tokoh-tokoh krusial Indonesia.
Sonya Hellen Sinombor
Sonya Hellen Sinombor adalah wartawan Kompas yang meletakkan perhatian besar pada rumor sosial, kewenangan asasi manusia, dan perlindungan anak. Ia pernah menerima penghargaan internasional Hassan Wirajuda Award 2020 berkah liputan investigatifnya mengenai praktik pengantin pesanan. Selain menulis, dia juga aktif mendorong kesadaran publik tentang etika jurnalistik dan pentingnya empati terhadap korban kekerasan.
Susana Rita (Susana Rita Sulistyawati)
Susana Rita Sulistyawati dikenal sebagai wartawan Harian Kompas nan secara unik mengulas rumor hukum. Ia mempunyai reputasi kuat berkah keberaniannya mengungkap beragam kasus besar, termasuk praktik mafia peradilan. Peliputannya nan intens di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung membuatnya mempunyai pemahaman mendalam tentang dinamika norma konstitusi di Indonesia.
Sinopsis Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga


Kisah perjalanan Arief Hidayat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2014 hingga 2018 menjadi gambaran pengabdian dan sumbangsihnya bagi bumi norma di Indonesia. Dinamika hidup dan pekerjaan Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang ini menghadirkan inspirasi sekaligus referensi bagi pembaca, serta memberi kontribusi krusial bagi perkembangan pengetahuan norma di Tanah Air.
Buku Memoar Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga tidak hanya menuturkan perjalanan hidup Arief Hidayat nan hingga sekarang tercatat sebagai Hakim Konstitusi dengan jumlah perkara sengketa hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden terbanyak nan diperiksa, diadili, dan diputus. Karya ini juga memuat kumpulan disertasi dan pidato pengukuhannya sebagai ahli di bagian hukum, serta beragam karya ilmiah milik sang istri, kedua anak, dan menantunya.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga
Pros & Cons
Pros
- Menyisipkan nilai keluarga.
- Rekam jejak lengkap.
- Sudut pandang berlapis.
- Ditulis berasas riset mendalam.
- Dokumen sejarah dan edukasi.
Cons
- Nuansa subjektivitas nan kuat.
Kelebihan Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga
Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga ini mempunyai beberapa kelebihan nan membuatnya menjadi kitab nan layak untuk dibaca banyak orang.
- Menyisipkan nilai keluarga
Buku ini tidak hanya membahas perjalanan pekerjaan norma Arief Hidayat semata, tetapi juga mengangkat tradisi ilmiah nan tumbuh dalam keluarganya.
Pembahasan ini memberi gambaran gimana nilai-nilai akademik ditanamkan sejak awal dan berkedudukan dalam membentuk integritas serta langkah seseorang di ruang publik.
- Rekam jejak lengkap
Perjalanan Arief Hidayat didokumentasikan secara runtut, mulai dari kiprahnya sebagai akademisi di Universitas Diponegoro hingga perannya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi.
Penyajian ini sangat membantu pembaca nan mau memahami dinamika dan perkembangan norma tata negara di Indonesia melalui sosok pelakunya.
- Sudut pandang berlapis
Keterlibatan tiga wartawan dengan latar belakang dan skill berbeda menghadirkan kedalaman tersendiri dalam kitab ini.
Ketajaman kajian hukum, kekuatan narasi personal, dan pendekatan humanis berpadu sehingga kisah nan disajikan terasa utuh dan tidak satu dimensi.
- Ditulis berasas riset mendalam
Sebagai karya nan digarap oleh wartawan senior Harian Kompas, kitab ini disusun berasas riset nan mendalam dan teliti.
Gaya penulisan nan naratif berpadu dengan kecermatan data, menjadikan tulisan dalam karya ini kaya bakal info dan juga nyaman untuk diikuti.
- Dokumen sejarah dan edukasi
Buku ini berfaedah sebagai arsip sejarah dan bahan pembelajaran. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi, khususnya di lingkungan norma konstitusi, sehingga relevan bagi akademisi, praktisi hukum, maupun pembaca umum nan mau menambah wawasan.
Kekurangan Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga
Meskipun kitab ini mempunyai banyak sekali kelebihan, bukan berfaedah kitab ini tidak mempunyai kekurangan. Berikut perihal nan terasa tetap mengganjal dari kitab ini:
- Nuansa subjektivitas nan kuat
Sebagai sebuah memoar, penuturan kisah condong menyoroti pencapaian dan sisi positif tokoh nan dibahas.
Akibatnya, pembaca mungkin tidak menemukan ulasan kritis nan mendalam dan sepenuhnya objektif terhadap kebijakan alias keputusan kontroversial nan pernah diambil selama masa jabatannya.
Peran Arief Hidayat di Mahkamah Konstitusi
Arief Hidayat dikenal mempunyai pengaruh kuat di Mahkamah Konstitusi, baik sebagai ahli filsafat hukum, pemimpin lembaga, maupun figur nan kerap menyuarakan pandangan kritis dalam perkara-perkara strategis. Berikut sejumlah aspek utama nan mencerminkan pengaruhnya:
- Visi Peradilan Berwatak Pancasila
Saat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat memperkenalkan pendapat peradilan nan memancarkan nilai Ketuhanan. Ia secara konsisten menekankan bahwa putusan MK tidak boleh berakhir pada aspek legal umum semata; tetapi juga kudu mencerminkan nilai moral, religiusitas, dan semangat Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Penjaga Checks and Balances Melalui Dissenting Opinion
Arief Hidayat dikenal lantang menyampaikan dissenting opinion dalam sejumlah perkara penting. Pada sengketa hasil Pemilihan Presiden 2024, dia secara terbuka mengemukakan pandangannya mengenai adanya pelanggaran pemilu nan berkarakter terstruktur dan sistematis akibat kombinasi tangan kekuasaan.
Sikap ini menegaskan komitmennya dalam menjaga independensi lembaga peradilan dari pengaruh eksekutif.
- Kritik Terhadap Kemunduran Demokrasi
Menjelang masa purna tugasnya pada 2026, Arief Hidayat kerap menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi kerakyatan dan penegakan norma di Indonesia.
Ia menilai terjadi kecenderungan kemunduran nan ditandai dengan penumpukan kekuasaan pada pihak tertentu, nan dianggap menyimpang dari semangat dan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945.
- Reformasi Sistem Pemilu
Dalam pandangannya, Arief Hidayat mendorong pertimbangan terhadap sistem pemilu proporsional terbuka. Ia mengusulkan penerapan sistem terbuka terbatas sebagai pengganti untuk meningkatkan kualitas representasi politik dan memperkuat sistem kerakyatan di masa mendatang.
- Kontroversi Etika
Pengaruh Arief Hidayat juga tidak lepas dari sejumlah catatan kritis mengenai etika. Ia pernah dijatuhi hukuman etik setelah terbukti melakukan pertemuan dengan politisi, serta dinilai melanggar etika lantaran pernyataannya di ruang publik nan dianggap menurunkan wibawa Mahkamah Konstitusi.
Memasuki tahun 2026, Arief Hidayat tetap dipandang sebagai figur pengadil senior nan berani mengambil sikap berbeda dari arus utama demi menjaga martabat konstitusi, menjelang purna tugasnya nan dijadwalkan pada 3 Februari 2026.
Penutup
Mahkamah Konstitusi selama ini menumbuhkan budaya literasi melalui tradisi publikasi kitab sebagai upaya menghidupkan semangat membaca dan menulis di lingkungan lembaga nan berdomisili di Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 6.
Di kembali tradisi tersebut tersimpan pesan krusial bahwa aktivitas membaca dan menulis bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian nan menyatu dengan tanggung jawab dan kegunaan seorang Hakim Konstitusi. Dalam konteks purna hormat Prof. Arief Hidayat, semangat literasi itu tetap dirawat dan dilanjutkan, menegaskan bahwa warisan intelektual tidak berakhir pada masa jabatan, tetapi terus hidup melalui karya dan pendapat nan ditinggalkan.
Seperti nan disampaikan oleh Prof. Dr. Saldi Isra, S.H., tradisi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan lembaga peradilan konstitusi juga bertumpu pada ketekunan berpikir, menulis, dan membaca sebagai fondasi penegakan keadilan.
Buku Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga karya Suhartono, Sonya Hellen Sinombor, Susana Rita ini menjadi perwujudan nyata dari niat baik Mahkamah Konstitusi membangun budaya literasi. Bagi Anda nan tertarik, kitab ini bisa Anda dapatkan di Gramedia.com ya!
Gramin juga sudah menyiapkan buku-buku lainnya nan tak kalah menarik. Yuk langsung saja dapatkan buku-buku terbaik hanya di Gramedia.com! Sebagai kawan untuk mendukung perjalananmu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.
Penulis: Gabriel
Rekomendasi Buku
Babad Alas


Memulai memimpin Kota, seumpama masuk ke dalam rimba belantara nan dihuni bermacam mahluk dengan segala karakternya. Saya kemudian terkenang lakon Babad Alas dalam kisah Mahabarata. Tentang Bima dan para ksatria Pandawa membuka rimba Wanamarta nan dikenal angker.
Buku ini adalah ruang refleksi dari cerita kepemimpinan selama 10 tahun di Kota Bogor. Tak hanya narasi tentang keberhasilan, tapi juga renungan tentang kegagalan. Buku ini adalah tentang proses perjalanan kepemimpinan. Tidak selamanya strategi dan strategi nan dipilih berujung pada keberhasilan. Manakala itu terjadi, maka refleksi dan kontemplasi menjadi bab krusial nan kudu dilewati lantaran pembelajaran adalah bagian dari perjalanan kepemimpinan.
Jalan Keadilan Sumitro Djojohadikusumo


Buku ini merupakan kumpulan pemikiran Prof. Sumitro Djojohadikusumo nan ditafsir ulang dengan menggunakan perspektif keadilan. Para penulis dalam kitab ini berupaya untuk membaca kembali naskah-naskah nan pernah ditulis oleh Sumitro untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan kerangka teoritik keadilan.
Perspektif keadilan dipilih lantaran cakupannya nan lebih luas serta bisa menjangkau dimensi-dimensi lain selain soal ekonomi, nan selama ini seperti membatasi keluasan alam berfikir Sumitro. Perspektif keadilan juga dipilih untuk memperlihatkan konsistensi pemikiran Sumitro mengenai perjuangannya dalam mewujudkan satu tatanan sosial politik nan ideal bagi Bangsa Indonesia.
Ekonomi Indonesia (2025)


Buku Ekonomi Indonesia: Dalam Lintasan Sejarah ini spesial dari sisi cakupan historisnya nan panjang, ialah sejak era Belanda hingga kini. Runtut, detail, dengan metodologi deskriptif dan analitis nan mudah dan sederhana.
“Prof. Boediono adalah bagian krusial dari tiga dasawarsa perekonomian Indonesia, terhitung dari 1980 hingga 2014. Beliau ikut membikin lintasan sejarah siklus perekonomian Indonesia dan menuliskan tinta emas perjalanan perekonomian Indonesia secara orisinal dan faktual. Pantas menjadi rujukan utama mahasiswa, dosen, peneliti, pelaku dan pengamat perekonomian Indonesia, kitab ini bakal menjadi bagian investasi pengetahuan bagi generasi mendatang.”
-Anggito Abimanyu, Ph.D., Dosen Universitas Gadjah Mada
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·